Ekonomi Bisnis

Komoditi Sulit Didapat, Tanjung Selor Jadi Alternatif

Kegiatan perdagangan di Pasar Imbayud Taka.(Foto: Agung)

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Ketersediaan ragam bahan makanan masih jadi persoalan di Kabupaten Tana Tidung. Beberapa komoditi diketahui sulit didapat di pasaran.

Salah satu masyarakat, Rani Riskiana (29) mengatakan, banyak jenis sayuran yang tidak tersedia, seperti brokoli, sawi sendok, kembang kol, daun seledri, daun jeruk dan beberapa lainnya.

“Banyak yang masih susah (tidak tersedia) di sini. Lebih mahal juga kalau dibanding Tanjung Selor,” ujarnya kepada Koran Kaltara, Selasa (28/9/2021).

Selain sayuran, ikan laut juga sulit ditemui. Ikan yang dijual pun kerap tidak terjaga kualitasnya. Mengingat berasal dari luar Tana Tidung.

“Ikan laut juga susah. Kalau ada juga mahal, bandeng saja bisa Rp30 ribu (per kilogram),” jelas ibu rumah tangga tersebut.

Ia mengambil alternatif dengan membeli ikan sungai yang lebih banyak dijajakan. Selain itu juga terjaga kualitasnya karena baru ditangkap nelayan.

“Kalau ada patin ya patin, salap ya salap, ada juga udang kecil, udang galah, ikan lais juga, yang ada aja sedapatnya pas dijual,” paparnya.

Warga lainnya, Aji (32), juga menuturkan hal serupa. Ia mengeluhkan daging sapi segar yang sulit didapat.

Sedangkan harga untuk ayam potong cenderung tinggi. Karena kerap mencapai Rp45 ribu sampai Rp50 ribu.

“Daging sapi nggak ada, paling juga payau. Tapi saya nggak biasa makan daging payau,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah bisa memperhatikan hal tersebut. Menurutnya, permintaan konsumen bisa menjadi peluang bisnis bagi masyarakat sekitar. Ini yang perlu ditindaklanjuti pemerintah daerah.

“Kalau ada yang cari kan pasti ada yang beli. Lumayan kan itu jadi orang bisa punya lapangan kerja, bisa berdagang. Tapi mungkin kendalanya modal sama keterampilan, jadi perlu bantuan dan pelatihan,” bebernya.

Sementara itu, warga lainnya, Andi (35), mensiasati dengan membeli di luar daerah. Ia dan keluarga kerap ke Tanjung Selor untuk membeli barang yang tidak ada di Tana Tidung.

“Mau nggak mau kita pergi cari ke Tanjung. Kalau ke Malinau, meski dekat tapi mahal juga, belum lagi sama sama banyak yang nggak ada. Jadi ke Tanjung saja, sekali beli bisa banyak,” kata Andi.

Hal seperti ini sudah menjadi fenomena di Tana Tidung. Dimana perputaran uang banyak lari ke luar daerah. Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat daerah.

“Mereka yang ke Tanjung pasti banyak belanjanya. Pasti ada aja yang dibeli, karena di sini kan kosong. Ya sayang juga jadinya, cari uangnya di sini, tapi beli-beli nya di sana,” pungkasnya. (*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Didik

 

TOPIK TERKAIT:

50 Persen Kudapan di Tanjung Selor Pakai Bahan Pangan Lokal

Kabupaten/Kota Perlu Terbitkan Regulasi Soal Pangan Lokal

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment