Headline

Penolakan Dua WNA Terdampar Dikawal Sampai Bunyu

Petugas Imigrasi dan unsur terkait lainnya, saat melepaskan dua WNA Amerika Serikat dan Filipina, Jumat (3/4/2020). (Foto : Istimewa)

TARAKAN, Koran Kaltara – Dua Warga Negara Asing (WNA) Josef Artemo Alayra asal Amerika Serikat dan Solis Jose jr asal Filipina dilepaskan ke laut, sekira pukul 11.30 Wita, Jumat (3/4/2020). Keduanya, sebelum ini terdampar di Pantai Amal pada Minggu (29/3/2020) malam dalam kondisi kapal mengalami kerusakan dan kehabisan bahan bakar.

Kepala Kantor Imigrasi Tarakan Perdemuan Sebayang mengungkapkan, dalam rapat dengan unsur terkait, pihaknya mencoba menggali temuan masing-masing penyidik, untuk mencari unsur pidana. Mulai dari kegiatan yang mengacu kepada kegiatan spionase, penyelundupan dan membawa barang terlarang.

“Itu belum ditemukan kemarin (dalam rapat bersama unsur terkait). Jadi, kita putuskan karena mereka masuk secara illegal, tanpa ada dokumen pelayaran. Di Tarakan juga harus ada agensi, perwakilan untuk mengurusi segala sesuai perizinannya, ini tidak ada semua. Jadi, dilakukan penolakan,” ujarnya, dikonfirmasi Jumat (3/4/2020).

Ada hal kemanusiaan yang dikedepankan, diputuskan untuk tidak menjatuhkan pidana sesuai Pasal 113 Undang-Undang No. 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian. Karena, alibi dua WNA ini saat masuk ke wilayah Indonesia, kapalnya rusak dan kehabisan bahan bakar.

Ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19, sehingga Imigrasi bingung mau menempatkan dimana. Ada kekhawatiran, penyebaran virus ini. Meski belum pernah dilakukan pemeriksaan melalui rapid tes atau swab terhadap keduanya, namun memang keduanya juga tidak menunjukkan gejala terkait saat diperiksa suhu tubuh dalam kondisi normal.

“Jam 11.30 Wita tadi, sudah dilakukan pengawalan satu armada dari speedboat yang kita sewa. Jadi, dari beberapa instansi dari Lantamal XIII, BIN dan Imigrasi turut melepaskan,” bebernya.

Pengawalan tidak bisa dilakukan menggunakan KRI atau kapal lain milik aparat, karena jenis kapal yang digunakan dua WNA ini longboat dan tradisional sekali, sehingga rawan dengan ombak.

“Untuk feri biasa saja pasti kewalahan. Apalagi kalau KRI, pasti terbanting kapalnya. Kapalnya kayak punya nelayan, longboat. Kita juga kawal hanya sampai lewat Bunyu ke atas lah,” tuturnya.

Sebelum dilepaskan, dalam dokumen perjalanan sudah tertera denied entry penolakan. Jadi, keduanya tidak bisa masuk di wilayah Indonesia bagian mana pun.

Dari Indonesia juga memberikan bantuan bahan bakar dan perbaikan kapal, namun untuk logistik dari kedua WNA yang belanja sendiri. Jika dilihat dari kebutuhan bahan bakarnya, diprediksikan sulit sampai ke Filipina, kemungkinan akan menyisiri wilayah Malaysia.

Namun, Perdemuan memastikan, dari pihak Indonesia tidak menghendaki kedatangan kedua WNA ini karena masuk secara ilegal. Jika ternyata masuk ke wilayah Malaysia karena ada kebijakan lockdown, nanti merupakan urusan dari keduanya. “Mudahan bahan bakar yang distoknya bisa sampai perairan Filipina yang terdekat,” tandasnya. (*)

Reporter: Sahida

Editor: Nurul Lamunsari