Ruang Publik

Pendidikan Karakter, Sukseskah?

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari, S. Pd

SEBAGAI guru mungkin kita pernah bertanya-tanya, sejak pendidikan karakter digencarkan melalui Kurikulum 13, sudahkah terlihat perubahan berarti pada karakter siswa-siswi kita di sekolah? Atau pun putra-putri kita di rumah? Jika jawabannya iya, maka mari bersyukur. Setidaknya ini berarti bahwa pendidikan karakter memang benar-benar telah nampak membuahkan hasil.

Namun sebaliknya, jika jawaban sebagian besar dari kita adalah tidak, maka sebaiknya kita mulai melakukan refleksi mendalam terhadap praktik pendidikan karakter ini di dunia nyata.

Sebelum RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) 1 lembar diperkenalkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim, guru harus mendesain rancangan pembelajarannya dengan sempurna. Hampir setiap detail kegiatan belajar pada satu kompetensi dasar harus tertulis lengkap di sana, termasuk bentuk pendidikan karakter yang harus dicapai siswa.

Mendesain RPP semacam ini tentu tidak mudah, apalagi bagi guru dengan beban mengajar yang cukup banyak. Pada akhirnya, banyak dari guru tersebut yang memilih jalan praktis yaitu menyalin dari RPP yang sudah ada.

Ini baru sekedar masalah dokumen, bukan pelaksanaannya di ruang kelas yang ternyata justru jauh dari harapan. Lantas, apakah yang terjadi sebenarnya? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan karakter tersebut?

Bagi saya, tidak ada yang salah apalagi harus disalahkan. Melakukan inovasi dan kebijakan baru terutama dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Hal ini dilandasi oleh kewajiban untuk memenuhi hak dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang layak.

Trial and error masih lebih baik ketimbang tidak melakukan usaha perubahan sama sekali. Namun, kita juga tak boleh abai pada kenyataan bahwa pendidikan karakter sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang diharapkan.

Jika demikian, sebagai seorang guru, sudah seharusnya kita melakukan evaluasi dan refleksi terhadap diri sendiri dan lingkungan kerja sebagai tempat mengabdi.

Praktik di luar kelas

Ketika berkunjung ke sebuah sekolah dasar di kota Bury St Edmunds di Inggris 2011 silam, saya menemukan pemandangan yang baru dan tak biasa. Kala itu saya sedang menuju ke kantin sekolah untuk makan siang bersama seorang kolega.

Namun, sekitar 3 meter dari pintu kantin, saya menyaksikan antrean siswa yang begitu rapi. Saking rapinya sampai mengingatkan saya pada garis yang dibuat oleh semut di dinding.

Setelah bertanya kepada seorang teman, akhirnya saya paham ternyata siswa-siswi berambut pirang tersebut tengah menanti giliran untuk memasuki area kantin sekolah. Rupanya, jumlah meja kursi yang tak sebanding dengan jumlah siswa mengharuskan para siswa tersebut untuk makan siang secara bergantian.

Hal ini memancing kekaguman saya. Seketika saya merasa dibawa ke kantin-kantin sekolah di negeri kita. Adakah yang mampu menerapkan sikap disiplin saat mengantre semacam ini? Jika pun ada, saya yakin jumlahnya tak banyak. Saya ingat kala itu secara terang-terangan saya menunjukkan kekaguman sekaligus keheranan kepada kolega tadi.

Kemudian, bagaimana saat pendidikan karakter mulai diterapkan? Adakah perbedaan? Jujur, saya belum merasakannya. Siswa-siswi kita terlihat masih kesulitan dalam menerapkan kedisiplinan, tidak hanya dalam antrean, namun juga dalam situasi lain seperti mematuhi jadwal piket kelas, mengumpulkan tugas, atau kehadiran di sekolah.

Tak bisa dipungkiri, siswa-siswi kita masih kalah dari siswa-siswi Jepang atau negara maju lainnya dalam hal pendidikan karakter. Tapi, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Salah satu penyebabnya mungkin adalah karena sistem pendidikan Indonesia yang terlalu fokus pada ruang segi empat yang kita sebut kelas.

Guru diajarkan untuk menerjemahkan pendidikan karakter ke dalam bentuk RPP yang disesuaikan hanya dengan konteks pembelajaran di kelas. Sedangkan hal-hal lain yang terjadi di luar ruang tersebut, justru terabaikan. Termasuk salah satunya sikap mengantre di kantin tadi. Padahal, siswa-siswi itu justru paling membutuhkan pendidikan karakter saat berinteraksi dengan orang lain di luar ruang kelas.

Bukan sekedar tulisan di atas kertas

Pendidikan karakter bukanlah hal mudah untuk diajarkan. Tidak seperti mata pelajaran lain, misalnya matematika, bahasa Inggris, atau sejarah. Pendidikan karakter tidak dapat dipelajari lewat buku atau video pembelajaran yang sedang tren itu.

Kita pun tak bisa berharap pendidikan karakter akan sukses jika hanya disampaikan melalui metode ceramah layaknya mata pelajaran ilmu sosial. Pendidikan karakter membutuhkan komitmen dan praktik baik di lapangan.

Agar berhasil, pendidikan karakter harus dicontohkan dengan baik oleh guru dan dipraktikkan secara konsisten oleh siswa-siswi dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin siswa menjadi kreatif, maka guru pun harus menunjukkan kreativitas itu saat mengajar, baik di dalam kelas ataupun kesehariannya.

Bukankah guru adalah role model dan sekaligus sumber inspirasi siswanya? Begitupun halnya jika ingin anak disiplin mengantre, maka kita terlebih dahulu harus memandu dan memastikan mereka mengantre di setiap kesempatan sampai akhirnya budaya itu terbentuk atas kesadaran diri sendiri.

Dan, di sinilah tantangan terberatnya. Tugas administratif yang begitu banyak tentu tidak memungkinkan bagi guru untuk memantau siswa setiap waktu. Terlebih jika hal tersebut tidak memiliki panduan yang jelas dalam sistem manajemen sekolah.

Jangankan di luar kelas, memantau perilaku siswa dalam kelas saja terkadang seorang guru sudah begitu kerepotan. Maka dari itu, pendidikan karakter akan lebih efektif jika dikaitkan dengan pemberlakuan peraturan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh sekolah.

Selain itu, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah peran orangtua dan keluarga. Bagaimanapun, siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah ketimbang sekolah. Jangan sampai orangtua memiliki pemahaman bahwa tugas mendidik kini sepenuhnya beralih ke pundak guru.

Kita harus ingat bahwa peran dan posisi orangtua adalah tak tergantikan. Mari kita lakukan dialog-dialog sederhana dengan anak atau menerapkan peraturan demokratis di rumah, agar anak menyadari tentang nilai yang diterapkan dan diharapkan oleh orang tua dari mereka.

Alternatif lain adalah melalui hobi. Saya telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa siswa yang menekuni hobi seperti desain grafis, olah raga, dan menulis tumbuh menjadi remaja yang berkarakter dan penuh dedikasi.

Hal ini mungkin disebabkan oleh tumbuhnya kesadaran akan tujuan yang ingin dicapai sehingga memunculkan karakter baik seperti pekerja keras, disiplin, ulet, berkomitmen, dan lain sebagainya.

Selain berpengaruh pada karakter, melalui hobi siswa juga berkesempatan untuk mengasah keterampilan yang mungkin tidak mereka dapatkan dari ruang-ruang kelas di sekolah.

Pendidikan karakter perlu diperkenalkan dan diajarkan kepada siswa sejak dini. Bukan hanya melalui metode ceramah di dalam kelas, tapi dengan memberikan contoh nyata, mengajarkan komitmen, serta memberikan makna pada komitment tersebut.

Pendidikan karakter juga harus didukung oleh lingkungan, yaitu guru, orang tua dan teman sepergaulan. Dengan begitu, pendidikan karakter akan lebih terasa nyata dampaknya dibanding sekedar coretan di atas kertas. (*)

*) Penulis adalah guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah