Headline

Neraca Perdagangan Semester I Surplus Rp6,79 Triliun

Eko Marsoro
  • Nilai Impor Menurun Tajam

TANJUNG SELOR, Koran Kaltar – Neraca Perdagangan luar negeri Kalimantan Utara, tercatat dalam kondisi surplus USD463,69 juta di semester I 2020. Nilainya setara dengan Rp6,79 triliun (mengacu Kurs Tengah BI 7/8 : Rp14.647). Kondisi surplus, mencerminkan kinerja ekspor yang lebih tinggi dibandingkan nominal masuknya barang impor ke suatu daerah.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, neraca perdagangan semester I dibentuk dari kinerja ekspor yang mencapai USD491,33 juta (Rp7,19 triliun). Sedangkan, di waktu yang sama, nilai impor yang tercatat sebesar USD27,64 juta (Rp0,4 triliun).

Dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, diketahui jika surplusnya neraca perdagangan tumbuh positif 3,57 persen. Atau lebih tinggi USD18,79 juta (Rp0,27 triliun) dibanding semester I 2019 sebesar USD444,79 juta (Rp6,51 triliun).

Meningkatnya surplus neraca perdagangan dikarenakan adanya peningkatan nilai ekspor sebesar 1,10 persen. Angkanya dari USD485,96 juta (Rp7,11 triliun) menjadi USD491,33 juta (Rp7,19 triliun). Sementara pada waktu yang sama, impor mengalami penurunan 32,86 persen, atau dari USD41,18 juta (Rp0,59 triliun) menjadi USD27,64 juta (Rp0,4 triliun).

Kepala BPS Kaltara, Eko Marsoro menyampaikan, kondisi neraca perdagangan Kaltara masih menunjukkan pola sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Secara umum, terjaganya surplus dikarenakan peran batu bara yang menjaga kinerja ekspor. Sehingga jauh melampaui nilai impor yang masuk.

“Ini (neraca perdagangan surplus) sudah jadi tradisi untuk Kaltara. Tapi untuk periode ini, juga dipengaruhi adanya penurunan impor,” kata Eko kepada awak media, belum lama ini.

Berbicara tren ekspor sepanjang Januari hingga Juni, masih didominasi batu bara. Komoditas ini, membentuk 83,49 persen kinerja ekspor daerah. Kemudian, produk rokok atau tembakau dipabrikasi juga cukup menggeliat di semester I 2020. Meski bukan produk asli Kaltara, ekspor komoditi ini mampu membentuk 6,41 persen nominal ekspor daerah.

Selanjutnya, ekspor Kaltara juga masih dipengaruhi komoditas kelapa sawit. Terutama produk turunannya dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO). Dalam struktur ekspor, kelapa sawit mengambil peranan sebesar 4,60 persen.

Kemudian komoditi kayu dan polywood bersama hasil perikanan melengkapi komoditi ekspor utama daerah. Pada semester I 2020, masing-masing komoditi tersebut membentuk kinerja ekspor sebesar 3,79 persen dan 1,18 persen.

“Masih seperti tahun-tahun  sebelumnya, ekspor komoditi melalui pelabuhan di Kaltara masih didominasi barang hasil tambang. Utamanya batu bara. Selanjutnya juga ada rokok yang berasal dari Singapura untuk dijual kembali ke Filiphina melalui Nunukan. Selain itu, CPO, hasil kayu, polywood dan hasil perikanan yang cukup dominan juga diekspor dari sini,” jabar Eko.

Mengenai negara tujuan ekspor utama, dikatakan Eko terdiri dari China, India, Malaysia, Korea Selatan, Filiphina, Jepang, Thailand dan New Zealand. Seluruh negara tersebut membutuhkan suplai batu bara dari Kaltara.

“Tapi selain batu bara, ada beberapa negara yang juga membutuhkan komoditi lain. Seperti hasil pertanian ke Malaysia, rokok tadi ke Filiphina, Polywood ke Jepang dan lainnya,” tambah Eko.

Beralih ke tren impor, dijelaskan Eko benar-benar dipengaruhi rokok dari Singapura. Pada semester I kemarin, impor rokok naik sampai 342,89 persen. Sehingga mampu membentuk 38,51 persen nominal impor Kaltara.

“Rokok yang diimpor dari Kaltara untuk diekspor kembali ini, cukup besar nilainya. Bahkan sepanjang Januari hingga Juni kemarin, menempati urutan pertama. Selain rokok, Kaltara juga mengimpor beberapa hasil tambang dan penggalian yang rata-rata dari Malaysia. Kemudian karet dan juga beberapa mesin dan peralatan,” pungkasnya.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah