Ruang Publik

Membangun Paradigma Baru Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Literasi Digital 4.0

Nur Rahman
  • Oleh: Nur Rahman, S.Pd.

PERKEMBANGAN digitalisasi memasuki kemampuan menguasai teknologi informasi telah menjadi basis utama dalam kehidupan ini, salah satu basis utama adalah Pendidikan. Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan formal berperan menyiapkan insan Pendidikan yang cerdas dan berahklak mulia.

Lembaga Pendidikan formal yang berperan menyiapkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing secara global, dan menguasai perkembangan teknologi merupakan hal yang penting untuk semua orang dan penting bagi masa depan suatu negara (Kanematsu & Barry, 2016).

Cita–cita luhur bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD Negera Republik Indonesia 1954 yaitu,  “ Mencerdaskan Kehidupan Bangsa “. Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa ini menjadi tanggung jawab para pendidik yaitu orangtua, guru, masyarakat dan pemerintah (negara) melalui mekanisme dan regulasi yang diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Oleh karena itu paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungan yang akan mempengaruhi dalam cara berpikir (kognitif), bersikap (afektif) dan bertingkah laku (konatif).

Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai dan praktiknya yang diterangkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama khususnya dalam disiplin intelektual. Dan, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkan secara sehat, bijak, cerdas, cermat, cepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital berupa kultur (culture), yaitu pemahaman ragam konteks penggunaan dunia digital;  kognitif (cognitive), yaitu daya pikir dalam menilai konten; konstruktif (constructive), yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual; komunikatif (comunicative), yaitu memahami kinerja jejaringan dan komunikasi di dunia digital;  kepercayaan diri yang bertanggung jawab; kreatif melakukan hal baru dengan cara baru dan kritis dalam menyikapi konten dan bertanggung jawab secara sosial.

Sedangkan prinsip dasar pengembangan literasi digital berupa pemahaman untuk mengekstrak ide secara eksplisit dan implisit dari media, saling ketergantungan antara media yang satu dengan yang lainnya, faktor sosial menentukan keberhasilan jangka panjang media yang membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi dan membentuk ulang media itu sendiri dan kurasi yaitu kemampuan untuk menilai informasi, menyimpan agar dapat diakses kembali.

Sementara untuk kerangka literasi digital berupa proteksi (safeguard) yaitu perlunya kesadaran atas keselamatan dan kenyamanan pengguna internet, yaitu perlindungan data pribadi, keamanan daring serta privasi individu dengan layanan teknologi enskripsi.

Kemudian hak-hak (right) hal kebebasan berekspresi yang dilindungi hak atas kekayaan intelektual dan hak berserikat atau berkumpul dan pemberdayaan (empowerment), yaitu pemberdayaan internet untuk menghasilkan karya produktif, jurnalisme warga dan kewirausahaan, serta hal-hal yang berkaitan dengan etika informasi.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 16 tahun 2014 tentang pemberlakuan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 maka terjadi perubahan sistem pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Pembahasan pendidikan karakter dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor: 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Menurut Peraturan Presiden Nomor: 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter yang selanjutnya disebut PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat pendidikan karakter dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan formal.

Literasi digital dan pendidikan karakter yang baik harus, terintegrasi dalam kurikulum dan program peningkatan Sistem Informasi Manajemen (SIM), Sistem Learning Manajemen (LSM) berbasis digital dan program-program unggulan Sekolah, maka ada beberapa penerapan pembelajaran berbasis digital yang dapat dilakukan.

  1. a) Peningkatan keterampilan (skills); b) Pendekatan ilmiah (scientificapproach); c) pembelajaranotentik dan penilaian otentik (authentic learning & authen-tic assesment).

Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan penguatan Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai tahap. 1. Tahap Pembiasaan , pada tahap ini 15 menit membaca buku non pelajaran (literasi membaca) , pembuatan jurnal membaca siswa, penyimpan saran literasi ( buku referensi diperpustakaan, area baca dan akses internet).

  1. Tahap Pengembangan literasi digitalmenjadi budaya sekolah.MacQuarrie (2013), secara sederhana menyebutkan bahwa “digital literacy is less about tools and more about thinking.” MacQuarrie(2013) meyakini literasi digital bukan hanya tentang “kemampuan menggunakan teknologi digital, melainkan juga kemampuan untuk menempatkan, mengorganisasi, memahamin, mengevaluasi, dan menganalisis informasi menggunakan teknologi digital”.
  2. Tahappembelajaran. Pada tahap iniguru mampu menggunakan perangkat pembelajaran berbasis digital dengan muatan karaker pembelajaran (literasi digital). Pembiasaan literasi digital (digital-age literatio) dengan menggunakan smartphone group WhatsApp, Google Clasroom dan Microsoft Tiem untuk tusa.
  3. Tahap Penguatan Kapasitas Fasilitator. Penguatan aktor atau fasilitator literasi di lingkungan sekolah ditekankan pada pelatihan kemampuan menggunakan dan mengaplikasikan IT oleh kepala sekolah, pengawas, guru, dan tenaga kependidikan tentang literasi digital.

5.Tahap Peningkatan Jumlah dan Ragam Sumber Belajar Bermutu. Peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu di sekolah menjadi kebutuhan yang harus dilaksanakan oleh sekolah dengan beberapa hal sebagai berikut.

Penambahan bahan bacaan literasi digital di perpustakaan; penyediaan situs-situs edukatif sebagai sumber belajar warga sekolah; dan penggunaan aplikasi-aplikasi edukatif sebagai sumber belajar warga sekolah.

  1. Tahap Perluasan Akses Sumber Belajar Bermutu dan Cakupan Peserta Belajar. Penyediaankomputer dan akses internet di sekolah dan penyediaan informasi melalui media digital (website sekolah dan SIM / LSM).
  2. Peningkatan Pelibatan Publik. Sharing session pelibatan para pemangku kepentingan para pemangku kepentingan dan penguatan forum atau gerakan siswa.

Tahap Penguatan Tata Kelola yaitu pengembangan sistem adminstrasi secara elektronik (e-administrasi), peningkatan kemampuan admin atau operator sekolah melalui pendidikan dan pelatihan serta pembuatan kebijakan sekolah tentang literasi digital. (*)

*) Penulis adalah guru di SMA Negeri 1 Sebatik

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah