Headline

Pengolahan Limbah Medis Tidak Dikirim ke Luar

Wali Kota Tarakan Khairul meninjau uji coba pengoperasian mesin pengolah limbah medis di Hake Babu (Sofyan/KoranKaltara)
  • Mesin Siap, Tarakan Dorong Pengelolaan Mandiri

TARAKAN, Koran Kaltara – Selama ini, limbah medis dikirim ke Balikpapan atau Surabaya untuk dimusnahkan. Pengiriman limbah membutuhkan biaya yang cukup besar, belum lagi risiko yang mengancam saat dalam pengiriman. Oleh karena itu, melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tarakan Energi Mandiri, pengolahan limbah medis sudah bisa dilakukan di Tarakan.

Uji coba pengolahan limbah medis hasilnya sangat bagus, karena sudah tercacah dan sudah menjadi ampas. Selain itu juga steril dari bakteri, kuman, virus maupun bibit penyakit. Dalam mesin pengolahan limbah medis yang ditempatkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hake Babu, juga disemprotkan cairan disinfektan.

“Ada proses sterilisasinya dengan menggunakan disinfektan sehingga tidak ada residu yang membahayakan. Dijamin aman untuk kesehatan dan lingkungan,” ungkap Wali Kota Tarakan, Khairul yang meninjau secara langsung proses uji coba pengolahan limbah medis, Rabu (21/10/2020).

Mesin pengolahan limbah yang digunakan juga baru, dengan kapasitas 20 kilogram. Sekali mengolah limbah, butuh waktu 45 menit. Kemudian sterilisasi kurang lebih butuh waktu 60 menit. Jika dalam sehari dioperasikan selama 8-12 jam, maka terdapat sekitar 80 – 120 kilogram sampah medis yang dapat diolah.

Untuk retribusi, nantinya akan dihitung per volume. Khairul belum merincikan secara pasti biaya yang akan dibebankan kepada pengelola fasilitas kesehatan untuk membayar jasa pengolahan limbah medisnya. Tarif akan ditentukan oleh Dewan Direksi Perumda Tarakan Energi Mandiri.

“Sekarang ini masih uji coba, sehingga mau mengatur MoU dengan pengelola fasilitas kesehatan yang ada di Tarakan, sekaligus dokter praktik. Nantinya sampah medis mereka akan dijemput untuk dimusnahkan. Saat ini, masih uji coba dan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium hasilnya, apakah sudah steril atau belum. Serta menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah semua sudah klir, baru dioperasikan secara umum,” paparnya.

Ampas yang dihasilkan akan dibakar menggunakan incinerator, tetapi akan ada upaya daur ulang. Namun masih menunggu beberapa tahapan, karena yang diutamakan adalah keselamatan serta izin operasional. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah