Ruang Publik

Kemandirian Belajar; Tahapan dan Kondisi Idealnya

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari, S. Pd

MELALUI film biografi berjudul The Man Who Knew Infinity (2016) yang dibintangi oleh Dev Patel, publik diajak berkenalan dengan sosok Srinivasa Ramanujan, seorang ahli matematika dari India yang berhasil mendapat tawaran untuk kuliah di Universitas Cambridge, Inggris. Padahal, Ramanujan sama sekali tidak memiliki pendidikan formal khusus di bidang matematika.

Lalu, ada co-founder WhatsApp, Jan Koum, yang ternyata belajar komputer secara otodidak dengan bantuan sebuah buku panduan pada usia 18 tahun. Dengan bekal inilah di kemudian hari dia berhasil menciptakan aplikasi yang kini digunakan jutaan orang tersebut.

Kedua sosok di atas memang berasal dari era dan negara yang berbeda, namun keduanya memiliki kesamaan yaitu learning autonomy atau kemandirian belajar. Srinivasa Ramanujan, sama seperti Jan Koum, juga mengajari dirinya sendiri ilmu matematika dengan bantuan buku-buku yang didapatkannya.

Kemandirian belajar, seperti dijabarkan oleh Benson dalam Teaching and researching autonomy in language learning (2011), adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan pembelajarannya.

Selanjutnya, Holec (1981) menjelaskan bahwa kemampuan ini berhubungan dengan proses penentuan tujuan belajar, pemilihan strategi, serta mengevaluasi apa yang telah dipelajari.

Dengan memiliki kemandirian belajar, seseorang akan cenderung menunjukkan beberapa karakter seperti berpikir kritis, memiliki motivasi intrinsik yang kuat, antusias dan bertanggung jawab pada pembelajaran, serta mengetahui pasti bakat dan minatnya.

Karakter-karakter tersebutlah yang pada akhirnya akan menjadi penentu kesuksesan di masa depan, sama seperti yang terjadi pada Ramanujan dan Koum.

Sebagai seorang guru, tentu saya akan sangat bahagia jika menemukan siswa yang menunjukkan tanda-tanda kemandirian belajar. Bekerja sama dengan individual yang memiliki motivasi besar untuk menaklukkan sebuah tantangan dalam pembelajaran adalah idaman setiap guru profesional.

Namun, kenyataan memang terkadang didesain tidak melulu seirama dengan impian. Masih banyak siswa yang belum dapat menunjukkan sifat kemandirian belajar. Hal ini pada akhirnya berimbas pada performa yang tidak maksimal selama mengikuti pembelajaran, baik di sekolah ataupun rumah.

Lantas, bagaimanakah proses tumbuhnya kemandirian belajar? Menurut Nunan (1997), proses kemandirian belajar terjadi dalam lima tahapan yakni kesadaran akan pembelajaran, keterlibatan dalam memilih tujuan dan materi pembelajaran, intervensi dalam proses belajar, menciptakan tugas belajar secara mandiri, serta kemampuan menghubungkan pembelajaran dengan dunia luar.

Pertama, kesadaran akan pembelajaran berarti seseorang menyadari sepenuhnya apa yang ingin dipelajari serta dengan cara apa mempelajarinya.

Sebagai contoh, siswa yang sadar bahwa pelajaran Bahasa Inggris di sekolah kurang mencukupi, lalu atas kehendaknya sendiri membuat perencanaan untuk belajar secara otodidak di luar sekolah demi memenuhi kebutuhannya itu. Saya mengenal seorang siswa jenis ini, dan kemampuan Bahasa Inggrisnya kini jauh di atas rata-rata teman sebayanya.

Kedua, setelah mengidentifikasi kebutuhannya, seorang pembelajar yang mandiri mampu menentukan tujuan dan materi belajar dari beberapa pilihan yang ada. Misalnya, siswa yang memilih untuk mengembangkan keterampilan menulis cerita fiksi dengan menggunakan aplikasi Wattpad, sebuah website atau aplikasi bagi penulis untuk menerbitkan karyanya.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan kesadaran yang kuat akan kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan menulis.

Yang ketiga yaitu munculnya intervensi mandiri selama proses belajar. Seseorang dengan kemandirian belajar memiliki kemampuan untuk menyesuaikan dan memodifikasi tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan olehnya.

Dia tidak bergantung pada guru untuk menyelesaikan masalah yang muncul selama proses belajar. Hal ini disebabkan oleh otaknya yang sudah terlatih dalam menganalisa dan menemukan pola-pola.

Selanjutnya, seorang pembelajar mandiri mampu menciptakan tujuan dan tugas-tugas yang harus dikerjakannya. Ramanujan memilih buku A Synopsis of Elementary Results in Pure and Applied Mathematics karangan G. S. Carr untuk membantu memenuhi rasa penasarannya akan ilmu matematika. Tidak ada guru ataupun orang tua yang menentukan tugas tersebut kepadanya.

Yang terakhir adalah kemampuan untuk mengaitkan materi dan pesan yang didapat selama proses belajar dengan dunia. Dengan kata lain, kemandirian belajar memungkinkan pembelajar untuk mengaplikasikan ilmu tersebut dalam menjalankan perannya di kehidupan dengan lebih baik.

Kemandirian belajar akan memungkinkan seseorang untuk terus belajar meskipun dia sudah tidak berada pada institusi formal seperti di sekolah. Hal ini tentu menjadi impian dari setiap guru, bahwa muridnya akan menjadi pembelajar sepanjang hayat yang percaya diri dan mampu menciptakan stimulus, serta mengatur pembelajarannya secara efektif dan efisien.

Jadi, kondisi seperti apakah yang memungkinkan kemandirian belajar muncul pada diri seorang siswa?

Tema yang relevan dengan kehidupan dan minat siswa memiliki peluang besar untuk memunculkan kemandirian belajar. Pembelajaran semacam ini mampu menstimulus tumbuhnya motivasi intrinsik pada diri siswa agar dapat menguasai materi.

Ketika motivasi intrinsik muncul, maka siswa akan menjadi lebih antusias dan bertanggung jawab pada proses belajarnya. Memberi tugas menulis sebuah artikel tentang BTS, grup band asal Korea, tentu akan jauh lebih menarik bagi anak zaman sekarang ketimbang menulis tentang Bon Jovi, bukan?

Kemudian, kemandirian belajar juga bisa ditumbuhkan dengan cara memberikan tugas yang fleksibel dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikannya. Sebagai contoh, untuk tugas akhir semester, seorang guru sejarah memberikan pilihan untuk mengumpulkan karya tulis atau menampilkan sebuah drama sejarah.

Dengan memberikan pilihan seperti ini, siswa sedang diajak untuk mengaitkan pembelajaran dengan minat dan bakatnya. Mereka yang mempunyai kemampuan lebih dalam bidang bahasa, dapat memilih karya tulis. Sedangkan mereka yang tertarik dengan seni, dapat memilih drama.

Selain itu, dengan banyaknya waktu yang diberikan, siswa dapat menyusun secara mandiri strategi untuk menyelesaikan tugas tersebut yang secara otomatis berkontribusi pada tumbuhnya kemandirian belajar.

Adanya refleksi pembelajaran juga dapat memfasilitasi lahirnya kemandirian belajar. Refleksi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi tentang masalah yang mereka temui saat belajar, memikirkan cara untuk mengatasinya, serta untuk mengevaluasi proses belajar yang telah dilalui.

Dengan demikian, siswa menjadi lebih terikat pada proses pembelajaran. Dam (2011) memperkuat teori ini dengan menyebutkan bahwa ada tiga cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemandirian belajar yaitu laporan diri, jurnal dan lembar evaluasi.

Perlu diingat bahwa kemandirian belajar tidak lah tumbuh dalam semalam. Dibutuhkan waktu dan latihan sampai kemandirian tersebut muncul pada diri siswa. Guru bisa memulainya dengan memodifikasi metode, materi dan sumber belajar yang ada sesuai dengan kebutuhan.

Derajat keberhasilannya juga mungkin akan berbeda pada setiap individu. Semua tergantung pada komitmen dan motivasi yang dimiliki, baik oleh guru maupun siswa. (*)

*) Penulis adalah guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah