Gaya Hidup

Mengenal Model Henna Hits di Bulungan

Hena Art - Seniman Hena di Tanjung Selor, Syarifah Nur Azizah saat mengerjakan ukiran pemesannya. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Harga Disesuaikan dengan warna, ukuran dan kerumitan desain.

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Henna dikenal sebagai tumbuhan komestik tertua yang biasa digunakan kaum hawa untuk melukis tubuh pada acara tertentu. Seperti pernikahan, pesta hingga saat memasuki masa hamil dan melahirkan.

Berawal dari negara beriklim panas seperti Pakistan, India dan Mesir, saat ini Henna telah banyak dikenal di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bulungan – Kalimantan Utara. Hal ini tidak terlepas dari akulturasi budaya masyarakat pendatang yang masuk di Bumi Tenguyun sekian tahun yang lalu.

Berbicara motif Henna yang sedang hits di Bulungan, salah satu seniman Henna di Tanjung Palas, Syarifah Nur Azizah mengatakan, secara umum masih tidak terlepas dari tren di India dan juga Saudi Arabia. Setidaknya, dua negara tersebut memiliki motif ukiran yang menjadi kiblat seniman Henna sampai sekarang.

“Sebenarnya kalau untuk motif Henna itu banyak macam. Setiap desain ada nama dan juga maknanya. Tapi kalau di Indonesia, khususnya di Bulungan ini, yang terkenal itu India, Arabic dan juga Mandala. Karena kan memang henna ini awalnya ya dari India sama Arab,” kata Rima – sapaan akrabnya, Minggu (26/1).

Diminta mendeskripsikan motif-motif yang dimaksud, dikatakan Rima untuk motif India cenderung yang paling rumit. Selain itu, cakupan ukiran di bagian tubuh juga lebih luas dibanding motif lainnya.

“Desain India kalau menurut aku sih yang paling rumit. Karena unsur-unsur nya juga banyak. Seperti motif kubah, gelang, cincin dan kalung-kalungan begitu. Inspirasi awal nya ya mungkin karena kebiasaan masyarakat sekitar di sana. Selain itu juga motifnya ini seperti tangkai dan daun,” ujar Rima.

Lanjutnya, untuk model Arabic, didominasi motif bunga dan daun. Dalam pengerjaannya, motif ini lebih cepat diselesaikan karena tidak terlalu penuh dibagian tubuh yang akan dihenna.

“Kalau Arabic lebih ke daun dan bunga untuk desainnya. Ada juga yang mengkombinasikan garis tebal dan tipis. Model ini tidak terlalu penuh tipenya,” kata pemilik akun instagram Snari_hennaart tersebut.

Terakhir untuk model Mandala, desainnya mengarah ke lukisan tiga dimensi dan berbentuk simetris. Semisal untuk simetris dari bentuk candi dan bentuk simetris seperti perpaduan lingkaran dan bentuk lainnya.

“Kalau Mandala itu desainnya lebih ke yang tiga dimensi dan berbentuk simetris. Seperti candi sama lingkaran tadi,” tambah Rima.

Dalam setiap mengerjakan permintaan yang masuk, Rima mengaku bahwa wajib hukumnya untuk mencantumkan inisial awal pencipta model ketika akan diposting. Menurutnya, hal tersebut menjadi etika seniman Henna yang menghargai setiap karya cipta antar sesama.

“Biasanya ini kan pemesan sudah punya gambar sendiri. Bisa ambil dari google atau media sosial. Nah kalau kita mengerjakan contoh gambarnya dari orang, pas kita posting ya kita sebutkan kalau ini ide awal gambarnya dari mana. Terus kita juga infokan kalau ada beberapa bagian yang udah kita modifikasi sendiri,” Jabar Rima yang sudah mulai menekuni profesi ini mulai enam tahun lalu.

Untuk saat ini, Rima mengaku bahwa dirinya terus mencari banyak referensi gambar Henna dari berbagai sumber. Dengan begitu, mampu mengasah sisi kreatifitas dan kemampunya dalam menciptakan model gambar lebih banyak. Rima juga selalu mengupayakan agar hasil karyanya bisa menjadi tren dan banyak digunakan oleh masyarakat.

“Kita memang harus terus cari ide supata ga monoton. Kalau banyak juga variasi pilihan gambarnya, pelanggan kita juga bisa lebih menyesuaikan dengan yang dia pengen. Paling nanti ada yang dimodifikasi pada bagian tertentu saja,” kata Rima.

Dalam setiap pengerjaan, dikatakan Rima bahwa waktu yang dibutuhkan menyesuaikan jenis pesanan. Namun dari pengalamannya hingga saat ini, dirinya paling cepat menyelesaiakn permintaan dalam waktu 30 menit. Sedangkan paling lama sampai enam jam.

“Kalau yang enam jam itu desainnya full. Jadi kita tunggu kering dulu baru kerja lagi. Belum lagi pakai Glitter dan hena di kuku,” tambah Rima.

Ditanya soal harga, Rima mematok antara Rp200 ribu untuk model umum dengan hena merah dan Rp250 ribu dengan mengkombinasikan Henna warna merah dan putih. Selain itu, harga juga disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan desain pemesan.

“Pengennya sih soal harga di sini ya bisa sama dengan Tarakan yang udah kompak. Jadi persaingannya sehat karena keterampilan, bukan dari harga. Kalau kita pasang harga itu tapi ada yang lain pasang harga rendah, otomatis kan jadi jatuh harganya di sini semua,” tutup Rima.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Sobirin

About the author

Avatar

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment