Ruang Publik

Inflasi Ramadan di Masa Pandemi Covid-19

Wenny Sulastri
  • Oleh: Wenny Sulastri Kusumawati, SST

RAMADAN merupakan momen yang sangat dinantikan kehadirannya oleh para pemeluk agama Islam. Momen tersebut juga sangat ditunggu oleh para produsen dan pedagang karena biasanya ketika Ramadan penjualan mengalami peningkatan yang disebabkan oleh permintaan barang dan jasa di masyarakat yang juga ikut meningkat.

Namun situasinya tidak sama untuk Ramadan tahun ini. Pasalnya World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau yang juga disebut corona virus disease 2019 (Covid-19).

Tarakan merupakan salah satu kota yang cukup ramai di Provinsi Kalimantan Utara. Pada keadaan normal ketika Ramadan biasanya pasar dan pusat perdagangan di Kota Tarakan akan ramai dikunjungi oleh masyarakat baik yang berasal dari dalam kota maupun dari kabupaten sekitar. Namun untuk Ramadan tahun ini ada yang berbeda dikarenakan Kota Tarakan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

PSBB di Kota Tarakan diterapkan dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Bukan hal yang mengejutkan jika kasus positif Covid-19 di Kota Tarakan cukup tinggi mengingat pintu masuk utama ke Provinsi Kalimantan Utara (Bandara Internasional Juwata) berada di Kota Tarakan.

Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap perekonomian di suatu daerah, akan dibandingkan data inflasi (m to m) di bulan Ramadan tahun 2020 dengan data inflasi (m to m) di bulan Ramadan pada tahun 2019 dan 2018.

Sebagai info awal, pada tahun 2020 Ramadan terjadi di bulan April, sedangkan untuk tahun 2019 dan 2018 Ramadan terjadi di bulan Mei. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa tingkat inflasi pada bulan Ramadan di Kota Tarakan tahun 2020 jauh lebih rendah dibanding Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Inflasi bulan April (Ramadan) tahun 2020 di Kota Tarakan hanya sebesar 0,20 persen. Sedangkan tingkat inflasi bulan Mei (Ramdahan) tahun 2019 dan 2018 nilainya secara berturut turut sebesar 0,77 persen dan 0,5 persen. Rendahnya inflasi di Bulan April tahun 2020 menunjukkan daya beli masyarakat pada bulan Ramadan tahun ini tidak setinggi Ramadahan tahun 2019 dan 2018.

Jika pada keadaan normal tingginya permintaan barang dan jasa pada saat Ramadan dapat memacu peningkatan harga barang dan jasa, keadaannya berbeda untuk saat ini ketika pandemi Covid-19 dan PSBB diterapkan. Permintaan barang dan jasa tidak signifikan meningkat sehingga harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat secara umum cenderung tidak tinggi peningkatannya.

Apabila ditinjau dari karakteristiknya untuk inflasi bulan April (Ramadan) tahun 2020 menurut data BPS kelompok pengeluaran yang memiliki andil dominan terhadap inflasi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Sedangkan untuk inflasi bulan Ramadan tahun 2019 dan 2018 yang sama – sama terjadi di bulan Mei kelompok pengeluaran yang memiliki andil dominan terhadap inflasi adalah kelompok transportasi dan komunikasi. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa untuk Ramadan tahun 2018 dan 2019 (sebelum adanya pandemi Covid-19) permintaan pada kelompok transportasi dan komunikasi cenderung mengalami peningkatan yang pada akhirnya mendorong peningkatan harga pada kelompok tersebut.

Peningkatan permintaan pada kelompok transportasi dan komunikasi adalah hal yang lumrah. Permintaan tersebut didorong oleh tradisi masyarakat Indonesia yang melakukan mudik ke kampung halaman menjelang Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat akan mulai berburu tiket untuk pulang kampung di bulan Ramdan sehingga permintaan untuk kelompok transportasi dan komunikasi akan meningkat signifikan.

Khusus tahun ini masyarakat harus menahan hasrat untuk mudik karena moda transportasi dibatasi kegiatannya oleh pemerintah, termasuk Bandara Internasional Juwata yang berada di Kota Tarakan sudah ditutup untuk umum sejak awal Ramadan demi mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19 dapat memengaruhi tingkat inflasi di suatu daerah. Tingkat inflasi pada bulan Ramadan di Kota Tarakan saat terjadi pandemi cenderung lebih rendah dibanding inflasi yang terjadi pada bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Kemudian ditinjau dari karakteristiknya sebelum ada pandemi kelompok transportasi dan komunikasi merupakan kelompok pengeluaran yang dominan mengakibatkan inflasi pada bulan Ramadan di Kota Tarakan. Sedangkan pada saat terjadi pandemi kelompok makanan, minuman dan tembakau merupakan kelompok pengeluaran yang dominan mengakibatkan inflasi.

Rendahnya tingkat inflasi ketika Ramadan merupakan hal yang tidak biasa atau dapat dikatakan menyimpang dari pola biasanya. Rendahnya inflasi Ramadan ketika terjadi pandemi Covid-19 menunjukkan harga berbagai komoditas (barang dan jasa) yang dikonsumsi masyarakat secara umum terkendali.

Hal tersebut patut disyukuri dan membuktikan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Namun di sisi lain pemerintah perlu waspada karena rendahnya inflasi Ramadan tahun ini juga mengindikasikan rendahnya daya beli masyarakat. (*)

*) Penulis adalah Staf BPS Kabupaten Tana Tidung

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah