Ruang Publik

Masa Pandemi, Pola Pendidikan Harus Kreatif dan Inovatif

  • Oleh : Aris Dwi Ariani,S.Pd

DUNIA pendidikan terimbas sangat besar di masa pendemi ini. Sekolah tatap muka secara  langsung masih belum dibolehkan, karena kita harus turut memutus wabah mata rantai virus Covid19. Jangan sampai terkena pada generasi penerus bangsa.

Sehingga, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh seorang guru untuk meramu dalam setiap pembelajarannya secara virtual.

Guru dituntut untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran secara daring, sehingga anak anak tidak jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut. Bagaimana tingkat pemahaman anak atas materi-materi yang telah diberikan secara daring. Melalui dialog interaktif antara guru dan anak, menimbulkan tingkat pemahanan anak atas materi yang baik.

Mengacu pada kreatif dan inovatif, bukan berarti semua kurikulum harus dituntaskan dalam satu semester yang membuat peserta didik terbebani dengan tugas dan target kurikulum yang diberikan oleh guru.

Namun, seperti yang disampaikan oleh Bapak Mendikbud Nadiem Makarim, bahwa kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa.

Ia juga menyampaikan, sekolah dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus, tambah Nadiem, bertujuan memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Sekolah pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat memilih salah satu kurikulum dari tiga opsi yang ditawarkan: tetap mengacu pada kurikulum nasional menggunakan kurikulum darurat; atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. “Semua jenjang pendidikan pada kondisi khusus dapat memilih dari tiga opsi kurikulum tersebut,” terang Mendikbud.

Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) merupakan penyerdehanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Yang mana, diharapkan dengan kurikulum darurat ini akan mempermudah guru untuk memfasilitasi dan memantau pembelajaran siswa di rumah dan membantu orangtua dalam mendapatkan tips dan strategi dalam mendampingi anak belajar dari rumah. Sehingga, peserta didik tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Tak hanya guru yang berperan aktif dan melakukan pembelajaran interaktif dalam setiap pertemuannya bersama peserta didik, namun dalam menerapkan pembelajaran darurat ini diperlukan pula keaktifan partisipasi orangtua / wali dalam memdampingi putra-putrinya belajar di rumah sehingga terbangun hubungan komunikasi dan suasana yang harmonis dan dinamis. Membentuk kenyamanan dan keselarasan dalam belajar bagi peserta didik dalam menuntaskah kompetensi esensial dalam setiap pembelajaran.

Dan, diharapkan pula dengan kurikulum ini tidak ada lagi catatan peserta didik malas atau nakal dalam menyelesaikan tugas dalam setiap kompetensinya karena tugas yang menumpuk diberikan oleh guru.

Juga, tak ada lagi keluh kesah dari orangtua/wali pada saat pendampingan peserta didik mengerjakan tugas di rumah.

Kesulitan, miskonsepi dan permasalahan kepribadian peserta didik dalam pembelajaran di rumah dapat teratasi dengan baik karena komunikasi yang selaras antara guru dan orangtua / wali.  Sehingga kerja sama yang dinamis, harmonis dan berkesinambungan ini dapat menyukseskan pembelajaran di masa pandemi.

Semoga pandemi segera berlalu dan tahun ajaran baru sudah dapat belajar tatap muka secara langsung kembali seperti yang dijanjikan oleh bapak Mendikbud. Aamiin. (*)

*) Penulis adalah Guru IPA SMPN 1 Tanjung Selor

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment