Ekonomi Bisnis

Kelistrikan yang Masih Bergantung Batu Bara

Listrik di Indonesia masih tergantung pada batu bara, termasuk di Bulungan, Kaltara. (Foto: Rizqy)

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Presiden Joko Widodo, akhir tahun lalu mencabut izin ribuan penambang energi dan mineral, termasuk ratusan tambang batu bara.

Sebagian kalangan memandang tindakan ini sebagai salah satu bentuk dari realisasi komitmen Indonesia atas tekad untuk mengurangi emisi karbon.

Namun demikian, sebagai negara penghasil batu bara terbesar di dunia, kelistrikan di Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara hingga saat ini.

Bahkan, kontribusi sektor pertambangan disebut sebagai penopang ekonomi dikala pandemi dan pascapandemi.

Direktur Pengusahaan Batu Bara pada Ditjen Minerba Kementerian ESDM Lana Saria, mengakui hingga saat ini Indonesia masih bergantung pada batu bara.

Bahkan, kepada Koran Kaltara, dia mengungkapkan potensi batu bara di Kalimantan Utara (Kaltara) cukup baik.

“Saat ini kita masih bergantung dengan batu bara. Potensinya cukup baik, batu bara di Kaltara. Kualitasnya juga baik dan umurnya masih cukup panjang,” katanya saat dikonfirmasi, pekan lalu.

Menurutnya, selain batu bara, sumber daya alam (SDA) Kaltara juga memiliki banyak potensi mineral lainnya.

Jika dioptimalkan, dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi daerah dan negara, termasuk masyarakat.

“Di samping batu bara, potensi mineral lainnya juga banyak. Ada emas, ada mineral batuan dan mineral nonlogam. Saya yakin ini bisa menjadi pemasukan buat masyarakat dan pemerintah daerah Kaltara,” tuturnya.

Namun demikian, dia tidak memungkiri bahwa Indonesia perlu mengejar ketertinggalan transisi dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Pemerintah telah membuat program untuk mengurangi penggunaan batu bara di masa yang akan datang.

“Nanti di tahun 2060 kita sudah tidak bisa lagi menggunakan batu bara dan mulai berkurang di 2035. Tentunya dari direktorat energi baru terbarukan, sudah memulai menggerakkan perusahaan-perusahan untuk menciptakan energi lain selain batu bara,” jelasnya.

Penggunaan energi lain yang bersih dan mencegah emisi karbon semakin memburuk, dinilai potensial pula di Kaltara.

Apalagi setelah dilakukan groundbreaking Kawasan Industri Hijau Indonesia oleh presiden akhir tahun lalu.

“Banyak sumber energi lain yang dikembangkan ke depan. apakah dengan solar cell, ataukan dengan air (PLTA) atau sumber lainnya. Itu nanti perlahan-lahan mengggantikan batu bara,” pungkasnya. (*)

Reporter: Fathu Rizqil Mufid
Editor: Nurul Lamunsari

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment