Ruang Publik

Imbas Pandemi Terhadap Pergejolakan Ekonomi dan Sosial

  • Oleh: Ratih Nirahana Sari, SST

SETAHUN telah berlalu semenjak pandemi covid-19 mewabah di negeri ini. Setahun berlalu pun banyak perubahan yang dirasakan diantaranya kebiasaan masyarakat dalam menanggulangi penyebaran virus ini seperti menjaga jarak aman fisik, memakai masker, dan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebagai adaptasi kebiasaan baru.

Meskipun sebagian besar masyarakat sudah mematuhi protokol kesehatan, namun angka kasus positif di Kalimantan Utara meningkat cukup pesat, pada 19 Februari tercatat sebanyak 9.048 kasus positif.

Tak hanya memakan korban cukup banyak, pandemi covid19 ini pun berimbas pada aktivitas ekonomi. Meskipun kita sudah memasuki era new normal dimana aktivitas ekonomi sudah berangsur berjalan seperti sediakala dengan memerhatikan protokol kesehatan, nyatanya tidak membuat seluruh sektor ekonomi bertahan.

Gejolak ekonomi selama pandemi

Imbas dari pandemi ini dirasakan baik di skala nasional maupun regional, seperti di Kalimantan Utara pun merasakan imbasnya. Salah satunya adalah deflasi sebesar 0,58 persen selama januari 2021. Yang perlu kita pahami bahwa deflasi ini berasal dari penurunan daya beli konsumen sehingga persediaan barang jasa lebih banyak daripada permintaannya. Karenanya, deflasi tersebut mengakibatkan penurunan harga barang maupun jasa.

Memang terdengar menggembirakan jika mendengar adanya penurunan harga barang dan jasa tersebut, namun lain halnya dengan para produsen. Para produsen akan terus menerus dirugikan dengan harga jual yang rendah.

Oleh karena itu, produsen membuat strategi diantaranya pengurangan jumlah produksi dan pengurangan biaya produksi, seperti mengurangi bahan baku atau penolong, pengurangan jam operasional kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK).

Startegi yang dibuat oleh para produsen dalam menjaga stabilitas usahanya ternyata menyebabkan gejolak ekonomi di dalamnya. Jika dilihat secara menyeluruh, kondisi ekonomi di Kalimantan Utara tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -1,11 persen dibandingkan 2019.  Sedangkan pada saat sebelum adanya pandemi covid 19, pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 sebesar 6,90 persen.

Sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan kontraksi yang cukup dalam antara lain adalah sektor pertambangan dan penggalian (-6,81 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (-4,45 persen), dan industri pengolahan (-3,85 persen). Jika diamati, sektor-sektor yang mengalami kontraksi tertinggi merupakan  sektor yang memiliki keterlibatan lebih banyak interaksi masyarakat yang memicu munculnya cluster covid19.

Apabila dicermati satu persatu, pada sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan diakibatkan adanya penurunan permintaan ekspor batubara dan nikel dari china sehingga menyebabkan harga komoditas tersebut makin tertekan.

Sedangkan untuk penurunan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum penyebabnya tak lain dari penurunan jumlah wisatawan mancanegara dan dalam negeri. Lalu disusul dengan penutupan tempat rekreasi dan hiburan yang berimbas sepinya pengunjung hotel dan restoran. Di samping itu ada perubahan pola konsumsi yang menyebabkan masyarakat lebih suka makan di rumah.

Selanjutnya, sektor industri pengolahan yang mengalami kontraksi karena terganggunya aktivitas produksi akibat sulit dan mahalnya harga bahan baku dan penolong, tersendatnya karena pemberlakuan PSBB dan rendahnya daya beli masyarakat yang menurunkan permintaan hasil produksi,

Imbas terhadap kondisi sosial masyarakat

Semakin lama dan semakin luas pandemi ini tersebar, semakin lama pula nasib yang tak menentu bagi tenaga kerja kita. Terbatasnya ruang gerak dalam melakukan aktifitas ekonomi dan rasa takut akan terjerat virus masih menghantui menyebabkan angka pengangguran melonjak tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kalimantan Utara pada agustus 2020 mengalami peniingkatan sebesar 4,49 persen (17.290 orang) dibandingkan kondisi agustus 2019 (15.062 orang).

Dampak dari pandemi Covid-19 terhadap pengangguran lebih besar terdampak pada tenaga kerja yang berada di wilayah perkotaan yaitu sebanyak 2.772 orang. Sedangkan di wilayah pedesaan hanya sebanyak 388 orang.

Imbas pandemi ini lebih tahan pada masyarakat yang tinggal di pedesaan karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat pedesaan di sektor pertanian dimana sektor ini memiliki proporsi paling banyak terhadap perekonomian Kalimantan Utara yaitu 20,45 persen di tahun 2020.

Selain itu, imbas lain dari adanya pandemi adalah hilangnya jam kerja (working-hour losses), berkurangnya jam kerja tersebut paling banyak dialami oleh penduduk berusia 25-59 tahun yang merupakan usia produktif.

Efek pengganda dari pandemi ini berujung pada ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan (basic needs). Hal ini sesuai dengan konsep mengukur kemiskinan menurut BPS.

Selama Maret sampai September 2020 garis kemiskinan (GK) di Kalimantan Utara menyentuh Rp 694.496 per kapita meningkat 2,05 persen dibandingkan bulan Maret. Garis kemiskinan ini merupakan besaran rupiah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan makanan yang setara 2100 kalori dan kebutuhan non makanan.

Penduduk miskin adalah yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Dengan meningkatnya garis kemiskinan, meningkat pula jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 900 orang atau 0,61 persen dibanginkan Maret 2020.

Upaya mengembalikan kondisi sosial dan ekonomi ke sediakala

Meskipun dampak dari pandemi covid19 ini masih dirasakan baik dari sisi ekonomi dan sosial, pemerintah baik pusat dan daerah telah berupaya sekuat mungkin untuk menekan dampak dari pandemi ini. Fondasi utama yang menjadi tumpuan stabilitas ekonomi adalah daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memfokuskan dalam menjaga daya beli masyarakat guna mempertahankan kesejahteraan masyarakat di tengah gejolak ekonomi saat ini. Pemerintah telah melaksanakan program seperti bantuan sosial, bantuan langsung tunai (BLT) kartu pekerja, hingga diskon tarif listrik sudah diberikan.

Namun program-program tersebut belum mampu sepenuhnya mengembalikan kondisi ekonomi dan sosial ke sedaikala. Untuk meningkatkan keefektifan dari program tersebut, langkah yang perlu dilakukan pemerintah daerah salah satunya adalah rutin mengupdate data penerima bansos.

Ketepatan data penerima bantuan ini sangat berdampak dalam menjaga daya beli masyarakat terutama di masa pandemi Covid-19.

Selain itu, pemerintah pun dapat menggairakah sektor ekonomi ke sediakala dengan memberikan stimulus fiskal maupun non fiskal.  Stimulus non fiskal seperti memperlancar arus bahan baku dan menjaga ketersediaannya, menyediakan jaring pengaman sosial bagi pekerja sektor informal, pemberian insentif pelatihan melalui Program Kartu Prakerja bagi yang mengalami PHK.

Sedangkan,  stimulus fiskal yang dapat diberikan pemerintah seperti pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan. Kebijakan ini berguna dalam keberlangsungan UMKM, industri manufaktur, maupun angkatan kerja. (*)

*) Penulis adalah Pejabat Fungsional Statistisi di BPS Provinsi Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah