Headline

Pendapatan Penduduk di Tana Tidung Rp200 Juta

PERBELANJAAN: Pengeluaran atau konsumsi masyarakat menjadi salah satu pendekatan dalam menghitung PDRB suatu wilayah. (Foto : Dok/Koran Kaltara)
  • PDRB per Kapita Tumbuh Positif di Setiap Daerah

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita di Kalimantan Utara secara spasial menunjukkan peningkatan dalam empat tahun terakhir. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, Eko Marsoro menjelaskan, PDRB per kapita terdata tumbuh positif di seluruh kabupaten dan kota sepanjang tahun 2016 ke tahun 2019.

Dari kalkulasi data yang masuk, Kabupaten Tana Tidung (KTT) catatkan nilai PDRB per kapita terbesar. “Pada tahun 2019, PDRB per kapita Kabupaten dan Kota di Kalimantan Utara secara spasial mengalami peningkatan. PDRB per kapita Kabupaten Tana Tidung pada tahun 2019 merupakan yang terbesar. Yakni mencapai Rp200,02 juta per tahun dan mengalami peningkatan sebesar 3,70 persen dari tahun sebelumnya,” kata Eko dalam Laporan PDRB kabupaten dan kota di Kaltara Periode 2015 – 2019, Senin (29/6/2020).

Sementara itu, dari lima daerah di Kaltara, Kota Tarakan catatkan pertumbuhan persentase tertinggi di angka 10,85 persen. Yakni dari Rp120,85 juta per tahun menjadi Rp133,96 juta per tahun. Kemudian di Bulungan mengalami kenaikan 6,5 persen. Yakni dari Rp120,67 per tahun menjadi Rp128,51 juta per tahun.

Selanjutnya, di Kabupaten Malinau dari Rp107,55 juta per tahun menjadi Rp117,79 juta per tahun. Terakhir di Kabupaten Nunukan dari Rp112,09 juta per tahun menjadi Rp121,09 juta per tahun.

“Kabupaten dan kota yang mengalami peningkatan PDRB per kapita tertinggi pada tahun 2019 adalah Kota Tarakan sebesar 10,85 persen. Semakin meningkatnya PDRB per kapita wilayah perkotaan seperti Tarakan lebih didorong oleh perkembangan perkotaan sebagai pusat perdagangan dan jasa,” ungkap Eko.

Pada kesempatan tersebut, Eko menjelaskan, PDRB per kapita menggambarkan rata-rata produktivitas yang dihasilkan oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu daerah. Selain itu, dalam batas tertentu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam menentukan pencapaian tingkat kemakmuran di daerah tersebut. Adapun nilai atau angka yang dimaksud, diperoleh dengan cara membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk.

“Dengan begitu, dapat diketahui bahwa besaran dari dua variabel di atas merupakan faktor dominan yang mempengaruhi pembentukan nilai PDRB per kapita. Sebagai gambaran sederhana, apabila nilai PDRB-nya besar dengan jumlah penduduk sedikit, maka dapat dipastikan PDRB per kapita daerah tersebut akan besar, demikian pula sebaliknya,” paparnya.

Oleh sebab itu, dikatakan Eko bahwa besaran nilai PDRB per kapita dapat menjadi ukuran terhadap tingkat kemakmuran suatu daerah. Meskipun angka tersebut tidak dapat digunakan secara langsung sebagai tolok ukur. Nilai PDRB per kapita hanya menunjukkan jumlah pendapatan yang dinikmati oleh penduduk. Komponen penghitungan di dalamnya masih terkandung nilai penyusutan barang-barang modal dan pajak tak langsung neto serta pendapatan faktor produksi neto.

“Jadi perlu dipertegas bahwa angka tersebut tidak menggambarkan penerimaan penduduk secara nyata karena hanya merupakan nilai rata-rata dari apa yang dihasilkan mereka. Baik sebagai pekerja atau pelaku usaha,” kata Eko.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah