Tarakan

Masih Ada Keluhan dalam PPDB SMA Jalur Zonasi

PPDB di SMA 1 Tarakan. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Hampir seluruh Sekolah Menengah Atas (SMA) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Kaltara sudah mengumumkan hasil seleksi Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB), sejak Selasa (30/6/2020) lalu.

Namun, ternyata pelaksanaan PPDB yang digelar online ini masih ada keluhan dari orangtua calon siswa. Salah satunya terkait penerimaan dari jalur zonasi.

Dalam penerimaan melalui jalur zonasi ini, peserta diminta untuk menentukan sendiri titik rumah tempat tinggal hingga ke sekolah, secara online.

Ada keluhan dari peserta, ternyata salah menarik titik rumah ini, namun tidak bisa melakukan perbaikan dan akhirnya tidak bisa diterima, karena melebihi jarak dalam zona yang sudah ditentukan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara Wilayah Tarakan, Akhmad Yani menuturkan terkait keluhan dari calon siswa ini, pihaknya sudah meminta konfirmasi kepada semua SMA yang ada. Terutama, tentang permasalahan zonasi yang tidak sesuai saat input di website.

“Tetapi kan itu yang menginput perserta didik atau orangtuanya. Setelah mendengar keluhan itu, kami juga memberikan kesempatan pada orangtua siswa untuk memperbaiki titik zonasi,” katanya, dikonfirmasi, Kamis (2/7/2020).

Yani juga mengatakan, sudah melakukan evaluasi di titik zonasi, perbaikan dokumen seperti menempatkan foto berkas sesuai tempatnya. Bahkan, para calon peserta didik juga diberi peluang untuk melakukan pendaftaran ulang setelah melakukan pembatalan pendaftaran.

Diakui Yani, tim verifikasi tidak bisa melakukan pengecekan secara manual, karena jumlah pendaftar yang jumlahnya ratusan di setiap panitia PPDB.

“Kita akan tetap memprioritaskan pengecekan dokumen yang dikhawatirkan bermasalah. Klarifikasi, nanti dari pihak sekolah yang menelepon orangtua peserta didik. Dari sekian banyak ada yang lolos, saya pikir lumrah,” tuturnya.

Ia mencontohkan PPDB di SMAN 1 Tarakan dengan jumlah pendaftar sekitar 700 an calon siswa dan SMK 1 yang jumlahnya mencapai ribuan.

Dari kondisi pendaftar yang banyak, dengan tim verifikasi yang masih terbatas ini, diakuinya hanya bisa memverifikasi data yang diinput.

Namun, ia mengaku bisa saja siswa yang melakukan titik koordinat tidak sesuai, akan digugurkan dan dinyatakan tidak diterima. Selama ini pihaknya hanya menerima laporan lisan dan tidak disertakan dengan bukti yang memadai.

Secara umum, permasalahan PPDB SMA ada pada pemahaman informasi teknologi. Pihaknya berharap pemahaman masyarakat terhadap teknologi tetap harus ditingkatkan.

“Tapi ada mekanisme harus ada laporan secara tertulis dari orangtua. Biasanya kalau alamat lengkap dan sekolah sudah sesuai di KK tidak dicek lagi. Saya pikir memang pasti ada kekurangan, kan aturan yang buat manusia. Minimal ini menjadi bahan kajian untuk lebih baik,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala SMAN 1 Tarakan, Erni mengakui ada beberapa calon siswa yang melakukan penitikan zonasi pada saat PPDB tidak sesuai dengan alamat tempat tinggal dalam Kartu Keluarga. Pihaknya juga sudah menyampaikan kepada orangtua dan sudah diumumkan.

“Sampai saat ini ada satu calon siswa yang membuat surat pernyataan bahwa telah melakukan kesalahan penitikan zonasi saat PPDB online. Suratnya akan kami kirim ke Disdikbud Kaltara Cabang Tarakan, baru akan diputuskan calon siswa ini diterima di sekolah atau digugurkan,” katanya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Eddy Nugroho

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah