Ruang Publik

Perhatian yang Menjerumuskan

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari, S. Pd

“Silahkan membaca artikel yang telah Ibu bagikan di atas. Lalu, di buku catatan, tolong buat ringkasan poin-poin penting dari artikel tersebut. Ringkasan ini tidak perlu dikumpulkan karena akan langsung kita diskusikan di ruang percakapan 30 menit lagi.” Begitulah bunyi salah satu pesan yang saya kirim di grup Telegram pada kegiatan belajar mengajar secara daring beberapa hari yang lalu.

Tidak ada yang aneh dengan petunjuk belajar tersebut. Saya membuatnya sejelas dan sedetail mungkin dengan maksud agar siswa mudah untuk mengikutinya. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Sering sekali saya justru mendapat respon di luar perkiraan.

“Tugasnya dikumpulkan dimana? Ditulis dimana ringkasannya, Bu? Kapan batas waktu pengumpulan?” dan beberapa pertanyaan lain. Respon dari siswa ini tentu membuat saya terheran-heran. Jika hanya terjadi satu atau dua kali, mungkin dapat dimaklumi.

Namun, ketika respon serupa muncul berulang kali dari siswa di kelas-kelas yang lain, saya pun mulai bertanya-tanya. Apakah instruksi yang saya berikan memang begitu sulit dipahami sehingga siswa harus menanyakan hal-hal yang sudah jelas jawabannya?

Sebelumnya, fenomena ini tidak begitu mendapat perhatian saya. Mungkin karena seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka sehingga semua instruksi disampaikan secara lisan. Siswa pun cukup mendengar dengan seksama apa yang guru ucapkan.

Keadaannya jauh berbeda di masa pandemi. Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara virtual sehingga penyampaian secara lisan pun menjadi sangat minim, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Hanya ketika melakukan video conference dan membuat video pembelajaran saja guru dapat tetap menyampaikan instruksi dan materi belajar secara lisan.

Namun, melihat kondisi siswa di sekolah, tidak mungkin rasanya saya melakukan video conference setiap hari.  Kebutuhan pulsa data siswa menjadi salah satu alasannya.

Sebagai akibatnya, sebagian besar instruksi belajar dan penjelasan materi saya sampaikan secara tertulis, dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dicerna oleh siswa.

Rupanya, hal ini justru menimbulkan permasalahan lain. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu justru muncul. Para siswa menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah tertulis dengan jelas pada pesan yang saya kirim.

Ada dua kemungkinan. Pertama, hal itu terjadi karena siswa tersebut malas dan tidak mau membaca. Mereka mungkin membaca sekilas, entah satu atau dua kalimat awal dari pesan yang masuk, lalu terburu bernafsu untuk bertanya kepada guru.

Kedua, jangan-jangan para siswa ini tidak paham dengan apa yang dibacanya. Bukankah sudah sering kita menjumpai seorang siswa membaca sebuah bacaan dan ketika diminta mengulang kembali maksud dari bacaan tersebut mereka tidak dapat melakukannya? Maka tidak mengherankan jika UNESCO menyatakan bahwa tingkat literasi bangsa kita tergolong memprihatinkan.

Terlepas dari apapun penyebabnya, sebagai guru saya patut merasa resah. Bagaimana saya dapat mengharapkan siswa-siswi itu memahami intisari dari sebuah artikel, atau memahami sudut pandang yang diambil seorang penulis, jika mengikuti instruksi sederhana yang sudah sangat jelas saja mereka gagal?

Masalah literasi ini memang sudah bukan hal baru. Namun, tetap saja saya dibuat heran olehnya. Padahal, jika kita lihat lagi, literasi sebenarnya lebih dari sekedar urusan membaca dan memahami bacaan.

Di era disrupsi seperti ini, literasi menjadi jauh lebih kompleks dari itu. Literasi merupakan sebuah proses saling terkait antara memahami sebuah permasalahan, situasi dan kondisi, lalu menganalisis dan mengolah informasi tersebut untuk menghasilkan sebuah solusi. Inilah yang kita harapkan untuk dikuasai oleh peserta didik.

Dari penjelasan di atas, maka jelas bahwa saat ini kemampuan membaca dan menulis saja kurang memadai. Semestinya kita sudah berada dalam tingkatan dimana sebagai individu terpelajar, kita mampu melakukan tindakan-tindakan efektif untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi secara kritis dan kreatif.

Namun, sekali lagi, bagaimana kita bisa merumuskan aksi jika memahami sebuah teks sederhana saja masih terseok-seok?

Awalnya, ketika menghadapi pertanyaan siswa seperti di atas, saya menjawabnya dengan penuh kesabaran. Namun, setelah beberapa saat, saya merasa cara tersebut justru tidak mendidik.

Ini sama halnya dengan menyuapi murid-murid itu secara terus menerus, alih-alih memberinya sendok untuk belajar makan dengan tangan sendiri. Jika berlangsung lama, tentu hal ini bukan hanya merepotkan guru, namun berpotensi merugikan siswa itu sendiri.

Kegiatan belajar mengajar menjadi tidak efisien karena guru harus meladeni pertanyaan-pertanyaan tidak perlu dari siswa. Sehingga, durasi waktu dua kali jam pelajaran (45 menit) gagal dimaksimalkan karena adanya distraksi tadi.

Sedangkan dari sisi siswa, mereka akan dirugikan secara jangka panjang. Karena terbiasa ‘disuapi’, kemampuan berpikir kritis dan kreatif menjadi kurang terasah. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang minim keterampilan untuk mencipta dan berkarya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengubah pendekatan. Saya bertekad jika masih ada siswa yang menanyakan hal-hal remeh yang sudah jelas jawabannya, saya cukup menjawab dengan tiga kata; silahkan dibaca instruksinya.

Mungkin terdengar sedikit kejam, tapi menurut saya kebiasaan seperti ini harus mulai dibiasakan sejak dini. Melatih pola pikir kritis dan kreatif memang tidak instan, kita bisa mengawalinya dari hal-hal kecil semacam ini.

Saya memang sempat ragu, apakah langkah ini sudah tepat? Lalu saya pun teringat kedua putra dan putri di rumah. Ketika menemani mereka belajar, Bara dan Aurora  terkadang bertanya tentang hal yang jawabannya sebenarnya sudah jelas terpampang.

Jika demikian, biasanya saya akan mengembalikan pertanyaan tersebut dengan memberi sedikit petunjuk bahwa jawaban itu sudah ada pada bacaan. Kemudian bersama kami akan menelusuri kembali bacaan yang dimaksud.

Intinya, saya tidak ingin mereka mendapat jawaban dengan mudah. Jika saya bisa menerapkannya di rumah, kenapa tidak kepada siswa dan siswi di sekolah?

Hikmah literasi ini lah yang saya dapat dari pandemi. Meningkatnya aktivitas mandiri selama belajar dari rumah menuntut siswa untuk lebih banyak membaca, memahami dan menganalisa.

Itu sebabnya mereka harus dibantu mengembangkan keterampilan yang dapat menunjang munculnya perilaku tersebut. Literasi sederhana ini bisa kita latih dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengolah informasi secara mandiri.

Memberikan jawaban kepada setiap pertanyaan anak memang terlihat seperti wujud dari perhatian dan kasih sayang. Namun di saat yang sama, kita juga telah banyak belajar bahwa terkadang kasih sayang yang berlebih justru dapat menjerumuskan. (*)

*) Penulis adalah guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah