Headline

Inflasi Kaltara Mulai Merangkak Naik

Daging Ayam - Komoditas daging ayam tercatat menyumbang tingkat inflasi Kaltara di Bulan Juni 2020. (Foto : Agung/Koran Kaltara)
  • Kota Tarakan Dominasi Pegerakan Tingkat Provinsi

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara telah merilis kondisi inflasi di bulan Juni 2020. Dalam keterangan pers yang disampaikan secara online, inflasi Kaltara didapati mulai merangkak naik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Kepala BPS Kaltara, Eko Marsoro menyampaikan, inflasi Kaltara di bulan Juni 2020 mencapai 0,88 persen. Angka tersebut, naik signifikan dibanding Mei 2020 yang mengalami deflasi 0,1 persen. “Berdasarkan hasil pantauan kami di lapangan pada bulan Juni 2020, inflasi di Kaltara secara umum mencapai 0,88 persen dibanding kondisi Mei 2020,” kata Eko dalam kanal YouTube BPS Kaltara, Rabu (1/7/2020).

Dijelaskan Eko, inflasi Kaltara 0,88 persen dibentuk dari kondisi inflasi di Kota Tarakan sebesar 0,99 persen dan di Tanjung Selor sebesar 0,45 persen. Dari analisa sederhana Koran Kaltara, tercatat lonjakan inflasi lebih signifikan terjadi di Kota Tarakan. Mengingat pada bulan sebelumnya, pusat perekonomian Kaltara ini mengalami deflasi 0,27 persen. Sementara di Tanjung Selor, kondisi inflasi justru mereda dari bulan Mei 2020 sebesar 0,56 persen.

Berbicara kondisi inflasi dalam periode tahun kalender atau dibandingkan Desember, Eko mengatakan pergerakannya lebih rendah dibandingkan inflasi bulanan. Pola ini juga berlangsung sama di Kota Tarakan.

“Dibandingkan kondisi Desember 2019 atau penghitungan inflasi tahun kalender, inflasi Kaltara sebesar 0,46 persen pada bulan Juni 2020. Sementara di Kota Tarakan hanya 0,13 persen. Justru di Tanjung Selor yang terlihat cukup tinggi di angka 1,79 persen,” papar Eko.

Lanjutnya, kondisi serupa juga terjadi dalam penghitungan inflasi tahun ke tahun ketika dibandingkan dengan kondisi di bulan Juni 2019. “Dibanding kondisi Juni 2019 atau tahun ke tahun, di Kaltara justru mengalami deflasi sebesar 0,34 persen . Begitu juga Tarakan deflasi 0,73 persen. Tanjung Selor yang malah tercatat inflasi 1,23 persen,” lanjutnya.

Mengenai hasil potret data tersebut, Eko menilai bahwa pola pergerakan inflasi Kaltara lebih banyak mengikuti pola yang terjadi di Kota Tarakan. Menurut Eko, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

“Bisa dilihat dari grafik kalau perkembangan inflasi Kaltara secara umum lebih banyak mengikuti pola Tarakan. Ini karena nilai konsumsi masyarakat di Tarakan mendominasi dengan jumlah penduduk yang jauh lebih banyak dibanding Tanjung Selor. Dengan begitu, penimbang inflasi Tarakan lebih dominan dibandingkan Tanjung Selor. Jadi gerakan inflasi umum Kaltara sangat dipengaruhi gerakan inflasi di Kota Tarakan,” jabar Eko.

Dipetakan per kelompok pengeluaran, Eko menyampaikan bahwa inflasi Juni didominasi kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok transportasi. Sedangkan dari seluruh kelompok pengeluaran, hanya kelompok pakaian dan kelompok perawatan jasa pribadi yang mengalami deflasi masing-masing 0,02 persen dan 0,29 persen.

“Kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 1,17 persen merupakan kelompok yang mengalami inflasi cukup tinggi di Bulan Juni 2020. Sama halnya dengan transportasi yang mencatatkan inflasi 4,19 persen,” ujar Eko.

Fenomena Berbeda Terjadi antara Tarakan dan Tanjung Selor

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, Eko Marsoro mengungkapkan, terdapat fenomena inflasi yang berbeda di Kota Tarakan dan Tanjung Selor pada Bulan Juni 2020. “Kalau kita rinci per wilayah, ada fenomena inflasi yang  berbeda di Tarakan dan Tanjung Selor,” ungkap Eko melalui keterangan resminya yang disampaikan secara online, Rabu (1/7/2020).

Pada kelompok pengeluaran bahan makanan, kedua wilayah memang mengalami inflasi. Bahkan untuk Tarakan masuk dalam kategori tinggi di angka 1,26 persen.  “Khusus kelompok ini di Tarakan, inflasi yang cukup tinggi di Tarakan dipengaruhi secara dominan dari kenaikan harga bawang merah sebesar 24,5 persen, kangkung sebesar 37 persen, bayam sebesar 26 persen, ikan layang sebesar 18 persen dan  daging ayam ras  yang naik hampir 6 persen. Kenaikan atas beberapa komoditi ini memicu inflasi di kelompok bahan makanan,” ulasnya.

Kendati demikian, inflasi yang cukup tinggi pada bahan makanan tidak berbanding lurus dengan lonjakan inflasi di kelompok penyediaan makanan dan minuman atau sederhananya usaha rumah makan. Menurut Eko, fenomena ini disebabkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pada bulan Juni 2020.

“Walaupun begitu (inflasi bahan makanan tinggi), karena Tarakan masih menerapkan PSBB, maka kenaikan yang terjadi tidak diiringi atau tidak berimbas pada kenaikan harga penyediaan makanan dan minuman. Fenomena ini sangat dipengaruhi tingkat permintaan yang tidak sebanyak sebelum pandemi covid-19. Sehingga  tidak menimbulkan gejolak inflasi  yang searah dari bahan makanan,” jelas Eko.

Lanjutnya, fenomena di Tarakan justru tidak berlaku di Tanjung Selor yang pemerintah daerahnya tidak menerapkan PSBB selama pandemi covid-19. Bahkan di tengah inflasi bahan makanan yang lebih rendah dibandingkan Tarakan, lonjakan inflasi penyediaan makanan dan minuman justru naik signifikan hingga 2,9 persen.

“Seperti yang saya sampaikan tadi, hal yang berbeda terjadi di Tanjung Selor. Walaupun bahan makanan beserta minuman dan tembakau ini inflasinya tidak setinggi di Tarakan, tapi kenaikannya berimbas pada kenaikan harga penyediaan makanan dan minuman atau kita sebut rumah makan. Pada Juni 2020, inflasi kelompok ini mencapai 2,9 persen,” sebut Eko.

Fenomena yang berbeda secara dominan juga terlihat pada kelompok transportasi yang sangat dipengaruhi harga tiket angkutan udara. Pada Juni 2020, inflasi kelompok transportasi di Kota Tarakan mencapai 5,2 persen. Pada saat yang bersamaan, kondisi di Tanjung Selor hanya sebesar 0,11 persen.

“Hal lain yang membedakan Tarakan dan Tanjung Selor adalah kelompok transportasi. Dimana pada awal Juni, sempat ada penerbangan dari Tarakan dan ketika itu juga menggunakan tarif batas atas. Sehingga memicu inflasi di Kota Tarakan sebesar 5,2 persen. Sementara di Tanjung Selor, pada kelompok ini relatif tidak terlalu tinggi inflasinya. Hanya 0,11 persen,” ungkap Eko.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah