Headline

Kinerja Ekspor Kaltara Kembali Menurun

Batu bara dan CPO menjadi beberapa komoditi yang mendominasi ekspor Kaltara pada Mei 2020. (Foto : Dok/Koran Kaltara)
  • Ekonomi Global Tidak Boleh Lesu Berkepanjangan

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kinerja ekspor di Kalimantan Utara tercatat kembali menurun pada bulan Mei 2020. Dibandingkan bulan sebelumnya, kinerja ekspor Mei 2020 mengalami penurunan sebesar 7,6 persen.

“Pada bulan Mei 2020, ekspor komoditi melalui pelabuhan di Kaltara tercatat sebesar USD62,2 Juta (Setara dengan Rp0,90 triliun sesuai Kurs BI 3/7 : Rp14.500). Mengalami penurunan 7,6 persen dibandingkan kinerja di bulan April yang mencapai USD67,3 juta (Rp0,97 triliun),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, Eko Marsoro awal bulan ini.

Penurunan didominasi melemahnya ekspor pada komoditi hasil tambang. Khususnya dari emas hitam atau batu bara. Dibandingkan bulan sebelumnya, kinerja komoditi ini menurun sampai 13,94 persen. Atau dari USD55,9 juta (Rp0,81 triliun) menjadi USD48,11 juta (Rp0,69 triliun). Lanjut Eko, kondisi serupa juga dialami oleh komoditi Crude Palm Oil atau CPO.

“Penurunan hasil tambang memang cukup dirasakan. Terutama pada kondisi tiga bulan terakhir. Dimana selama pandemi, ekonomi global mengalami kelesuan. Sehingga produk tambang mengalami penurunan permintaan. Ini mirip dengan kondisi yang terjadi pada komoditi CPO,” ungkap Eko.

Kendati terus mengalami penurunan, Eko menilai bahwa kondisi yang berlangsung di bulan Mei 2020 tidak begitu drastis. “Walaupun secara total mengalami penurunan, tapi tidak tergolong signifikan,” imbuhnya.

Terkait solusi atas kontraksi negatif yang terjadi pada kinerja ekspor daerah, Eko menilai bahwa utamanya adalah status pandemi covid-19 yang segera mereda. Dengan begitu, aktivitas perekonomian bisa berjalan normal kembali.

“Kondisi Maret, April dan Mei turun terus. Ini persis di saat pandemi. Mudah mudahan kelesuan ekonomi yang terjadi secara global tidak berkepanjangan. Sehingga tidak terus-terusan mempengaruhi kondisi perekonomian kita,” harap Eko.

Memaparkan lebih detail kinerja ekspor pada Mei 2020, nilai komoditi ekspor yang merupakan produk lokal daerah mencapai USD58,74 juta (Rp0,85 triliun). Angka ini turun 9,21 persen dibandingkan April 2020 yang mencapai USD64,70 juta (Rp0,93 triliun).

“Penurunan ini sama seperti tabel ekspor melalui pelabuhan di Kaltara secara akumulatif tadi. Dimana penurunan dipicu hasil tambang karena seluruh barang yang dikirim dari pelabuhan adalah benar-benar berasal dari Kaltara. Yang agak berbeda adalah hasil industri. Dimana produk asal Kaltara nilainya USD10,3 juta (Rp0,14 triliun). Atau ada USD3 juta (Rp0,04 triliun) lainnya yang bukan merupakan milik Kaltara,” ulas Eko.

Selain diekspor melalui pelabuhan dalam daerah, Eko menuturkan bahwa sebagian komoditi dikirim ke luar negeri melalui pelabuhan lain di luar daerah. Beberapa provinsi yang biasanya menjadi pintu keluar masuk adalah Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

“Ekspor total di Mei 2020 ini menunjukkan bahwa produk Kaltara juga mengalami penurunan. Dari sekitar USD13 juta (Rp0,18 triliun) menjadi USD8 juta (Rp0,11 triliun) saja,” Keta Eko.

Dari tiga provinsi tersebut, penurunan kinerja ekspor produk Kaltara terjadi di semua pintu. Mengingat permintaan pasar di luar negeri juga menurun secara akumulatif.

“Jadi penurunan ini dipicu dari hampir seluruh pintu. Di Jakarta yang biasa menjadi pintu ekspor rumput laut Kaltara mengalami penurunan dari USD0,53 juta (Rp0,007 triliun) menjadi USD0,07 juta (Rp0,001 triliun). Atau turun sebesar 86 persen. Begitu juga di Jawa Timur yang biasanya menjadi pintu keluar komoditi perikanan dan plywood, turun dari USD11,04 juta (Rp0,16 triliun) menjadi USD8 juta (Rp0,11 triliun),” jabar Eko.

“Di Sulawesi juga yang biasa jadi tempat keluar komoditi perikanan turun dari USD1,34 juta (Rp0,019 triliun) menjadi USD0,54 juta (Rp0,007 triliun). Jadi kondisi ini memang sangat tergantung permintaan di luar negeri,” lanjutnya.

Tetap Didominasi Batu Bara

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, Eko Marsoro menyampaikan, kinerja ekspor Kaltara tetap didominasi batu bara pada Bulan Mei 2020.

“Gambaran dominasi ekspor menurut komoditi ini sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Kaltara didominasi produk batu bara. Hampir sepanjang tahun mendominasinya,” ujar Eko.

Lanjutnya, komoditi lain yang juga mendominasi adalah rokok dan tembakau. Meski bukan merupakan produk asli daerah, nominal ekspornya tergolong cukup besar.

“Untuk Mei 2020, di samping batu bara, ekspor juga didominasi tembakau dan rokok. Pada Mei 2020 ini kita masih melakukan ekspor tembakau atau rokok ke Filiphina. Walaupun kita sebenarnya hanya sebagai perantara. Karena produk ini sebetulnya kita impor dari Singapura dan Vietnam. Kemudian disimpan di gudang-gudang kita di Nunukan, baru kemudian diekspor ke Filiphina. Kemudian potensi untuk kayu dan plywood diekspor cukup besar. CPO juga mendominasi,” jabarnya.

Mengenai negara tujuan ekspor, dijelaskan Eko bahwa masih didominasi negara-negara Asia. Seperti China, Filiphina, Jepang, Malaysia dan Thailand.

“Kalau kita rinci menurut negara tujuan ekspor, Korea, China, Filiphina, Jepang, Malaysia dan Thailand masih mendominasi. Korea pada Mei 2020 menerima produk kita sebesar USD23,64 juta (Rp0,34 triliun). Kemudian China dan Filiphina juga yang terbesar selanjutnya. Di Jepang selain batu bara, ekspor juga dari plywood. Kalau umumnya Malaysia menerima CPO dan rokok. Banyaknya dari Malaysia Bagian Timur atau di Sabah,” ujar Eko.

Sebelumnya, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara, memprediksi ekspor luar negeri Kaltara pada triwulan II 2020 masih melambat karena masih berlangsungnya pandemi global saat ini.

Ekspor CPO dan batu bara merupakan komoditas utama Kaltara yang diperkirakan mengalami stagnasi dengan kecenderungan untuk melambat pada triwulan II tahun 2020. Hal ini dilatarbelakangi karena baru beberapa negara di dunia saja yang mampu mengatasi pandemi Covid-19 ini dengan baik. Lebih lanjut belum adanya kepastian akan vaksin Covid-19 ini juga meningkatkan risiko ketidakpastian global.

Di sisi lain, kebutuhan akan minyak nabati yang merupakan salah satu kebutuhan pokok juga akan tetap terjaga. Lebih lanjut, tren penurunan harga batu bara yang masih terjadi diperkirakan menyebabkan nominal ekspor Kaltara kembali turun pada triwulan II 2020. Rata-rata HBA periode Januari-Maret 2020 tercatat USD66,6/mt. Atau sedikit lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar USD65,8/mt.(*)

Reporter: Agung Riyanto

Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah