Ekonomi Bisnis

Mengintip Usaha Ayam Petelur di Desa Malinau Hilir

Lokasi peternakan ayam petelur di Desa Malinau Hilir. (foto: istimewa)

MALINAU, Koran Kaltara – Telur ayam menjadi salah satu komoditas pangan strategis yang dicatat pemerintah. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, telur ayam banyak digunakan oleh pelaku usaha olahan makanan.

Salah satunya, sentra produksi telur ayam di Desa Malinau Hilir, Kecamatan Malinau Kota. Usaha ini didirikan sejak tahun 2019 oleh Edi Nurtono.

Saat diwawancara Koran Kaltara, Edi mengatakan, bahwa usaha ayam petelurnya sudah masuk periode kedua. Periode ini untuk melihat sejauh mana produktifitas ayam dalam menghasilkan telur.

Periode pertama, dia memiliki 2 ribu ayam petelur. Setelah berhenti berproduksi, ayam tersebut kemudian dijual atau biasa disebut ayam merah.

“Di periode kedua ini alhamdulillah jadi 5 ribu. Tapi sekarang tinggal 4.500. Karena ada yang mati, tidak bertelur dan dijual,” ujarnya, Senin (13/9/2021).

Saat ini ayamnya dapat menghasilkan 102 piring telur setiap harinya. Jumlah ini masih bisa bertambah dalam waktu dekat.

“Produksi masih 102 piring. Karena belum bertelur semua itu. Kisaran 70 persen yang sudah bertelur,” jelasnya.

Telur yang diproduksi hanya dipasarkan di sekitar Malinau. Kuantitas produksi belum mencukupi untuk dipasok ke luar daerah.

Dia masih kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Saat ini produksinya kerap tidak mampu mencukupi semuanya.

“Permintaan di sini tinggi. Padahal itu baru tetangga-tetangga, kios-kios saja. Masih Ndak cukup telur saya,” ungkapnya.

Kendati memiliki pangsa pasar bagus, ada tantangan yang dia menghadapi, yakni tingginya sejumlah komposisi pangan ternak yang berasal dari luar daerah.

“Sebenarnya tantangan itu banyak sih. Tapi salah satu yang intinya pasokan makanan. Sebagian memang ada yang di Malinau, semisal jagung. Tapi komposisi pakan lain dari pabrikan, luar daerah. Jadi sedikit mahal kalau sampai sini,” pungkasnya. (*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Sobirin