Tarakan

Menjelang Akhir Masa Jabatan, Sofian Bikin Monumen Minapolitan

Monumen minapolitan yang dibangun Sofian Raga di Simpang Telaga Keramat berbentuk ikan bandeng, udang, dan kepiting. (Foto: Koran Kaltara/ Sofyan Ali Mustafa)
TARAKAN, Koran Kaltara – Jelang berakhir masa jabatan, Wali Kota Tarakan Sofian Raga membuat monumen minapolitan. Monument ini berlambang tiga komoditas andalan Tarakan; udang, kepiting, dan ikan bandeng. Patung ketiga ikon hasil perikanan Tarakan ini memiliki tinggi 4 meter dan bobot mencapai 4 ton, yang diletakan di simpang Telaga Keramat. Tujuannya mempermudah masyarakat melihatnya. “Idenya dari…

TARAKAN, Koran Kaltara – Jelang berakhir masa jabatan, Wali Kota Tarakan Sofian Raga membuat monumen minapolitan. Monument ini berlambang tiga komoditas andalan Tarakan; udang, kepiting, dan ikan bandeng.

Patung ketiga ikon hasil perikanan Tarakan ini memiliki tinggi 4 meter dan bobot mencapai 4 ton, yang diletakan di simpang Telaga Keramat. Tujuannya mempermudah masyarakat melihatnya.

“Idenya dari saya langsung, saya punya pemikiran dan punya kepedulian terhadap kota ini. Saya lihat potensi sangat besar di bidang kelautan dan perikanan, ada bandeng yang cukup besar produksinya, kepiting, dan udang,” jelasnya, Minggu (16/12/2018).

“Ini sangat luar biasa, sebagai apresiasi saya coba membuat suatu ide ilustrasi pemikiran bagaimana kalau kita membuat suatu monumen sebagai rasa terima kasih,” terangnya.

Selain itu, monumen ini juga diperuntukan kepada para pengusaha bidang perikanan dan keluatan, yang telah menyerap tenaga kerja cukup besar.

“Minapolitan itu adalah kegiatan atau aktivitas yang bergerak di bidang keluatan dan perikanan, kalau saya bilang monumen kelautan dan perikanan kepanjangan. Kalau diterjemahkan juga panjang karena semua yang berakitan dengan kelautan dan perikanan ada disitu, di samping itu juga pembuatan monumen ini sebagai upaya memperbaiki sudut pandang kota, masak tiap hari jalan yang dilihat aspal terus,” ucapnya.

Dengan adanya pembangunan ikon yang indah-indah juga akan menyejukan mata dan pembuatan monumen akan dilakukan di setiap sudut yang berpotensi untuk dibangun. Sedangkan untuk biaya pembangunan monumen minapolitan berasal dari hasil penggalangan dana dari para pengusaha di bidang kelautan dan perikanan.

“Kita tidak punya anggaran, saya undang para pengusaha dan Alhamdulillah mereka membantu untuk membiayai pembangunan monumen ini, oleh karena itu saya juga mengapresiasi kepada seniman Tarakan yang sudah membuat ini, ada Pak Husna, Cristoper, dan pak Fendy. Mereka membuat selama 1,5 bulan,” sebutnya.

Sofian minta tolong kepada warga untuk menjaga monumen minapolitan karena bukan untuk warga Tarakan saja tetapi kenangan bagi warga dari luar. Kalau di Surabaya ada monumen Surabaya yang terdiri dari ikan hiu dan buaya.

“Misalnya sudah lama tidak ke Surabaya kangen monumen maka datang kesana, kalau di Tarakan ingat kepiting, bandeng, dan udang maka ingin balik ke Tarakan sekaligus poto di monumen ini. Artinya, monumen ini juga bagian dari promosi kota kepada masyarakat luas dimana saja berada dan sekaligus identitas kota,” ungkapnya.

Belum lagi bandeng, udang, dan kepiting Tarakan sudah terkenal hingga ke Jakarta, Singapura, Korea, Jepang Eropa, dan Timur Tengah. Maka tidak ada salahnya jika membuat monumen minapolitan sebagai jati diri kota sebagai salah satu penghasil perikanan yang mendunia. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa

Editor: Rifat Munisa

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 17 Desember 2018