Ruang Publik

Makin Kreatif Kala Pandemi: Sebuah Refleksi

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari

“Pagiku cerahku

Matahari bersinar

Kugendong tas merahku di pundak

Selamat pagi semua

Kunantikan dirimu

Di depan kelasmu

Menantikan kami”

 

LIRIK lagu berjudul Guruku Tersayang di atas sepertinya kini nampak begitu tak relevan. Bagaimana tidak, sejak pandemi Covid-19 merebak pada Maret 2020 yang lalu, kegiatan belajar mengajar sepenuhnya beralih ke kelas maya atau moda pembelajaran jarak jauh lainnya. Alih-alih di depan kelas, sekarang para guru menanti kehadiran sang murid di depan layar komputer, laptop atau HP masing-masing.

Badai Covid-19 turut mengoyak harmoni dunia pendidikan. Sekolah yang biasanya menjadi tempat bercengkerama, seketika ditinggal oleh para penghuninya.  Tak ada lagi guru menyambut hangat kehadiran siswa di depan pintu gerbang, diskusi-diskusi di ruang kelas, mengerjakan tugas kelompok dengan penuh canda tawa di perpustakaan, atau percakapan ringan di kantin sekolah setelah hari yang panjang.

Bagi siswa dan guru di seluruh dunia, ini adalah tantangan sekaligus pengalaman baru. Tak terhindarkan juga, saya. Sebagai seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah atas di Nunukan, sebuah wilayah perbatasan di Indonesia, saya terbiasa dengan moda pembelajaran tatap muka.

Saya harus menatap langsung ke mata siswa saat mengajar, memperhatikan gerak bibir mereka saat melafalkan sebuah kata dalam bahasa asing, atau sekedar melihat ekspresi wajah untuk menerka-nerka sejauh mana pemahaman dan penguasaan materinya. Dalam pembelajaran jarak jauh, semua itu tidak mungkin lagi saya lakukan.

Awalnya, saya sempat dibuat frustasi oleh disrupsi yang tak disangka datang secepat ini. Bukan hanya karena harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring yang begitu asing, mengingat saya harus menghadapinya tanpa persiapan sama sekali, namun juga karena saya harus menata emosi ketika menghadapi tingkah polah siswa yang terkesan seenaknya selama pembelajaran daring berlangsung.

Para siswa itu mungkin juga sedang beradaptasi. Itulah yang saya ucapkan pada diri sendiri berulang kali. Namun, tentu saja ‘mantra’ tersebut tak lebih dari sekedar upaya menghibur diri. Kenyataannya, mungkin tidak sesederhana itu. Jika memang beradaptasi, mengapa sampai berbulan-bulan kemudian mereka masih saja sering terlambat hadir di kelas daring, atau datang mengabsen lalu hilang entah kemana? Mengapa masih saja banyak siswa yang enggan terlibat aktif dalam diskusi di grup WhatsApp dan Telegram? Atau mengapa masih saja banyak siswa menyepelekan tugas yang diberikan?

Situasinya memang sedikit rumit bagi siswa kami di daerah perbatasan. Beberapa dari mereka memanfaatkan masa pandemi untuk membantu orang tua mencari uang dengan pergi mabetang atau mengikat rumput laut, yang merupakan mata pencaharian sebagian besar warga  Nunukan, atau bekerja menjadi buruh di pelabuhan dan perkebunan kelapa sawit.

Belum lagi mereka yang diminta orang tua untuk melakukan pekerjaan rumah atau sekedar menjaga adik bayi di rumah, saat jam sekolah berlangsung. Sungguh, tidak bisa saya bayangkan betapa berat masa ini bagi siswa-siswa tersebut.

Namun, bagaimana dengan siswa lain yang tidak mengikuti kelas daring sekedar karena ketiduran atau malas? Padahal pada kelas daring, sulit bagi saya memantau keseriusan mereka belajar karena absennya kontak sosial. Jika masalah kecil seperti ini dibiarkan berlarut, maka tentu pembelajaran daring tidak akan pernah efektif. Saya harus segera memutar otak dan menjadikan pembelajaran jarak jauh ini pengalaman menyenangkan bagi siswa-siswi saya.

Bangkit dan makin kreatif

Akhirnya, saya ingat saat itu di awal tahun pelajaran 2020/2021, saya membuat janji pada diri sendiri untuk menaklukkan kelas daring dan juga, pandemi. Saya pun mulai mengumpulkan dan membaca banyak literatur tentang pembelajaran daring, berdiskusi dengan rekan sejawat di unit kerja, mengikuti pelatihan dengan topik pembelajaran daring, dan pada akhirnya mencoba mendesain aktivitas pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi yang sulit ini, namun tetap menarik.

Satu tantangan besar tentang pembelajaran daring adalah bagaimana membuat siswa mendapat pengalaman belajar yang kaya melalui aktivitas belajar yang beragam. Sehingga pada titik ini, guru ditantang untuk mendesain pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai teknik mengajar, aplikasi, maupun bentuk penugasan. Saya mengakalinya dengan menjadikan blog pribadi sebagai salah satu sumber belajar. Dalam blog, saya dapat dengan dinamis menyajikan artikel, materi dalam bentuk video dan audio, serta latihan soal.

Salah satu contoh adalah ketika saya mengajarkan materi bahasa Inggris untuk kelas 12 yaitu caption atau kalimat penyerta gambar. Saya mengawalinya dengan menyajikan sebuah postingan di blog yang berisi beberapa gambar alam dan meminta setiap siswa untuk membuat kalimat tentang gambar tersebut di kolom komentar. Tidak disangka, ternyata hal sederhana ini justru menarik bagi siswa. Mereka yang biasanya sebatas menjawab pertanyaan guru melalui ruang percakapan di grup WA atau Telegram, kini belajar hal baru berupa meninggalkan komentar di platform lain yaitu blog.

Setelah menggali pengetahuan awal siswa tentang materi, saya memberi mereka tautan ke sebuah postingan lain, dimana saya mengintegrasikan akun YouTube pribadi. Saya telah menyiapkan sebuah video, hasil rekaman diri sendiri saat menjelaskan topik yang sedang dibahas. Dalam video tersebut, saya menggunakan bahasa Inggris sederhana yang mudah dipahami oleh siswa. Durasinya pun tidak terlalu panjang, hanya sekitar 1 menit 15 detik, untuk menghindari kebosanan.

Ternyata, kegiatan ini pun mendapat reaksi positif dari para siswa. Mereka mengaku terinspirasi oleh video tersebut karena sebagai guru, saya berani menunjukkan kemampuan dalam berbahasa Inggris sekaligus membuat konten pembelajaran mandiri di YouTube. Hal ini tidak pernah terlintas di benak saya sebelumnya.

Tujuan awal membuat video itu sebenarnya adalah agar para siswa tetap merasa dekat dengan saya sebagai guru mereka, meskipun tak dapat bertatap muka. Namun, melihat antusiasme yang mereka tunjukkan, saya pun akhirnya semakin tertantang untuk membuat konten menarik lainnya. Melalui pengalaman ini, saya yang awalnya awam dengan YouTube, kini akhirnya memiliki cita-cita untuk menjadi pencipta konten pembelajaran digital yang kekinian itu.

Selain video, terkadang saya juga merekam suara melalui aplikasi di HP dan mengirimkannya ke kelas daring sebagai bentuk variasi instruksi pembelajaran.

Aktivitas lain yang saya lakukan dengan memanfaatkan media blog adalah memberi penghargaan kepada beberapa siswa dengan nilai terbaik. Teknisnya sangat mudah. Setelah siswa mempelajari cara dan strategi penulisan kalimat penyerta gambar yang menarik, saya memberikan mereka sebuah proyek dimana setiap siswa harus mengambil foto sebuah objek dan menulis kalimat penyertanya. Saya sampaikan kepada mereka bahwa 4 siswa dengan nilai terbaik dari masing-masing kelas, akan mendapat kesempatan untuk mengunggah hasil pekerjaannya di blog pribadi saya.

Para siswa ini pun akhirnya terpacu untuk menghasilkan karya terbaiknya. Sedangkan mereka yang akhirnya terpilih, mengungkapkan rasa terima kasih dan perasaan bangga atas pencapaian sederhana tersebut.

Selain blog, saya juga memanfaatkan berbagai aplikasi lain untuk membuat pembelajaran daring jauh dari kata membosankan. Misalnya, untuk memberi latihan soal, saya menggunakan platform Quizizz, Liveworksheets, Quiz Bot di Telegram, dan Google Quiz. Dengan variasi latihan dan tugas yang saya sajikan, ternyata siswa menjadi lebih termotivasi untuk hadir di kelas daring.

Pengalaman mendesain pembelajaran daring ini memberi pelajaran berharga kepada saya. Melalui refleksi yang saya lakukan terus menerus selama mengajar di masa pandemi, saya sadar bahwa sesulit apapun kondisinya, guru tidak boleh menyerah untuk menjalankan tugas dan kewajibannya  secara profesional dan paripurna.

Secara pribadi, saya banyak belajar untuk menjadi guru yang lebih kreatif, adaptif terhadap perubahan, berani menghadapi tantangan, dan tidak takut untuk berinovasi. Itulah wujud cinta dan pengorbanan saya terhadap profesi yang saya geluti.

Memang tidak dapat dipungkiri, masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat yang entah kapan dapat  kita atasi. Namun, saya menaruh harapan besar kepada siswa-siswi saya di sekolah ataupun di seluruh penjuru negeri. Jadikan masa sulit ini sebagai ajang untuk menempa diri.

Mari kita buktikan kepada dunia bahwa generasi muda bangsa Indonesia, bukan hanya otot kawat balung wesi seperti halnya Gatotkaca, namun juga bermental baja dan mampu bangkit meski jatuh berkali-kali. Bersama kita pasti bisa melewati badai pandemi ini. Semangatlah terus, anak-anakku. Ayo, kita taklukkan pandemi. (*)

*) Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Nunukan, Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah