Headline

Kinerja Pariwisata Berakselerasi

Kondisi Geografis Potensial Datangkan Wisatawan Mancanegara TANJUNG SELOR – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara (Kaltara) dalam Lpaoran Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Agustus 2018 mencatat, sektor pariwisata Kaltara yang dilihat dari lapangan usaha akomodasi dan makan minum, mengalami akselerasi (percepatan) dalam beberapa tahun terakhir. KPw BI Kaltara menilai, tren pertumbuhan tersebut merupakan…
MODA TRANSPORTASI: Penambahan maskapai di sejumlah wilayah berdampak pada potensi kunjungan wisata. Foto: Agung Riyanto / Koran Kaltara
  • Kondisi Geografis Potensial Datangkan Wisatawan Mancanegara

TANJUNG SELOR – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kalimantan Utara (Kaltara) dalam Lpaoran Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Agustus 2018 mencatat, sektor pariwisata Kaltara yang dilihat dari lapangan usaha akomodasi dan makan minum, mengalami akselerasi (percepatan) dalam beberapa tahun terakhir.
KPw BI Kaltara menilai, tren pertumbuhan tersebut merupakan sinyal positif bagi perkembangan pariwisata di Kaltara. Hal ini dikarenakan, akomodasi dan makan-minum merupakan sektor yang berkaitan erat untuk menciptakan iklim pariwisata yang kondusif.
Tercatat pada tahun 2014, pertumbuhan sektor akomodasi makan dan minum baru mencapai 6,64 persen. Namun seiring perkembangan waktu, bermunculannya banyak hotel dan restoran di Kaltara, membentuk kondisi sektor akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan mencapai 12,99 persen dan diperkirakan akan lebih tinggi hingga akhir tahun 2018.
Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pariwisata pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda-Litbang) Kaltara, Jufri menyampaikan, Kaltara secara kondisi geografis merupakan pintu gerbang Indonesia di bagian utara. Sehingga sangat berpotensi mendatangkan wisatawan mancanegara dari negara-negara di belahan bumi bagian utara. Seperti contohnya Tiongkok, Filipina dan HongKong.
“Secara geografis, Kaltara cukup unik dengan keunggulan pada kondisi hutan yang memiliki kekayaan flora dan fauna. Selain itu, Kaltara juga diuntungkan oleh beberapa hal seperti budaya lokal, kuliner lokal, garis pantai, dan kawasan hutan,” terang Jufri kepada Koran Kaltara, Senin (10/9).
Selain peran kondisi geografis dalam mendukung iklim pariwisata, Jufri menjelaskan, Kaltara memiliki wisata budaya rutin yang telah terbukti bisa meningkatkan kuantitas kunjungan wisatawan. Ia mencontohkan, wisata budaya bertajuk Festival Budaya Iraw Tengkayu yang dihelat dalam waktu dua tahun sekali di Pantai Amal, Kota Tarakan, tidak hanya menarik minat wisatawan dalam daerah saja, melainkan juga wisatawan yang berasal dari provinsi hingga luar negeri.
“Kepopuleran festival budaya ini dapat dilihat dari penghargaan yang didapat. Yaitu terpilihnya sebagai Atraksi Budaya Terpopuler pada ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016. Disamping itu, ada juga wisata budaya lain yang dikembangkan untuk menarik kunjungan wisatawan. Seperti yang baru-baru ini Festival Aco Lundayeh di Kabupaten Malinau,” ulas Jufri.
Soal strategi teknis pengembangan dunia pariwisata daerah. Kepala Dinas Pariwisata Kaltara, Ahmad Hairani menjelaskan, instansi yang dipimpin setidaknya telah mengimplementasikan tiga masterplan pengembangan. Yakni pemasaran melalui Kaltara Investment Forum (KIF) di Jakarta pada tahun 2017, pemasaran melalui Remarkable Indonesia Fair di Amerika Serikat dan membangun kerjasama pariwisata dengan berbagai instansi dan asosiasi. Seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Pokdarwis Desa Keburao, Saka Pariwisata Pramuka Kaltara, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia.
“Penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Purna Pariwisata, Pembangunan Kapal Wisata yang dilaksanakan secara Multiyears, Kerjasama dengan Travel Agent dan Pengembangan desa wisata Situlang juga kita lakukan untuk mengembangkan iklim pariwisata lebih dikenal masyarakat luas,” kata Hairani.(*)

Reporter: Agung Riyanto

Editor: Nurul Mujib L