Ekonomi Bisnis

Kenaikan Harga Berpotensi Turunkan Daya Beli Masyarakat

Transportasi menyumbang inflasi. (Foto: Agung)

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Inflasi kelompok transportasi dan makanan terus meningkat di Tanjung Selor.

Ini mencerminkan adanya kenaikan harga yang signifikan pada dua kelompok tersebut.

Potret inflasi kedua kelompok ini jauh berada di luar batas rentang kendali pemerintah sebesar 3 ± 1 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat, inflasi kelompok transportasi Juli 2022 mencapai 20,34 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Sedangkan kelompok makanan, minuman dan tembakau di angka 11,56 persen.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi pada BPS Kaltara, Panca Oktianti menjelaskan, kelompok makanan dan transportasi di Tanjung Selor memang mengalami peningkatan inflasi.

Komoditas yang memberi andil inflasi dominan antara lain bawang merah dan cabai rawit merah.

“Kalau di lihat dari sisi produksi atau panen, terjadi penurunan di petani. Hal ini dipengaruhi tingginya curah hujan, sebagaimana diketahui sering terjadi hujan di Juli, sehingga menyebabkan penurunan produksi,” kata Panca kepada awak media, Senin (1/8/2022).

Sementara itu, tingginya inflasi di kelompok transportasi dipicu lonjakan harga tiket angkutan udara.

Fenomena ini setidaknya terjadi sejak momen Ramadan lalu. Mengingat masyarakat sudah diperbolehkan untuk mudik, sehingga permintaan tiket mengalami kenaikan.

“Selain itu, harga avtur atau bahan bakar pesawat juga mengalami peningkatan di tahun ini,” jelasnya.

Panca tidak menampik jika tingginya inflasi kelompok makanan bisa mempengaruhi penurunan daya beli masyarakat.

Tingginya harga akan menyebabkan masyarakat terpaksa mengurangi jumlah konsumsi.

“Tingginya harga bahan makanan seperti cabai rawit dan bawang merah tentu berpotensi turunkan daya beli. Masyarakat akan memilih mengurangi jumlah yang dibelinya,” ujar Panca.

Berdasarkan potret tersebut, Panca menilai jika hal ini harus dipahami pemerintah daerah sebagai peringatan dini.

Sejumlah komoditas sebagai penyebab inflasi harus mendapatkan perhatian khusus.

“Ini merupakan warning, beberapa komoditas harus ada pengendalian, mulai dari ketersediaan dan pendistribusiannya. Kalau untuk angkutan udara memang tidak di pemerintah daerah, namun bisa dikomunikasikan melalui pemerintah pusat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment