Ruang Publik

Mendidik Generasi TikTok

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari, S. Pd

MULAI dari artis papan atas seperti Dian Sastro dan Luna Maya, sampai sekelas pejabat seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, semuanya akrab dengan aplikasi yang satu ini. Demam TikTok memang sedang melanda Indonesia. Tak peduli usia tua atau muda, tak pandang latar belakang sosial dan budaya, TikTok digemari hampir semua orang.

Sempat, saat keluar dari ruang kelas dan menuju ruang guru, saya memergoki salah seorang siswa sedang ber-TikTok ria. Bukannya malu, dengan santai dia malah mengundang saya untuk ikut bermain bersama.

Sebuah undangan yang tentu saja saya tolak dengan halus. Tiktok bukanlah hal yang ada di dalam daftar hobi saya.

TikTok merupakan sebuah platform yang digunakan untuk mengunggah klip video musik berdurasi kurang lebih 15 detik. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur penambahan stiker dan filter menarik yang mudah dioperasikan.

Diluncurkan tahun 2016 dengan nama Douyin, kini TikTok tercatat telah memiliki lebih dari 800 juta pengguna aktif di seluruh dunia (Kata Data-24/04). Hal ini terbilang cukup istimewa mengingat TikTok bukan diproduksi oleh Silicon Valley, tapi Cina.

Sekitar tahun 2018, masyarakat Indonesia sendiri sempat dihebohkan oleh kehadiran Bowo Alpenliebe. Remaja tanggung yang kini berusia 14 tahun itu melejit namanya sejak video-video TikToknya viral dan digandrungi oleh publik.

Bowo pun tenar mendadak. Dia bahkan dikabarkan sempat mengadakan acara jumpa penggemar dengan tiket yang dibanderol sampai dengan Rp100.000.

Fenomena Bowo Alpenliebe menyampaikan kepada kita sebuah pesan disrupsi pada dunia hiburan. Bahwa di masa ini, seseorang tidak perlu bersusah payah mengikuti audisi puluhan bahkan ratusan kali untuk menjadi populer.

Cukup bermodalkan sebuah ponsel pintar dan rasa percaya diri lebih di depan kamera, maka peluang itu ada. Siapapun pada akhirnya dapat menjadi artis.

Dari sisi positif, TikTok telah memangkas jarak antara seseorang dengan mimpinya. Privilese yang dulu menjadi milik orang-orang dari kalangan menengah ke atas, kini dapat diakses hampir semua golongan.

Melalui fitur yang ditawarkan, TikTok membantu pengguna menghasilkan sebuah karya sederhana yang memungkinkan mereka meraih popularitas dengan mudah. Selain itu, salah seorang siswa yang saya wawancarai mengaku bahwa TikTok juga membantunya melepas stres dari beban tugas sekolah yang menumpuk.

Di tengah merebaknya TikTok, sebenarnya ada ancaman tak kasat mata yang tengah mengincar dunia pendidikan. Akses dan pengoperasian yang mudah dapat disalahartikan oleh anak usia sekolah.

Mereka menggunakannya semata untuk mengejar kepopuleran di dunia maya. Segala cara mereka lakukan demi membuat video, bahkan yang terlihat konyol sekalipun, demi disukai dan mendapat komentar banyak orang.

Hal ini tentu bertentangan dengan pendidikan karakter yang gencar dipromosikan, sejak berlakunya kurikulum 13. Di sekolah, para guru mati-matian menciptakan generasi yang menghargai proses dan kerja keras.

Namun, semua seolah terpatahkan oleh tawaran untuk menjadi populer dengan cara cepat. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama para orang tua dan guru dimanapun berada.

Bagaimana cara kita membentengi anak-anak dari pola pikir instan yang mengiringi muculnya TikTok dan aplikasi sebangsanya?

Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005, disebutkan bahwa tugas guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Hal itu berarti selain ranah kognitif, seorang guru juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter pada diri siswa agar mereka tumbuh sebagai individu yang matang demi hidup yang lebih baik.

Mengajarkan nilai dari usaha dan kerja keras termasuk salah satunya. Oleh karena itu, dalam setiap interaksi dengan peserta didik, hendaknya kita menyisipkan sebuah pesan bahwa tidak sepatutnya popularitas dijadikan sebagai tujuan akhir.

Sebaliknya, popularitas harus dipandang sebagai bonus dari usaha dan kerja keras.

Apa jadinya jika pola pikir semacam ini absen dalam diri anak? Maka kita akan melihat sebuah generasi yang rentan putus asa, kurang gigih dalam memperjuangkan cita-cita, dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

Hal lain yang patut kita waspadai adalah terjadinya kerancuan dalam berkarya. Tentang ini kita bisa belajar dari Bowo Alpenliebe. Salah satu pertanyaan kritis yang harus kita ajukan adalah karya apakah yang telah dihasilkan seorang Bowo dalam hidupnya selain menghasilkan video-video viral di TikTok?

Mungkin kita akan mengalami sedikit kesulitan dalam menjawabnya, karena Bowo memang bukanlah artis seperti Iqbaal yang selain bermain film, juga sukses di kancah musik Indonesia bersama band yang didirikannya, Svmmerdose. Bowo adalah artis TikTok.

Berkarya juga berarti mencipta. Jadi, sudah pantaskan seseorang yang menghasilkan video di TikTok dikatakan sebagai pencipta? Siswa lain yang saya wawancarai mengaku bahwa TikTok memberinya fasilitas untuk berkarya secara percaya diri.

Anggapan seperti ini tentu tidak salah. Bagaimanapun, video di TikTok memang adalah hasil kreativitas para penggunanya, dengan catatan bahwa kreativitas itu hanya sebatas sebagai pengguna, alih-alih pencipta. Lantas, masihkah kata berkarya relevan untuk mereka?

Poin penting lainnya yang harus kita garis bawahi adalah ada tidaknya manfaat jangka panjang yang didapatkan oleh anak-anak. Coba kita bandingkan, seseorang yang menyisihkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari bahasa asing dengan mereka yang sibuk ‘berkarya’ di TikTok.

Mempelajari bahasa asing memang terdengar sulit, serta memakan waktu yang relatif lama. Akan tetapi, kita juga tak dapat menyangkal bahwa sekali menguasainya, keterampilan tersebut akan bermanfaat seumur hidup kita.

Bagaimana dengan mereka yang sibuk menghasilkan video-video untuk sekedar viral, selain mendapat popularitas semu nan singkat, adakah manfaat lain yang mereka dapat? Video itu bahkan mungkin sudah dilupakan orang setelah satu atau dua bulan.

Jika anak-anak menganggapnya sekedar sebagai hiburan di tengah padatnya jadwal belajar, mungkin para orang tua di rumah dan guru di sekolah tak perlu terlalu khawatir.

Kekhawatiran kita justru muncul karena tidak semua dari anak dan remaja tersebut memiliki kesadaran semacam ini saat menghibur diri di dunia maya. Bisa-bisa yang terjadi adalah kecanduan, sama halnya dengan mereka yang kecanduan game online.

Sudah saatnya para guru bekerja “out of the box”. Mengajar dan mendidik generasi TikTok seperti ini memang tidak cukup dari ruang kelas. Kita dekati dan rangkul mereka, bahkan di dunia maya, untuk melihat perilaku yang mungkin luput dari pengawasan selama di sekolah. Kita selipkan motivasi-motivasi untuk menghargai usaha dan kerja keras di setiap kesempatan yang ada.

Theodore Roosevelt pernah berkata, “hal yang berharga tidak didapatkan dengan mudah.” Ayo, Bapak Ibu Guru, bersama-sama kita ciptakan generasi yang tangguh, ulet dan pekerja keras. (*)

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah