Ruang Publik

Peran Orangtua Dalam Pembelajaran Daring di Kelas

Eva Susanti
  • Oleh: Eva Susanti, S. Pd

MENYIKAPI penyebaran wabah Covid-19 yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan, khususnya bidang pendidikan, sangat membawa perubahan terhadap kebiasaan-kebiasaan yang sudah terprogram di sekolah, terlebih pada pelaksanaan proses pembelajaran.

Sejak surat keputusan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terbit mengenai upaya pencegahan dan penyebaran Corona, semua kegiatan pembelajaran konvensional mulai diliburkan sementara waktu. Kegiatan pendidikan berasa mengalami lockdown.

Guru, siswa, bahkan orangtua dipaksa untuk beradaptasi secara cepat, dengan ditetapkannya kegiatan belajar di rumah dari tanggal 23 Maret sampai dengan sekarang ini.

Hal ini membuat saya selaku guru kelas 5 SDN Utama 1 Tarakan harus berupaya dan bekerja keras untuk mendesain pembelajaran yang dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau online.  Pembelajaran daring menjadi solusi untuk tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajar di tengah penyebaran Covid-19 yang semakin meluas.

Dalam menjalankan pembelajaran daring ini, beberapa hal kiranya perlu diperhatikan agar aktivitas belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan nyaman, sehingga dapat mempermudah siswa mendapat pembelajaran atau pendidikan dalam situasi pandemi covid-19 ini.

Dalam hal ini, guru harus dituntut berkreativitas tingkat tinggi. Dengan adanya tuntutan ini maka mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus mencari dan menggunakan aplikasi yang paling mudah dan sederhana yang sudah familiar di kalangan siswa, terutama siswa SD.

Aplikasi WhatsApp lah yang saya gunakan untuk mempermudah pembelajaran daring bersama dengan siswa, karena pengoperasiannya sangat simpel dan mudah diakses siswa. Syarat pembelajaran secara daring membutuhkan perangkat gadget dan sangat bergantung dengan koneksi jaringan internet yang menghubungkan antar perangkat guru dan siswa.

Di sini peran orangtua sangat penting dalam memfasilitasi pembelajaran daring tersebut, yaitu penyediaan gadget serta jaringan internet kepada putra putri mereka.

Kenyataannya pada saat ini tingkat ekonomi orangtua murid kelas 5 SDN utama 1 dapat dikatakan mampu untuk membeli dan memiliki HP android.  Di lihat dari hampir 90 persen  siswa kelas 5 SDN Utama 1 sudah memiliki android milik pribadi, sedangkan 10 persen siswa lainnya masih bergantung pada android milik orangtua mereka. Hal ini tidak menjadi kendala bagi saya untuk bisa menerapkan pembelajaran daring karena syarat dari pembelajaran daring sudah siswa penuhi yaitu android dan jaringan internet.

Cara pembelajaran daring yang saya lakukan sangatlah mudah dan sederhana. Hal ini karena android yang dimiliki siswa atau orangtua sudah dilengkapi dengan aplikasi WhatsApp.

Di awal diberlakukannya tentang kegiatan pembelajaran di rumah, saya langsung share (bagi) tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa di rumah selama seminggu ke depan. Tugas-tugas tersebut harus dikerjakan di rumah setiap hari sesuai jadwal yang sudah saya berikan.

Seperti halnya di dalam kelas, tugas-tugas di kerjakan dan di tulis di buku tulis sesuai jadwal. Selanjutnya hasil pekerjaan dikumpulkan melalu aplikasi WhatsApp yang telah ditentukan batas atau jam pengumpulan tugas setiap harinya.

Berbeda dengan SMP ataupun SMA, seorang guru SD mengampu beberapa muatan pelajaran. Hal ini karena guru SD menjabat sebagai guru kelas yang sistem pembelajarannya adalah tematik.

Biasanya pada saat pembelajaran konvensional, siswa dalam sehari memperoleh 3-4 muatan pelajaran. Tetapi pada saat pembelajaran daring kali ini, saya hanya memberikan tugas-tugas dari dua muatan pelajaran saja. Meskipun begitu, masih saja terdapat beberapa siswa yang terlambat dalam pengumpulan tugas, sehingga saya harus menunggu semua siswa selesai mengumpulkan tugas hingga malam hari.

Tetapi hal ini saya anggap bukan merupakan masalah yang besar, karena biasanya orangtua menyampaikan masalah atau kendala yang dialami mereka sehingga putra putri mereka tidak bisa mengumpulkan tugasnya tepat waktu.

Sebagai contoh: ada siswa yang terlambat mengumpulkan tugas karena harus bergantian HP dengan adik atau kakaknya. Ada juga karena orangtua mereka belum pulang ke rumah disebabkan kerja atau yang lainya, sehingga mereka harus menunggu HP milik orangtuanya. Bahkan ada yang disebabkan karena paket data atau jaringan internet habis batas pemakaiannya,  sehingga harus mengisi paket data terlebih dulu.

Sebagai guru kendala-kendala tersebut harus bisa dimaklumi, dan yang terpenting adalah siswa tetap konsisten dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.

Selain memfasilitasi kebutuhan gadget bagi siswa, peran lain yang juga penting bagi para orangtua adalah meluangkan banyak waktu dalam hal memantau dan mendampingi putra putri mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan guru. Tidak semua materi pelajaran langsung dikuasai oleh siswa, oleh karena itu di saat siswa mengalami kesulitan, orang tualah yang menjadi guru bagi putra putrinya.

Seperti halnya saat pembelajaran konvensional, ketika guru memberika PR (pekerjaan rumah), orangtua membantu jika putra putrinya mengalami kesulitan dalam menjawab soal. Sehingga pada saat penilain, maka PR yang sudah dikoreksi oleh guru di sekolah bisa mendapatkan nilai yang baik.

Orangtua yang peduli terhadap pendidikan anaknya, tidak akan membiarkan anaknya salah dalam menjawab soal-soal. Apalagi anaknya masih berada di tingkat SD, dimana materi pelajaran SD masih mudah dijangkau oleh pendidikan orang tua. Sehingga tidak jarang tugas-tugas daring yang sudah saya diberikan, sebagian besar dikerjakan oleh orang tua, dimana anak hanya menulis jawabannya saja.

Itulah kondisi yang harus diterima guru saat ini dengan diberlakukannya kegiatan pembelajaran di rumah.

Saya sendiri sebagai guru, ketika mengoreksi pekerjaan siswa yang telah terkumpul melalui Whatsapp, mengakui akan meningkatnya prestasi siswa dibandingkan prestasi di saat pembelajaran konvensional di dalam kelas. Nilai siswa kelas 5 SDN Utama 1, rata-rata 92 persen di atas KKM.

Setelah mengoreksi, nilai hasil tugas siswa akan saya share kepada orangtua. Dengan demikian orangtua mengetahui nilai yang diperoleh putra putrinya. Harapan saya adalah agar siswa tetap semangat dalam mengerjakan tugas-tugas mereka selanjutnya, setelah mengetahui nilai hasil tugas yang sudah mereka kerjakan. Serta orangtua merasa puas dengan nilai tersebut.

Bagi siswa yang mendapat nilai di bawah KKM, saya juga menshare kunci jawaban atas tugas yang sudah selesai saya nilai. Dengan begitu, siswa maupun orang tua mengetahui letak kesalahan jawaban dari tugas tersebut. Dengan kunci jawaban, siswa dapat melakukan perbaikan jawaban pada buku tulisnya masing-masing.

Segi positif yang dapat diambil dari pembelajaran daring adalah bahwasannya pembelajaran daring ini dapat meningkatkan prestasi siswa sehingga dapat memperbaiki atau mengkatrol nilai-nilai rendah di saat pembelajaran konvensional sebelumnya di sekolah. Sehingga pada saat perhitungan nilai rekap akhir pembuatan rapot kenaikan kelas, nilai pengetahuan ( K3 ) siswa kelas 5 SDN Utama 1, dapat saya pastikan tuntas semuannya. (*)

*) Penulis adalah guru di SDN Utama 1 Tarakan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah