Headline

Perekonomian Kaltara Tetap Tumbuh

Proyek Pembangunan – Tampak kegiatan pada sektor lapangan usaha konstruksi di Kabupaten Bulungan. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Di Tengah Pandemi, Kinerja Akumulatif Semester I Naik 0,8 Persen

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Perekonomian Kalimantan Utara berdasarkan lapangan usaha, tercatat masih bisa tumbuh positif saat pandemi covid-19. Meskipun pertumbuhan ekonomi  triwulan II menurun apabila dibandingkan tahun sebelumnya, tapi pertumbuhan ekonomi secara akumulatif semester I tumbuh positif.

Dari data yang dihimpun Koran Kaltara dalam laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, diketahui Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) pada semester I tahun 2020 mencapai Rp30,57 triliun. Nilai ini lebih tinggi Rp0,27 triliun dari PDRB semester I tahun 2019 sebesar Rp30,30 triliun.

Sebagaimana diketahui, terdapat 17 sektor lapangan usaha yang dikelompokkan dalam data pertumbuhan ekonomi. Pada semester I tahun ini, tercatat 11 sektor lapangan usaha masih mampu tumbuh positif. Semisal di antaranya sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dan sektor konstruksi, sektor jasa keuangan serta jasa asuransi.

Adapun, enam lapangan usaha yang terkontraksi negatif mulai dari sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum, sektor real estate dan sektor jasa perusahaan.

“Walaupun terjadi penurunan ekonomi di triwulan II, tetapi jika diakumulasikan secara keseluruhan di semester I, ekonomi Kaltara masih tumbuh positif sebesar 0,81 persen dibandingkan semester I 2019,” kata Kepala BPS Kaltara, Eko Marsoro dalam Siaran Pers Laporan Pertumbuhan Ekonomi Kaltara Triwulan II – 2020, Rabu (5/8/2020).

Dari lima provinsi di regional Kalimantan, tercatat kinerja perekonomian Kaltara di semester I ini menempati urutan tertinggi. Kemudian disusul Kalimantan Selatan yang mampu tumbuh 0,67 persen. Sementara provinsi lainnya mengalami kontraksi negatif. Seperti Kalimantan Barat yang turun 0,31 persen, Kalimantan Tengah yang turun 0,11 persen dan Kalimantan Timur yang turun 2,10 persen.

Dalam paparannya, Eko lebih menjabarkan sejumlah catatan peristiwa ekonomi yang terjadi sepanjang April sampai Juni. Pada skala periode yang lebih sempit ini, disampaikan bahwa sebagian besar lapangan usaha mengalami kontraksi negatif. Ini berbanding terbalik jika melihat capaian sepanjang semester I 2020.  Apabila dibandingkan periode sama tahun 2019, perekonomian di Kaltara pada triwulan II mengalami penurunan sebesar 3,35 persen.

Pada sektor pertanian, terjadi penurunan produksi pada sebagian besar komoditi pertanian. Terutama dari jenis tanaman pangan. Kondisi ini dipengaruhi telah berakhirnya masa panen petani di triwulan II 2020.

“Produksi juga menurun pada subsektor pertanian lainnya. Seperti misal pada peternakan dan perikanan. Beberapa penyebab, antara lain daya beli masyarakat terhadap daging yang rendah akibat pandemi covid-19. Selain itu, harga udang dan rumput laut juga terus mengalami penurunan karena permintaan lesu,” jabar Eko.

Lanjut dia, kondisi serupa juga berlangsung pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Kontraksi atau penurunan pada sektor ini disebabkan permintaan batu bara dari negara tujuan ekspor yang melemah. Selain itu, produksi komoditi penggalian lain juga menurun karena minimnya pengerjaan proyek konstruksi.

“Dibandingkan triwulan II tahun 2019, ekspor batu bara menurun 9,72 persen. Sedangkan jika dibandingkan triwulan I 2020, menurun 27,26 persen. Ini tentu berpengaruh terhadap nilai tambah PDRB di sektor pertambangan,” ujarnya.

Beralih ke industri pengolahan, mayoritas sub sektor di lapangan usaha ini mengalami penurunan. Hanya industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO) saja yang berhasil catat pertumbuhan positif. Kondisi serupa juga terjadi pada lapangan usaha pengadaan listrik dan gas. Selama triwulan II 2020, volume distribusi listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan penyediaan gas masih tumbuh positif.

Pada sektor lainnya, diketahui lapangan usaha konstruksi juga masih lesu di triwulan II 2020. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya pergeseran anggaran untuk penanganan covid-19.

“Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia, pengadaan semen mengalami kontraksi. Berikut juga produk material lain sebagai bahan baku konstruksi,” ungkap Eko.

Di samping itu, sektor transportasi dan pergudangan juga mengalami hal serupa. Kondisi ini dipengaruhi masih adanya kebijakan pembatasan mobilisasi masyarakat di triwulan II 2020. Sejalan dengan itu, sektor akomodasi dan penyediaan makan serta minum (restaurant) juga mengalami hal yang sama.

“Pada sektor transportasi dan pergudangan, jumlah penumpang transportasi umum mengalami penurunan akibat pembatasan perjalanan sebagai dampak merebaknya wabah covid-19. Akomodasi dan penyediaan makan minum juga sama. Terlihat dari tingkat hunian kamar hotel yang menurun dan keengganan masyarakat untuk menikmati makan besar di luar rumah,” jabarnya.

Adapun, kegiatan ekonomi di sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial,  justru tercatat tumbuh positif di triwulan II 2020. Persentase pertumbuhan PDRB di sektor ini mencapai hampir 9 persen dibandingkan tahun lalu.

“Dengan adanya pandemi ini, rupanya membawa berkah pada sektor kesehatan. Sehingga sektor ini diidentifikasi sebagai salah satu lapangan usaha yang mengalami peningkatan kegiatan ekonomi,” pungkasnya.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah