Tana Tidung

Pandemi, Warga Jual Tanah Penuhi Kebutuhan Hidup

ilustrasi jual tanah

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Kebutuhan hidup lebih meningkat sejak masa pandemi. Hal ini ditengarai banyaknya pengeluaran sementara tidak diimbangi dengan pemasukan yang diperoleh.

Beberapa warga pun harus menjual tanah untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya.

Penjualan tanah di KTT, tidak hanya dilakukan satu atau dua orang. Tanah yang dijual pun bukan hanya berupa tanah lahan, namun ada juga yang menjual tanah sekaligus bangunan di atasnya, seperti rumah burung walet.

“Sekarang ini jaman sudah terasa sulit sekali. Menjual tanah pun tidak semudah menjual gorengan yang sebentar saja sudah laku. Apalagi orang lain pun kesulitan keuangan juga,” ungkap Wahab, Warga Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Rabu (21/7/2021) kepada Koran Kaltara.

Dia sudah hampir dua bulan menawarkan tanah kaplingan yang dimilikinya di kawasan Desa Tideng Pale, tepatnya di Kilometer 8 dengan harga Rp 20 juta per kapling ukuran 10×20 meter.

Semula dia meminta pembayaran tunai sekaligus tapi semakin lama ditunggu tidak ada peminatnya.

“Akhirnya, saya minta dua kali pembayaran baru ada dua orang yang tertarik, kalau tunai Rp 20 juta tidak ada yang mau membelinya,” ujarnya.

Dia mengaku terpaksa menjual tanah karena sejak ada pandemi ini pendapatan dari bertani berkurang. “Sementara anak-anak perlu makan dan untuk sekolah,” imbuhnya.

Senada dengan Wahab, Rahmi, warga Desa Tideng Pale mengatakan, bahwa dampak pandemi cukup besar terhadap masyarakat golongan ekonomi ke bawah.

Akibatnya, tak sedikit orang-orang bertahan hidup dengan menjual aset yang dimiliki.

“Selama kurang lebih setahun ini suami saya tidak bekerja dan dirumahkan dari tempatnya bekerja. Hasil dari berjualan kue basah tidak seberapa,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan, tanah dan sarang burung walet yang sudah dua tahun dibangun belum juga ada hasilnya, terpaksa dijual.

Tanah beserta rumah burung walet dengan ukuran 20 x 26 meter persegi tersebut ditawarkan Rp250 juta melalui media sosial. Namun sudah dua pekan belum ada yang beminat.

“Kalau yang namanya perhiasan emas sudah lama habis dijual dan sekarang tinggal penjualan tanah ini lagi diharap.  Kalau laku rencananya mau buat rumah sewa bulanan yang minimal setiap bulan ada penghasilan sambil menunggu suami kerja kembali,” harap dia. (*)

Reporter: Hanifah
Editor: Nurul Lamunsari