Nunukan

Kecewa, Sabri Pilih Mundur dari FPTI Kaltara

Atlet panjat tebing Nunukan, Sabri mengumumkan pengunduran dirinya dari Federal Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kaltara.

NUNUKAN, Koran Kaltara – Sabri (27), atlet Nunukan dari cabor panjat tebing mengumumkan pengunduran dirinya dari Federal Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kaltara.

Dia mengaku kecewa terhadap pembinaan yang masih minim dan kurang maksimal.

“Sudah dua kali Kaltara ikut PON, namun perhatiannya masih sama seperti tahun 2016 lalu,” ungkap Sabri kepada sejumlah media di Nunukan pada Selasa (26/10/2021) siang.

Contohnya, kata dia, permintaan traning center (TC) yang diusulkan minimal dua tahun atau paling tidak satu tahun.

“Tahun 2016 lalu, hanya tiga bulan saja TC-nya. Nah, tahun ini juga sama. Kalau untuk cabor panjat tebing sangat kurang sekali,” jelasnya.

Terlebih lagi, kata dia, pembayaran TC semakin menurun dan tidak jelas.

“Sebenarnya, PON tahun ini diundur. Seharusnya tahun 2020 lalu. Nah, tahun 2020, kita sudah TC dua bulan, awalnya dibayar Rp5 juta per bulan. Namun masuk tahun 2021 setelah diundur, kita TC lagi, itu sudah turun. Tidak tahu per bulan berapa, namun yang jelas Rp7 juta per tiga bulan dibayar,” tuturnya.

Selain masalah pembinaan, Sabri juga mengeluhkan sarana yang masih minim. Misal, saat dirinya meminta KONI Kaltara untuk pengaadan timer panjat tebing, namun prosesnya sangat lambat.

“Bahkan, timer itu tidak sempat kita gunakan untuk panjat. Saya kecewa. Apalagi lawannya kemarin, lumayan kuat, karena mereka ada persiapan 2 tahun sampai 3 tahun,” bebernya.

Sabri sudah tiga kali mengikuti PON, yakni dua kali gabung Kaltara dan satunya ikut Kaltim. Namun hanya saat ikut Kaltim dirinya mendapatkan dua medali emas dan perunggu.

“Nah, di Kaltara betul-betul menurun. Padahal, saya bisa ikut Asean Games dan lainnya. Tapi itu latihannya tidak di sini. Contoh, tahun 2018 sebelum Asean Games, itu saya juara dua dunia di Prancis. Saya kalah sama tuan rumah,” bebernya.

Untuk itu, dia menegaskan TC adalah penentu untuk mendapatkan juara. Sebab, rata-rata saat dirinya mendapatkan juara melakukan TC di luar daerah.

“Kemarin, memang saya latihannya dengan Timnas,” bebernya.

Menurut dia, pengajuan pengunduran dirinya sudah diajukan ke FPTI Kaltara. Bahkan, saat ini FPTI Kaltara sedang mempertimbangkan.

“Saya juga dapat tiga tawaran dari Jabar, Kaltim dan DKI. Untuk Jabar dan DKI sudah saya komunikasikan,” bebernya.

Menurut dia, dari lubuk hatinya, sebenarnya masih ingin bertahan di Kaltara. Sebab, masih banyak juniornya yang merupakan penerus panjat tebing Nunukan menaruh harapan besar.

“Mereka dengar saya mau pindah saja, mau ikut semuanya. Karena, mereka berpikir, ada saya saja masih kurang, apalagi tidak ada saya,” bebernya.

Padahal, kata dia,  anggaran yang diberikan cukup besar. Misal PON Papua, terlalu banyak pendampingan yang diikirim ikut berangkat. “Kan, anggarannya bisa buat TC lainnya,” jelasnya.

Menurut dia, jika melihat tawaran Jabar, memang sangat menggiurkan, karena dipastikan pembayarannya lebih tinggi.

Namun, kalau melihat tawaran DKI, akan lebih memudahkannya untuk melakukan latihan lebih baik lagi.

“Kalau DKI ini jangka panjangnya. Papan tebingnya sudah standar internasional. Kalau di sini, nasional saja belum,” bebernya.

Dia berharap bisa bergabung latihan lagi bersama timnas untuk persiapan Asean Games di China. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment