Tarakan

OTG Tidak Bisa Donor Plasma Konvalesen

Ilustrasi pengambilan darah plasma konvalesen. (Ist)

TARAKAN, Koran Kaltara – Mesin khusus untuk mengambil darah komponen darah tertentu, seperti sel darah merah, sel darah putih, dan plasma darah yang ada di di RSUD Tarakan telah beroperasi.

Dengan adanya mesin tersebut, maka bisa  melakukan donor plasma darah konvalesen.

Namun, tidak semua penyintas dapat melakukan donor terutama orang tanpa gejala (OTG).

Kasi Penjaminan Mutu PMI Tarakan, dr Ardila Utari Dewi mengatakan, bahwa OTG tidak boleh melakukan donor darah plasma konvalesen (PK).

Pasalnya, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, OTG tidak memiliki titer plasma konvaselen yang cukup untuk melakukan terapi kepada pasien Covid-19.

“Plasma konvaselen yang dicari dapat diperoleh dari penyintas yang memiliki gejala sedang maupun berat. Bukan sekadar tidak enak badan, tetapi yang bersangkutan harus memiliki gejala demam, batuk, pilek, mual, diare, sesak nafas dan lain sebagainya. Salah satu gejala ini harus dirasakan, meskipun sedang melakukan isolasi mandiri,” terangnya, Rabu (21/7/2021).

Untuk mendapatkan pendonor, PMI Tarakan melakukan skrining melalui wawancara kepada para penyintas yang datang.

Jika lolos skrining, selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan kadar darah. Selain itu, pendonor harus terbukti bebas penyakit menular lewat darah.

Setelah itu, baru menjalani pengambilan plasma konvaselen melalui alat khusus dinamakan apheresis yang berada di RSUD Tarakan.

Sedangkan untuk perempuan, ada empat tahapan skrining karena saat hamil dan melahirkan terbentuk antibodi yang harus dipisahkan lebih teliti.

Hal itu untuk menghindari ketidakcocokan dengan pasien penerima . Sedangkan untuk perempuan, ada 4 tahapan skrining karena saat hamil dan melahirkan terbentuk antibodi yang harus dipisahkan lebih teliti, untuk menghindari ketidakcocokan dengan pasien penerima PK.

Sementara itu, untuk mendapatkan plasma sebanyak 200 mililiter, dibutuhkan waktu yang bervariasi antar pendonor tergantung dari berat bedan, tinggi dan beberapa vaktor lain. Biasanya antara 60 – 120 menit.

Disinggung mengenai jumlah penyintas di Tarakan, Ardila mengaku pihaknya masih melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan.

Setelah mendapat izin, maka para penyintas akan dihubungi satu persatu untuk mengajak berdonor.

Dalam hal ini, antara RSUD Tarakan dan PMI telah melakukan kerja sama.

“Donor plasma konvaselen minimal dua minggu setelah dinyatakan negatif dari Covid-19, paling lama tiga bulan setelah dinyatakan sembuh,” ungkapnya.

Namun, ada juga yang telah sembuh 4-5 bulan masih bisa diambil plasma konvaselennya.

“Setelah dua minggu diambil plasma konvaselennya, yang bersangkutan kembali boleh melakukan donor. Setiap penyintas maksimal hanya bisa mendonorkan plasma konvaselennya sebanyak tiga kali,” ungkapnya.

Sedangkan untuk perempuan, ada empat tahapan skrining.

Pasalnya, saat hamil dan melahirkan terbentuk antibodi yang harus dipisahkan lebih teliti. Hal itu untuk menghindari ketidakcocokan dengan pasien penerima.

Diketahui, untuk mendapatkan terapi plasma tergantung dari dokter penanggungjawab.

Terapi dengan menggunakan plasma konvaselen sudah terbukti banyak yang sembuh.

“Semakin cepat diberikan plasma konvaselen akan semakin baik, sebelum kondisi pasien semakin menurun atau kritis,” ucapnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Rifat Munisa