Jelang Pensiun dari ASN, Muhammad Haris Buka Peluang Terjun ke Politik
Muhammad Haris
TARAKAN – Menjelang masa purnatugasnya sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan, Muhammad Haris mengaku mulai mendapat tawaran dari sejumlah partai politik untuk bergabung ke dunia politik praktis.
Muhammad Haris yang dijadwalkan pensiun pada Oktober 2026 mengatakan, pendekatan politik tersebut datang dari berbagai partai, mulai dari partai besar hingga partai baru.
“Banyak, baik partai-partai baru maupun partai-partai besar,” terang Haris saat ditemui awak media, Minggu (24/5/2026).
Beberapa nama partai bahkan sempat disebutkannya, mulai dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hingga sejumlah partai lain yang disebut mulai melakukan komunikasi politik dengannya.
Meski demikian, Haris belum menentukan langkah politik yang akan diambil setelah pensiun nanti. Ia mengaku masih ingin melihat perkembangan situasi sebelum memutuskan terjun ke politik praktis.
“Saya mengalir aja dulu. Yang terpenting pengabdian itu tidak hanya di kantor. Pengabdian setiap hari juga bisa dilakukan di luar,” katanya.
Saat ditanya kemungkinan maju sebagai kepala daerah maupun anggota legislatif, Haris juga belum memberikan jawaban pasti. Menurutnya, keputusan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat ke depan. “Ya kita melihat kondisi nanti,” ucapnya.
Di sisi lain, Haris turut menyoroti tantangan dunia politik saat ini yang menurutnya mulai mengalami penurunan kualitas demokrasi. Ia menilai masyarakat kini semakin sulit membedakan antara demokratisasi dan pragmatisme politik.
“Hari ini tantangan partai politik maupun organisasi itu adalah terjadinya kemerosotan tatanan demokrasi. Sudah sulit membedakan mana demokratisasi dan mana pragmatisasi,” tegasnya.
Karena itu, ia menilai figur yang ingin terjun ke dunia politik harus memiliki rekam jejak pengabdian yang jelas di tengah masyarakat, baik melalui organisasi sosial, kegiatan keagamaan, maupun aktivitas pemberdayaan masyarakat.
“Penting melihat rekam jejak seseorang, intensitas kegiatan-kegiatan yang dilakukan, apakah itu pelatihan kader, kegiatan keagamaan, atau kegiatan pemerintah yang menyentuh masyarakat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
BERITA TERKAIT
Berita terkait tidak ditemukan!