Tarakan

PAD Sarang Burung Walet Belum Meningkat

Tampak rumah burung walet di pemukiman warga. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Di Kaltara, jumlah sarang burung walet mencapai ratusan yang tersebar di wilayah pertambakan, perkotaan hingga di wilayah pemukiman penduduk. Meski jumlahnya yang besar dengan harga jual yang tinggi, namun ternyata Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang didapatkan dari sarang burung walet ini masih minim.

Hal inilah yang membuat DPRD Kaltara belum lama ini meminta adanya kerja sama dari pemerintah daerah dan Balai Karantina Pertanian (BKP), untuk bisa menarik PAD dari sarang burung walet ini.

Pasalnya, untuk setiap pengiriman hasil dari sarang burung walet, wajib diketahui BKP untuk mendapatkan sertifikasi pengiriman.

“Kalau pajak berarti pemkot harus menempatkan anggotanya di pos pelayanan karantina, supaya berbarengan. Karantina kan tidak mungkin menarik retribusi pajaknya, karena tugasnya Karantina (BKP) tidak ada menarik pajak,” ujar anggota DPRD Kaltara Ahmad Usman.

Menurutnya, harus diidentifikasi darimana sumber hasil sarang burung wallet, sebelum dikirim keluar Tarakan. Sehingga, untuk penarikan pajak bisa mengikuti Perda masing-masing Kabupaten Kota yang mengatur.

“Terkait retribusi atau pajak sarang burung wallet ini, kami kembalikan kepada pemerintah daerahnya lah. Karena leading sektornya di pemerintah daerah, kalau BKP kan punya aturan sendiri. Baiknya memang pemerintah daerah bersinergi dengan BKP, misalnya membuat check point atau entry point,” ungkapnya.

Kepala BKP Tarakan, Akhmad Alfaraby menuturkan, sarang burung walet memang menjadi salah satu potensi yang ada di Kaltara. Namun, ia menegaskan BKP bukan pemungut pajak dan tugasnya mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit.

“Kami hanya bisa membantu pemerintah daerah dengan menyampaikan kepada pelaku usaha sarang burung walet ini untuk membantu membayar pajaknya dulu, sebelum mengurus sertifikat karantinanya. Tapi, pemerintah ya harus aktif. Kalau kami hanya menarik Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” tegasnya, Minggu (7/3/2021).

Sepanjang tahun 2019, kata dia, volume pengiriman hasil dari sarang burung walet sebanyak 29.274 kg dengan frekuensi pengiriman sebanyak 729 kali. Kemudian di tahun 2020, tercatat ada 661 kali dengan volume 33.709 kg.

“Kalau di tahun ini, sampai bulan Januari frekuensinya 64 kali dengan volume 2.828 kg. Tujuan pengirimannya terbanyak ke Jakarta, Medan dan Surabaya. Tapi, ada juga pengiriman ke Balikpapan, Batam dan Pontianak untuk walet hitam,” ungkapnya.

Harapannya, pemerintah juga harus bersama-sama dengan pelaku usaha untuk mencari solusi terkait kebutuhan pelaku usaha ini, maupun kewajiban membayar pajak. Sehingga saling bersinergi dan timbal balik dari pemerintah untuk mengguggah para pelaku usaha ini membayar pajak.

“Apalagi yang namanya burung walet ini datang sendiri. Jadi, ya banyak polemiknya, harus dibicarakan bersama semuanya. Apalagi potensinya besar, bisa menjadi sumber PAD asal duduk bersama-sama dan membicarakan bersama. Masyarakat kita juga pro pemerintah,” tegasnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Didik

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah