Ekonomi Bisnis

Pemda Harus Siapkan Perda Larangan Masuknya Daging dari Malaysia

BKP saat melakukan kegiatan pencegahan dan indentifikasi virus ASF yang mengakibatkan puluhan babi mati. (Foto : Istimewa)

TARAKAN, Koran Kaltara – Puluhan babi mati secara bersamaan di Malinau dan Nunukan, hingga saat ini masih dilakukan uji laboratorium dari instansi terkait di kedua kabupaten tersebut. Dugaan awal, sapi mati karena ada gejala virus African Swine Fever (ASF) yang saat ini sudah merebak di Kabupaten Berau, Kaltim dan Malaysia.

Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Tarakan, Akhmad Alfaraby menuturkan,  pihaknya sudah melakukan pengambilan dan pengiriman sampel dari babi yang mati. Pengambilan sampel ini bekerja sama dengan Tim Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi, Kabupaten dan Tim Karantina Pertanian.

“Sebenarnya, untuk wewenang karantina terkait lalulintas komoditas babi dan produknya sangat minim,” kata dia, Minggu (20/6/2021).

Dari data BKP, media pembawa dari babi ada daging babi olahan, daging babi dan tulang babi. Masuk melalui Bandara Juwata dengan frekuensi sangat minim, terbanyak tiga kali pengiriman dengan jumlah 2 kg hingga 12 kg.

Belum lama ini, hasil koordinasi dengan Pemprov Kaltara, menurutnya sudah waktunya ada peraturan daerah yang mengatur tentang larangan pengiriman ternak babi dan produknya, dari Sabah, Malaysia.

Dengan adanya Peraturan Daerah ini, bisa mengurangi potensi masuknya ASF Kaltara. Terlebih lagi di Malaysia, ASF ini sudah menjadi wabah di sejumlah peternakan babi.

“Kami juga tidak tinggal diam, bekerja sama dengan dinas untuk melakukan identifikasi permasalahan sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel dari BVet Banjarbaru. Dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan BVet banjarbaru juga sudah melakukan investigasi ke wilayah yang ditemukan babi hutan yang mati di Tulin Onsoi dan Malinau,” ungkapnya.

Sedangkan terkait kasus babi yang mati bersamaan di Berau, kata Alfaraby juga termasuk dalam wilayah kerja BKP Tarakan. Sehingga, pihaknya turut serta dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim bersama Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Berau, mengambil sample untuk diuji di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian.

“Dalam pencegahan, kami juga ikut dalam kegiatan disinfeksi pada kandang yang terdapat kematian dan menunjukkan gejala klinis. Kemudian rapat penyusunan pemetaan risiko dan rencana operasional pencegahan serta pengendalian ASF bersama Kementan RI,” tegasnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa