Ruang Publik

Meningkatkan Semangat Belajar Peserta Didik Melalui Program Home Visit

Adiatman
  • Oleh: Adiatman

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan surat edaran terkait pelaksanaan kebijakan pendidikan, dalam masa darurat Covid-19. Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pun menegaskan pentingnya belajar di rumah sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Sehingga sebagai guru, kita harus dituntut menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan menarik serta menyenangkan, dengan memanfaatkan jaringan internet serta sarana dan prasarana yang ada.

Meskipun sebagian orang berpendapat bahwa internet banyak memberikan pengaruh negatif terhadap diri seseorang, namun ternyata jika manusia dapat melihat dan mampu memanfaatkan sisi positif dari internet, maka internet akan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan. Dan, tentunya akan menjadi sebuah pertimbangan dan tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik di Indonesia, khususnya di Pulau Sebatik yang merupakan wilayah perbatasan.

Menjadi guru yang bertugas di daerah perbatasan adalah hal yang sungguh menarik dan penuh tantangan tersendiri. Hal ini karena, sebagian wilayah tak didukung oleh jaringan internet yang memadai, sehingga proses pembelajaran daring di masa-masa pandemi ini akan membuat sebagian guru mengalami kesulitan dalam mentransfer knowledge.

Apalagi, salah satu tantangan pendidikan dewasa ini adalah membangun keterampilan abad 21, di antaranya adalah keterampilan teknologi informasi dan komunikasi, keterampilan berpikir kritis dan sistemik, keterampilan memecahkan masalah, serta keterampilan berkomunikasi efektif dan keterampilan berkolaborasi atau kerja sama.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah gaya hidup dan cara pandang  seseorang, baik dalam bekerja, bermain, belajar maupun cara mereka bersosialisasi.

Memasuki abad 21 kemajuan teknologi semakin berkembang dan tak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kehadiran teknologi telah banyak memengaruhi berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali di bidang pendidikan.

Guru dan peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan belajar mengajar abad 21. Pendidik saat ini harus mampu mempersiapkan peserta didik untuk bisa menguasai dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK), memiliki potensi yang sangat besar sebagai sarana atau alat untuk membangun keterampilan dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam pendidikan modern, saya sebagai guru dituntut untuk mampu mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. Artinya, saya harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan inovasi dan strategi pembelajaran yang mengintegrasikan TIK di dalamnya sehingga pembelajaran akan semakin menarik dan kreatif.

Selain itu, guru juga harus belajar melek dengan teknologi agar pembelajaran secara daring dapat terlaksana dengan efektif dan efisien. Banyaknya aplikasi-aplikasi yang memudahkan guru untuk melancarkan pembelajaran daring. Aplikasi seperti Zoom, Webex, Kahoot, Google Clasroom, dan masih banyak lagi aplikasi lainnya yang bisa dimanfaatkan di masa-masa pandemi ini.

Sebagian peserta didik di Indonesia dapat menemukan segala bentuk informasi baik tentang materi pelajaran maupun informasi lainnya yang mereka butuhkan, tanpa batas tertentu serta tak mengenal waktu dan tempat.

Semua itu, didapat melalui internet seperti mencari materi di google, memutar video pembelajaran di youtube, dan masih banyak sumber belajar lainnya yang mudah diperolah dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar, yang tentunya akan memudahkan pekerjaan seorang guru dan peserta didik.

Namun, hal ini tak berlaku untuk sebagian wilayah Nunukan. Khususnya di Kecamatan Sebatik, yang merupakan wilayah II dari tiga wilayah yang ada di Kabupaten Nunukan.

Keterbatasan akses internet menjadi sebuah alasan klasik yang dihadapi oleh peserta didik dan guru di perbatasan.

Akses jaringan yang kurang mendukung, serta sebagian peserta didik belum memiliki gawai atau gadget dan masih banyak lagi hambatan-hambatan lainnya.

Namun, sebagai seorang guru tentunya kita harus dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan proses pembelajaran di masa pandemi ini.

Seperti yang dialami oleh beberapa anak wali saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi peserta didik tidak mengikuti proses pembelajaran di rumah dan tidak merasa puas belajar dengan baik di masa pandemik ini. Salah satunya adalah faktor jaringan yang tidak memadai di tempat tinggalnya. Sehingga, membuat proses pembelajaran tidak efektif dan efisien.

Sesuai dengan Pasal 5 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni, setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Maka sebagai guru, saya harus mengatur strategi  agar peserta didik saya tetap bisa belajar dengan efektif dan efisien tanpa harus ketinggalan banyak pelajaran. Walaupun di tempat tinggal mereka akses internet tidak mendukung.

SMAN 1 Sebatik adalah tempat saya mengajar, di mana sekolah ini  merupakan sekolah yang berlokasi di wilayah perbatasan dan telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai dalam mengakses internet. Sehingga sangat memudahkan kita dalam proses pembelajaran daring.

Namun, masih banyak peserta didik yang kurang berperan aktif dalam pembelajaran daring. Sehingga sangat memungkinkan dapat menurunkan dan memengaruhi semangat serta motivasi belajar peserta didik tersebut, dan tentunya mereka akan tertinggal banyak  materi pelajaran.

Perlu analisis yang kuat dan akurat untuk menentukan apa penyebab peserta didik tidak mengikuti proses pembelajaran secara daring di rumah. Berdiam diri dan tidak mau tahu, adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didiknya.

Apalagi di masa-masa pandemi ini, begitu banyak faktor yang memengaruhinya. Sebagai wali kelas, begitu banyak laporan yang masuk dari guru mata pelajaran terkait dengan banyaknya peserta didik yang tidak mengumpulkan tugas dan tidak berperan aktif dalam proses pembelajaran daring sesuai dengan jadwal mata pelajaran yang telah ditentukan.

Sehingga secara psikologis, peserta didik akan sangat terganggu dan dapat memengaruhi peserta didik untuk  tidak mau belajar lagi karena merasa sudah cukup banyak ketinggalan pelajaran.

Selain itu, sebagian peserta didik juga telah terbentuk pola pikir dan rasa malas yang membelenggu. Sehingga peran tenaga pendidik dan orang tua sangat diharapkan sebagai penggerak, penguat, dan motivator yang jitu untuk mengembalikan semangat peserta didik tersebut.

Sebagai guru mata pelajaran dan wali kelas, saya sangat sibuk dalam  menganalisis pencapaian prestasi belajar peserta didik saya. Namun, hal itu bukan hambatan yang berarti untuk mengidentifikasi peserta didik saya yang memiliki masalah dalam proses pembelajaran daring ini.

Begitu banyak langkah-langkah strategi yang dilakukan untuk melihat perkembangan peserta didik saya. Seperti, langkah yang pertama adalah membuat beberapa Kartu Kontrol, yang nantinya akan dibagikan kepada mereka.

Namun, saya membagikannya sebelum pandemi, sehingga membantu saya dalam mengontrol dan menganalisis pencapaian yang telah diraih oleh peserta didik dan anak wali saya melalui kartu kontrol tersebut.

Penggunaan kartu kontrol ini, akan sangat memudahkan saya untuk mengidentifikasi peserta didik mana yang malas dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru mata pelajaran. Sehingga sebagai guru mata pelajaran dan wali kelas, saya dengan cepat bisa mencari langkah yang tepat untuk menangani masalah belajar yang dihadapi oleh peserta didik tersebut.

Langkah strategi yang kedua yang saya terapkan adalah menyusun program Home Visit.  Di mana program ini sistemnya adalah berkolaborasi dengan guru mata pelajaran, wali kelas, guru BK, peserta didik dan orangtua/wali peserta didik, di mana bertujuan untuk mencari sumber masalah, memecahkan masalah peserta didik secara tuntas, menganalisis penyebab ketidakhadiran dan permasalahan lainnya yang dialami oleh peserta didik dalam proses  pembelajaran daring.

Oleh karena itu, program Home Visit ini, dapat kita bagi beberapa tahap.

Tahap pertama adalah, ketika guru mata pelajaran dan wali kelas menyampaikan laporan tentang peserta didik yang tidak mengerjakan tugas, kurang responsif dan tidak pernah mengikuti pembelajaran secara daring sama sekali. Sehingga nantinya sangat mudah dikenali peserta didik mana saja yang bermasalah dan sangat membutuhkan penanganan khusus.

Pada tahap  ini dapat kita sebut sebagai masa mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh peserta didik. Dalam kegiatan ini, guru mata pelajaran dan wali kelas berkoordinasi dan berkolaborasi dengan baik dalam mengidentifikasi nama-nama siswa yang bermasalah.

Pada tahap ini pola keseriusan harus kuat antara guru mata pelajaran yang satu dengan guru mata pelajaran lainnya, agar terbentuk koordinasi yang baik dan memudahkan dalam mengelompokkan peserta didik yang bermasalah.

Namun pada tahap ini, bukan berarti ketua kelas dan teman-teman sebayanya tidak dilibatkan dalam mencari informasi penting terkait dengan peserta didik tersebut.

Pada tahap kedua, wali kelas akan menyampaikan masalah yang dialami oleh peserta didik tersebut, sesuai dengan informasi dari guru mata pelajaran dan data-data yang sudah diperoleh sebelumnya, kemudian disampaikan ke Guru BK.

Lalu, guru BK mencocokkan laporan hariannya yang telah direkap atau dibuat sebelumnya. Sehingga terbentuklah kolaborasi yang baik antara guru BK, guru mata pelajaran dan wali kelas dalam hal mengidentifikasi persoalan yang dialami oleh peserta didik.

Pada tahap ketiga, wali kelas dan Guru BK mulai mencari data peserta didik tersebut seperti alamat tempat tinggal, jarak yang harus ditempuh ke rumah peserta didik, apakah jauh dari perkotaan atau tidak, dan bagaimana dengan akses internet di tempat tinggalnya, apakah cukup memadai atau bahkan tidak ada sama sekali.

Sehingga sebagai guru yang bijak, kita harus betul-betul memahami kondisi dan karakter peserta didik kita. Oleh karena itu, tahap ini kita sebut sebagai tahap pencarian identitas siswa secara komprehensif.

Pada tahap ini, guru BK membuat jadwal kunjungan rumah atau home visit  terhadap peserta didik yang telah dianggap bermasalah dalam belajarnya dan akan berpotensi menghambat atau menghentikan masa depannya.

Pada tahap keempat, wali kelas dan Guru BK melakukan home visit atau kunjungan rumah ke peserta didik tersebut dan melakukan evaluasi serta mengkroscek kebenaran informasi data yang telah diperoleh sebelumnya. Agar orangtua atau wali peserta didik tidak ragu atau bingung terkait dengan persoalan yang dihadapi anaknya.

Pada tahap ini, pihak sekolah yang diwakili oleh wali kelas dan Guru BK harus benar-benar membangun kolaborasi dan komunikasi yang baik dengan orangtua/wali peserta didik. Dan tentunya peserta didik yang bersangkutan harus siap hadir dan bersikap terbuka agar pemecahan masalah berjalan dengan efektif dan efisien.

Dengan menggunakan metode interview dan data-data yang telah dikumpulkan, maka sangat memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orangtua/wali peserta didik tersebut. Dan data yang diperoleh dari hasil home visit akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan sumber data yang baru dan akan dilaporkan ke kepala sekolah. Jika masalah atau kasus yang di hadapi peserta didik tersebut berkategori ringan atau berat.

Perlu diketahui bahwa sebagian wilayah Sebatik, masih ada ditemukan daerah yang belum memiliki akses jaringan yang cukup memadai bahkan tidak ada sama sekali sehingga membuat peserta didik bingung dalam proses pembelajaran secara daring. Terkadang mereka harus mendaki bukit yang terjal untuk mencari dan menemukan signal yang kuat.

Bukan saja persoalan jaringan yang kurang atau lemah, tapi sebagian peserta didik membantu orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka  Ada yang melaut, mattomba (memanen kelapa sawit) dan membantu orangtuanya mabbettang (mengikat rumput laut).

Apalagi, dengan belajar dari rumah akan sangat menyedot paket data mereka dan  masih banyak lagi alasan klasik lainnya. Hal ini terungkap di saat kami sedang berkunjung ke rumah mereka masing-masing.

Dari hasil kunjungan rumah tersebut diperoleh sebuah informasi tentang alasan peserta didik  jarang atau bahkan tidak pernah mengikuti pembelajaran secara daring yang tentunya akan mengancam masa depan mereka jika dibiarkan berlarut-larut.

Sebagai guru mata pelajaran, tentunya saya sangat terbantu dengan adanya program home visit ini dalam memecahkan setiap persoalan dan kesulitan peserta didik. Sehingga memungkinkan dapat mengembalikan semangat belajar mereka dan tentunya pembelajaran daring saya semakin terasa menyenangkan dan bermakna.

Memberikan motivasi dan penguatan karakter secara persuasif dan berkesinambungan melalui program Home Visit akan menghasilkan dampak positif terhadap perkembangan belajar peserta didik. Peserta didik yang tadinya kehilangan semangat dan jati dirinya akan cepat tertangani dengan baik dan tuntas. Sehingga tidak mudah berputus asa dalam meraih cita-citanya dan akan lebih mengutamakan sekolahnya.

Namun, perlu diketahui bahwa program home visit ini, tidak hanya berlaku di masa-masa pandemi saja, tetapi sebenarnya sudah lama terlaksana dengan baik, jauh sebelum adanya pandemi ini.

Jadi, kolaborasi yang terjalin dengan baik antara guru mata pelajaran, wali kelas,  dan guru BK dengan orangtua/wali peserta didik akan sangat membantu dalam proses pemecahan masalah yang dihadapai oleh peserta didik.

Dan, tentunya membuat peserta didik lebih percaya diri setelah diberikan pencerahan dan penguatan secara bermakna.

Walaupun mereka berada di perbatasan  dan akses jaringan masih terbatas, bukan berarti semangat belajar mereka terbatas, atau bahkan harus hilang. Karena itu, bukan penghalang bagi kami sebagai tenaga pendidik di perbatasan untuk terus berjuang dan berbagi ilmu serta informasi kepada mereka.

Sehingga dapat dikatakan bahwa program home visit ini sangat  cukup efektif dan efisien dalam meningkatkan semangat belajar peserta didik di masa-masa pandemik ini. (*)

*) Penulis adalah guru di SMAN 1 Sebatik

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah