Tarakan

Pengisian e-HAC Online Masih Minim

Validasi surat keterangan bebas Covid dari petugas KKP. (Foto : Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Kewajiban mengisi aplikasi elektronik – Health Alert Card (e-HAC) atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan sebelum keberangkatan menggunakan transportasi laut, transportasi darat dan transportasi udara masih belum diketahui semua masyarakat.

Pengisian e-HAC ini bisa dilakukan secara manual maupun online menggunakan aplikasi. Namun, masyarakat masih banyak yang melakukan pengisian secara manual.

E-HAC ini merupakan sistem untuk monitoring, secara cepat kepada seluruh calon penumpang di lintas daerah, antar provinsi maupun dari luar negeri yang melalui pintu gerbang pelabuhan laut maupun udara dan darat.

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Ahmad Hidayat menuturkan, jumlah masyarakat yang mengisi e-HAC manual lebih banyak dari e-HAC online. Padahal, kata dia saat dilakukan validasi surat keterangan bebas Covid sudah disampaikan untuk mengisi secara online, agar memudahkan petugas KKP melakukan pendataan.

“Itu yang jadi masalah. Padahal kami sudah sosialisasikan dan bantu isikan, tetapi ya tipikal masyarakat kalau belum ada kejadian, diabaikan. Setiap keberangkatan, pasti kami ajari supaya bisa. Sekali waktu, mungkin perlu ada ketegasan,” ujarnya, Jumat (7/5/2021).

Ia tambahkan, pengisian e-HAC menggunakan aplikasi secara online ini sebenarnya untuk mengurangi penumpukan masyarakat. Saat ini di setiap kedatangan, transportasi antar daerah, darat, laut maupun udara masih ada terjadi penumpukan masyarakat yang mengisi e-HAC secara manual.

Diakuinya, penumpukan ini lah yang dikhawatirkan akan terjadi penyebaran Covid-19.

Menurutnya, dengan e-HAC elektronik tinggal melakukan scan barcode data pelaku perjalanan. Sedangkan jika pengisian dilakukan secara manual, nantinya data yang diberikan akan di-entry lagi oleh petugas KKP.

Hal ini malah menjadi pekerjaan tambahan untuk petugas KKP. Sementara, petugas yang ada jumlahnya juga terbatas.

“Kan isinya manual, jadi selesai pengawasan itu, datanya kami entry. Kasihan, kerja petugas di situ aja. Kan datanya itu dibaca seluruh Indonesia dan pemanfaatan data oleh Dinas Kesehatan, kalau dilakukan traking pelaku perjalanan yang ternyata positif Covid,” imbuhnya.

Penggunaan aplikasi e-HAC, ini untuk mengetahui data pelaku perjalanan, penggunaan e-HAC ini juga sudah sangat efektif dan efisian untuk melakukan tracking kontak erat dengan konfirmasi Covid-19. Salah satunya, pelaku perjalanan dari luar negeri, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ternyata positif Covid-19 varian baru, setibanya di Balikpapan.

Selain itu, data yang diisi dalam e-HAC juga harus valid, untuk memudahkan komunikasi dengan satgas Covid. Jika dipalsukan, dikhawatirkan akan menyulitkan tracking, jika ditemukan ada konfirmasi Covid-19 di sekitar pelaku perjalanan.

“Jadi, kursi kiri kanan yang di dekat TKI positif Covid B-117 ini, dua baris depan di kiri dan kanan langsung ditraking, dihubungi melalui nomor telepon yang ada di e-HAC. Selanjutnya, dipantau selama 14 hari, itu prosedurnya penyakit menular,” tandasnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa