Ruang Publik

Pemanfaatan Hutan untuk Pembelajaran di Masa Pandemi

Adiatman
  • Oleh: Adiatman

GURU sebagai bagian dari Aparatur Sipil negara (ASN) memiliki tiga fungsi pokok yaitu sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik serta perekat dan pemersatu bangsa (UU No. 5 Tahun 2014).

Peserta didik adalah salah satu bagian dari masyarakat yang harus diberikan pelayanan prima. Peran guru sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

Namun di masa pandemi ini, pembelajaran akan terasa sedikit sulit dan rancu karena antara guru dan peserta didik tidak bertatap muka secara langsung. Apalagi di daerah perbatasan masih saja dijumpai sebagian tempat tinggal peserta didik masih terkendala dengan akses internet yang kurang memadai dalam proses pembelajaran daring.

Di sisi lain, pembelajaran bermakna harus diberikan kepada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik harus menciptakan inovasi yang kreatif di masa pandemi ini. Tanpa harus melupakan protokol kesehatan Covid-19.

Inovasi pembelajaran merupakan strategi penting dan urgen yang harus dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih menyenangkan, terasa hidup, dan lebih bermakna. Jika inovasi dalam pembelajaran sering dilakukan.

Apalagi di masa pandemi seperti ini. Sebagian peserta didik cenderung mengalami ritme belajar yang pasif dan kurang responsif.

Dengan adanya inovasi yang kreatif di masa pandemi maka sangat diharapkan dapat memberikan motivasi dan semangat baru kepada peserta didik untuk lebih terpacu dan giat belajar.

Berinovasi di masa pandemi tidaklah salah. Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana keefektifan dari inovasi tersebut dan juga harus memperhatikan zona dimana akan melakukan pembelajaran secara langsung di masa pandemi ini. Apakah wilayah tersebut zona hitam, merah, kuning, oranye ataukah hijau.

Pembelajaran di masa pandemi ini, membuat sebagian guru terpacu untuk selalu berinovasi seperti menciptakan video-video pembelajaran berbasis digital yang interaktif.

Namun ada kalanya materi yang disampaikan harus lebih bermakna dengan melakukan pengamatan langsung dengan menggunakan alat pengamatan seperti mikroskop, meskipun sebenarnya pembelajaran ini bisa di simak melalui Youtube.

Tapi dengan menghadirkan peserta didik dan melakukan pengamatan langsung akan membuat peserta didik tersebut terasa belajar lebih bermakna, walau di masa pandemi seperti sekarang ini.

Pembelajaran luring ini, hanyalah memfasilitasi minat peserta didik yang ingin melihat secara langsung seperti apa struktur jaringan tumbuhan dan peserta didik yang mengalami kendala atau masalah dalam proses belajarnya.

Tak ada paksaan bagi mereka jika tidak ingin mengikuti pembelajaran langsung tersebut karena untuk saat ini sebagian peserta didik masih diharuskan belajar dari rumah.

Saya mencoba memfasilitasi peserta didik saya pada pembelajaran Biologi dengan materi jaringan tumbuhan, yang mana pada materi ini diperlukan sebuah alat pengamatan yaitu mikroskop. Sehingga, pengamatan bagian-bagian anatomi tumbuhan tersebut baik organ akar, batang, dan daun dapat terlihat dengan jelas.

Sedangkan, bagi mereka yang tidak sempat belajar luring di hutan sekolah, maka mereka dapat menyimak lab virtual di Youtube dengan materi yang sama.

Dari 80 peserta didik kelas XI IPA hanya sekitar 23 orang yang ingin mengikuti pembelajaran luring ini. Sebagai guru mata pelajaran Biologi saya harus memfasilitasi mereka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan covid-19.

Pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan hutan sekolah sebagai Base camp dalam menerima materi tersebut dalam bentuk praktikum sederhana, yang mana sebelumnya saya telah menyediakan 5 unit mikroskop cahaya di hutan tersebut, lalu mereka melakukan pengamatan langsung. Sesuai dengan bahan-bahan pengamatan yang telah disediakan di hutan sekolah maupun yang mereka sediakan dari rumah.

Perlu pengawasan dan penanganan khusus dalam pembelajaran luring tersebut, dalam hal memperhatikan protokol kesehatan Covid-19. Seperti pengecekan suhu, pemberian hand sanitizer, penyediaan alkohol 70 persen, mencuci tangan dengan sabun, penggunaan masker, social distancing dan pengaturan jumlah anggota kelompok, serta jadwal yang harus dibuat per sesi, agar terhindar dari risiko kerumunan yang berlebihan.

Duapuluh tiga orang tersebut akan dibagi menjadi 3 sesi, dalam 1 sesi dipecah lagi menjadi 4 kelompok kecil. Dalam satu kelompok kecil itu terdiri dari dua atau tiga orang anggota. Adapun pelaksanaan dari pembelajaran luring ini dilaksanakan di Hutan Sekolah SMA Negeri 1 Sebatik yang terletak di belakang sekolah.

Peserta didik melakukan pengamatan langsung tentang jaringan tumbuhan dengan menggunakan mikroskop. Pembelajaran ini cukup sederhana, namun sangat berarti bagi peserta didik dalam meningkatkan semangat belajarnya.

Hal ini sangat terlihat jelas ketika saya melakukan observasi selama proses pembelajaran itu berlangsung, terlihat peserta didik sangat antusias sekali dan bersemangat mengikuti prosedur praktikum langkah demi langkah. Hal ini juga sedikit bisa mengobati kerinduan peserta didik karena selama masa pandemi mereka belajar dari rumah (BDR).

Belajar dengan menerapkan metode pembelajaran langsung di dunia pendidikan merupakan metode yang tak asing lagi, bagi kalangan guru atau tenaga pendidik.

Inovasi dan kreativitas yang efektif dan efisien sangat diperlukan bagi tenaga pengajar atau pendidik untuk menghadapi tantangan yang semakin maju dan semakin berdaya saing.

IPTEK adalah salah cara untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun demikian, sebagian besar tenaga pendidik hanya berfokus pada media atau alat peraga sebagai sarana pendidikan untuk mempermudah mentransfer knowledge kepada peserta didik.

Padahal, dengan memanfaatkan lingkungan sekitar seperti hutan yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar dan membuat peserta didik lebih aktif dan peduli dengan lingkungannya. Dan tentunya lingkungan tersebut berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran peserta didik.

Pembelajaran langsung dengan memanfaatkan hutan sekolah sebagai laboratorium alam merupakan metode yang efektif untuk menjawab kebosanan peserta didik di tengah pandemi sekarang ini.

Alam telah menyediakan materi-materi yang sungguh luar biasa hebatnya. Tugas kita sebagai pendidik adalah memanfaatkan anugerah tersebut sebagai sarana, sekaligus sumber belajar yang efektif dan efisien.

Namun di masa pandemi seperti ini tentunya kita harus memperhatikan berbagai hal, seperti bagaimana dengan kesiapan mengenai protokol kesehatan Covid-19. Kemudian, materi apa yang cocok untuk diterapkan di laboratorium alam tersebut serta mempertimbangkan segala sesuatunya.

Sehingga pemanfaatan hutan sekolah sebagai laboratorium alam akan mampu menciptakan proses pembelajaran Biologi yang lebih menarik dan menyenangkan serta tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. (*)

*) Penulis adalah guru biologi SMA N 1 Sebatik

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah