Ruang Publik

Menggapai Lailatul Qadar di Tengah Pandemi

Irianto Lambrie
  • Oleh: DR. H Irianto Lambrie (Gubernur Kalimantan Utara)

Alhamdulillahirrabbil alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah, kita telah menjalani ibadah di dua puluh hari Ramadan 1441 H/ tahun 2020. Tak terasa kita akan memasuki sepuluh hari terakhir puasa, atau fase ketiga dalam bulan penuh berkah, yaitu fase pembebasan dari siksa neraka.

Pada sepuluh hari terakhir juga diyakini ada salah satu malam yang sangat diistimewakan oleh Allah SWT. Di mana pada malam itu, kebaikannya sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun, yaitu malam Lailatul Qadar.

Malam lailatul qadar merupakan malam penuh rahmat dan ampunan. Keistimewaan malam ini juga dijelaskan dalam Al-Quran surah Al-Qodr ayat 3, yang artinya: jika seorang muslim beribadah pada malam tersebut, berarti ia mendapat fadilah ibadah selama 83 tahun lebih, sedangkan belum tentu seorang muslim bisa hidup selama itu. Tetapi Allah menyiapkan keistimewaan untuk umat Rasulullah SAW. Pada malam tersebut ampunan-Nya yang sangat besar, juga ganjaran pahala lainnya.

Setiap muslim yang beriman tentu sangat ingin mendapatkan malam lailatul qadar. Ada berbagai amalan hal yang bisa dilakukan seorang muslim untuk meraih lailatul qadar.

Salah satu amalan yang dianjurkan dilakukan pada hari-hari terakhir atau 10 hari terakhir Ramadan adalah melakukan i’tikaf di masjid.

Namun, di tengah pandemi virus corona saat ini, tentu kita tidak bisa melaksanakan i’tikaf di masjid. Terutama, bagi yang tinggal di zona merah Covid-19.

Majelis Ulama Indonesia dan pemerintah telah menganjurkan agar kita untuk sementara waktu tidak melaksanakan ibadah di masjid. Ini dilakukan untuk mencegah penularan virus.

Lalu, bagaimana sebenarnya aturan i’tikaf itu menurut berbagai mazhab? Bagaimana meraih malam lailatul qadar, jika i’tikaf tidak bisa dilakukan di masjid?

Menurut pendapat para ulama, sebagian besar sepakat bahwa i’tikaf harus dilakukan di masjid. Artinya, tidak sah i’tikaf jika dilakukan selain di masjid.

Dalam kondisi seperti sekarang, sudah bisa dipastikan bahwa kita tidak mungkin untuk menggelar i’tikaf di masjid. Terutama, bagi saudara muslim yang tinggal di zona merah. Sebab, kegiatan i’tikaf memungkinkan aktivitas publik dan perkumpulan jamaah, yang saat wabah ini harus dihindari.

Allah Mahaluas Karunia-Nya, Allah Mahabaik. Meski kita tidak bisa ber-i’ktikaf di masjid, bukan berarti tidak bisa meraih lailatul qadar. Malam lailatul qadar bisa diraih dengan berbagai macam cara dan tidak harus dengan i’tikaf.

Banyak amalan yang bisa membuat umat muslim meraih keutamaan dari malam lailatul qadr, di antaranya dengan salat malam, zikir, tafakur, membaca Alquran, berkumpul bersama keluarga di rumah saja, tahajud bersama keluarga dan amal shalih lainnya.

Berikut amalan-amalan yang bisa kita lakukan di rumah, selama sepuluh hari Ramadan terakhir.

Menghidupkan Malam dengan Ibadah

Menghidupkan malam yang dimaksud, yaitu mengisi kegiatan malam dengan beribadah, misalnya membaca Alquran. “Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan iman dan ihtisab (mengharapkan pahala), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau,” (HR Bukhori).

Kata ‘menghidupkan’ dalam hadits tersebut ialah kata umum yang berarti apa yang dilakukan pada malam ini tidak terpaku pada satu jenis ibadah. Bisa dengan salat berjamaah di rumah, membaca Alquran, berzikir, berdoa, dan makan sahur pun termasuk ibadah.

Melaksanakan Salat Malam

Tidak ada ketentuan berapa rakaat harus salat di malam hari Ramadan, termasuk malam-malam 10 terakhir Ramadan. Tidak ada batasan apakah itu delapan rakaat atau dua puluh rakaat, bahkan lebih.

Dan salat malam tersebut bukanlah termasuk salat tarawih. Salat malam bisa diniatkan dengan melakukan salat tahajud. Namun yang harus diperhatikan ialah, apabila sebelumnya sudah salat witir usai tarawih, maka sudah tidak boleh lagi melakukan salat witir karena witir tidak boleh dilakukan sebanyak dua kali dalam satu malam.

Tilawah Alquran

Seorang muslim tidak diharuskan untuk mengkhatamkan Alquran pada satu malam itu. Akan tetapi, jika memang mampu dan bisa mengkhatamkan Alquran itu sungguh lebih baik dan tidak diragukan lagi orang tersebut akan mendapat pahala yang besar.

Memperbanyak Zikir dan Doa

Memperbanyak zikir adalah salah satu cara paling mulia untuk menghabiskan malam guna mendapat kemuliaan malam lailatul qadar. Apalagi zikir yang memang benar-benar diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. ‘Laa llaaha Illallah’ yang disebutkan dalam hadits bahwa itu ialah afdhalnya zikir.

Semua amalan yang saya sebutkan di atas bisa dilakukan di rumah. Ini artinya, malam lailatul qadar dapat diraih, sekalipun berdiam saja di rumah atau di musala rumah.
Walaupun tidak mendapat pahala i’tikaf, namun Insya Allah esensinya bisa didapatkan.

Selaku kepala daerah, saya kembali mengingatkan kepada masyarakat Kalimantan Utara, untuk tetap di rumah. Dengan cara ini, kita akan cepat memutus penyebaran virus Corona.

Bagi umat muslim, agar tidak memaksakan diri untuk menjalankan i’tikaf di masjid di tengah situasi wabah seperti ini. Hal demikian sebagaimana ditekankan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 195, yang berbunyi, “Dan janganlah kamu menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Mari kita gapai malam lailatul qadar dengan tidak memaksakan diri melakukan sesuatu yang sunnah (i’tikaf), yang justru malah menghilangkan sesuatu yang wajib, yaitu menjaga keselamatan. Wallahu A’lam Bishawab. (*)

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah