Ruang Publik

Pendidikan di Pelosok Negeri; Guru, Pandemi, dan Refleksi

Dwi Wahyu Alfajar
  • Oleh: Dwi Wahyu Alfajar

MATAHARI sudah meninggi. Meskipun belum berada tepat di atas kepala, panasnya sudah cukup terasa di perbukitan salah satu desa di daerah hulu Sungai Sembakung. Seperti hari-hari sebelumnya, dari tempat tinggalku kulangkahkan kaki menuju desa sebelah. Jaraknya memang tak jauh, hanya 10 menit berjalan kaki. Medannya yang naik turun bukit cukup membuat betis agak linu ketika tak biasa berjalan jauh.

Hari itu kembali kulihat anak-anakku di sana. Sudah kusiapkan amunisi untuk melaksanakan kegiatan belajar di rumah. Bersyukur, hari itu ada sekitar lima anak yang bersiap untuk belajar.

Pembelajaran pun dimulai. Lima anak dengan kelas berbeda membuatku harus siap dengan beragam amunisi. Pembelajaran selalu kami mulai dengan latihan berhitung, kemudian membaca, menulis, dan diakhiri dengan kegiatan menggambar. Monoton memang. Tapi pembelajaran seperti itulah yang lebih mudah mereka pahami saat ini.

Ketika program Belajar Dari Rumah diwarnai dengan beragam model pembelajaran oleh guru, tidak di sini. Boro-boro pemanfaatan platform-platform pembelajaran online, kehadiran guru dengan formasi lengkap saat pandemi, masih menjadi hal langka di sekolah kami.

Memang ada guru honorer yang mulai memberikan pembelajaran luring di rumah, tapi itu hanya satu orang. Dan hanya meng-handle satu kelas. Ada juga guru PNS yang menitipkan tugas kepada kami, guru yang standby di desa.

Tapi, apakah hal tersebut optimal? Apakah anak-anak bisa benar-benar merasakan yang namanya belajar? Tentu tidak. Kadang, kami harus memikirkan dan mencari solusi untuk anak-anak yang tidak diberi tugas oleh wali kelasnya. Dan itu tidak sedikit.

Ditambah lagi pertanyaan yang hampir tiap hari dilontarkan oleh anak-anak dan orang tua, “Pak, Buk, kapan kita turun sekolah?” “Pak, Buk, kapan anak-anak turun sekolah?”

Kadang anak-anak dan orang tua tidak mau tahu. Mereka tetap ingin sekolah dimulai. Anak-anak sudah rindu sekolah. Mereka rindu belajar tapi kadang mengeluh jika diberikan tugas secara luring.

Orang tua merasa anak-anak makin bodoh ketika sekolah tidak segera dimulai. Namun pernyataan itu tidak dibarengi dengan tegasnya orang tua menasihati anak-anaknya untuk belajar. Dilematis memang, mau belajar pakai apa? Sumber belajar mereka saja terbatas.

Anak-anak dan orang tua merasa kondisi desa aman dari pandemi. Toh desa juga kurang terjamah oleh orang dari luar. Jadi, menurut mereka bisa saja sekolah dimulai. Tapi kebijakan pemerintah daerah tetap harus dijalankan. Meskipun satu daerah sudah masuk kategori zona hijau, sekolah memang belum bisa dimulai jika syarat dan ketentuannya tidak dapat dipenuhi.

Lalu, apakah yang seharusnya dilakukan oleh sekolah saat ini? Pemerintah daerah melalui dinas terkait memang sudah mengeluarkan kebijakan berkaitan dengan pelaksanaan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Namun yang terjadi di lapangan masih ditemukan sekolah yang belum tegas mengeluarkan instruksi terkait kebijakan tersebut. Efeknya, banyak guru yang masih tak memikirkan anak didiknya.

Miris memang. Kebanyakan dari guru-guru tersebut berasal dari luar kabupaten. Akses yang sulit kadang menjadi alasan mereka untuk menunda-nunda waktu kembali ke tempat tugas. Menunda kesempatan memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak di pelosok negeri. Menunda dukungan terhadap pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Maju dengan sumber daya manusia yang unggul.

Lebih dari itu, dengan waktu kembali ke tempat tugas yang kita tunda-tunda, kita sudah dengan sengaja mencederai amanah negara.

Bukankah dalam UU No. 35 Tahun 2014 pasal 9 ayat 1 dikatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat?

Ketika kita tidak hadir bersama mereka, maka apa yang sudah kita lakukan?

Lalu, apa yang harus dilakukan kemudian?

Sekolah, melalui kepala sekolah harus segera mengeluarkan instruksi tegas agar guru-guru segera hadir di tempat tugas. Segera membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi di wilayah sekolah.

Guru. Yuk, Bapak dan Ibu guru yang saat ini belum berada di tempat tugas, mari berefleksi sejenak. Sudah berapa lama anak didik kita tinggalkan tanpa kabar, tanpa asupan ilmu pengetahuan. Kita tahu bersama bahwa anak didik kita bukanlah anak-anak di kota yang dapat dengan mudah mengakses beragam sumber belajar secara mandiri.

Anak didik kita adalah anak-anak yang masih harus berusaha mengejar ketertinggalan mereka. Itu pun harus dengan bimbingan kita sebagai guru tentunya.

Ketidakmungkinan kita mengharapkan kontrol dari orang tua semakin membuat kita harus terus berusaha untuk bersama mereka. Yakinlah, candi Borobudur tidak dibangun dalam sehari. Begitu pun dengan anak didik kita, kebiasaan dan kemampuan mereka tidak dapat kita ubah dalam sekejap.

Jadi, mari hadir di tempat tugas untuk memastikan perkembangan mereka. Mari hadir untuk bersama atau menemani mereka.

Ketika Bapak/Ibu Guru sudah hadir di tempat tugas, mari duduk bersama dengan kepala sekolah untuk membahas perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat oleh kepala sekolah. Kalau perlu mari membuat kesepakatan mengenai pelaksanaan pembelajaran tersebut.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, “Be fearless. Walaupun ada rintangan, kita pasti bisa melewati itu semua, apa pun hambatannya.”

Kita tidak akan tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Sebuah ketidakpastian memang. Tapi satu hal yang pasti, anak-anak harus tetap kita bersamai proses belajarnya. Jadi, bapak dan ibu guru, mari kembali ke tempat tugas. Mari kita bersamai anak-anak kita. (*)

*) Penulis adalah guru di SDN 007 Lumbis Ogong, Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah