Ekonomi Bisnis Tana Tidung

Mayoritas Pedagang di Pasar Induk Ambil Stok Barang dari Malinau

Pedagang di pasar induk Tana Tidung. (Foto: Hanifah)

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Hampir Sebagian besar pedagang yang berjualan di Pasar Induk Imbayud Taka, Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap masih mengambil stok barang dari Malinau.

Barang lokal dinilai kurang memuaskan dan menjual hasil lokal akan menurunkan omset penjualan pedagang. Sebagaimana diungkapkan salah satu pedagang, Elis, Jumat (7/8/2020).

“Sudah pernah beberapa kali ambil langsung dari sini (KTT, Red), tapi pembeli malah mengomel katanya kurang bagus. Seperti tahu yang katanya kuning dan cepat berbau asam, taoge juga kuning dan tidak bersih. Pokoknya berbeda dengan barang dari Malinau,” ungkap dia.

Diketahui, tahu asal Malinau lebih putih dan tebal sementara harganya sama dengan tahu lokal Rp5 ribu per bungkus dengan isi 4 kotak tahu. Sementara taoge lokal terlihat kuning dan masih menyisakan kulit kacang hijau yang cukup banyak, sedangkan dari Malinau, hasil taogenya lebih putih dan bersih.

“Bukan cuma tahu dan taoge saja, sayur-sayuran juga dari sana karena Malinau harganya lebih murah dan bisa dijual kembali dengan harga yang lebih murah juga di pasar. Makanya kami mengambil stok di Malinau hanya untuk menjaga kualitas jualan saja, bukannya tidak mau ambil stok dari sini,” sambung dia.

Tak heran, karena seringnya menunggu stok dari Malinau acapkali sejumlah barang jualan pedagang mengalami kekosongan.

Menurut mereka lebih baik kosong dalam satu atau dua hari daripada nekat menjual stok lokal tapi pembeli juga tidak ada yang mau. Perputaran barang dari luar daerah dianggap lebih cepat dan menjanjikan.

“Tidak tahu apa yang jadi penyebab hasil di sini kurang baik, tidak hanya menurut kami tapi juga pembeli, kecuali lombok kecil (cabai rawit) kadang separuh ambil di sini. Kalau kebetulan dari Malinau belum ada masuk, kita mau nya ambil lokal saja karena bisa mengurangi ongkos tapi kondisinya seperti itu,” kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM, Hadi belum lama ini mengakui, hasil lokal belum maksimal dan hampir 64 persen ketersediaan barang berasal dari luar daerah.

Tak hanya dari Malinau tapi juga Bulungan dan Tarakan, bahkan ada yang mendatangkan dari Berau (Kaltim), serta Pulau Jawa dan Sulawesi.

“Hampir 64 persen barang dari luar daerah dan kita masih tetap berharap dengan produk dari luar daerah. Diperkirakan itu juga menjadi salah satu penyebab harga pasaran terbilang lebih tinggi sebab pedagang harus mengeluarkan beban biaya yang cukup besar,” tukas dia. (*)

Reporter: Hanifah
Editor: Didik

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah