Ruang Publik

Heutagogi, Sebagai Pendekatan dalam Pelatihan Aparatur di Masa Kebiasaan Baru

Wahyu Eko Handayani
  • Oleh: Wahyu Eko Handayani, S.Pd., M.Pd

KEBERHASILAN sebuah bangsa dan negara tidak bisa lepas dari sumber daya manusia yang mereka miliki. Karena itu peran sentral kemajuan sebuah bangsa tidak terlepas dari pola pendidikan yang ada di negara tersebut. Pendidikan merupakan fondasi awal sebuah bangsa untuk menjadi besar.

Namun harus diingat di balik kemajuan sebuah pendidikan terdapat peranan sentral pendidik yang terdiri dari guru, dosen maupun widyaiswara. Mereka inilah yang memiliki peranan sangat menentukan karena berhadapan langsung dengan para generasi terbaik bangsa ini.

Pengajar yang lahir tahun antara dekade 60-an sampai tahun 80-an, yang sering disebut dengan generasi  X, harus mengajar generasi milenial (generasi Z) yang lahir tahun 90-an. Kelahiran generasi milenial, bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup.

Mereka adalah generasi yang berkomunikasi, bergaul, dan familiar dengan produk-produk digital. Pada bidang pendidikan pun generasi ini menemukan gaya belajar yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan pengalaman belajar yang berbeda.

Kini tenaga pengajar harus beradaptasi untuk bisa masuk dalam zaman mereka, harus melek teknologi. Pendidik yang melek digital (digital literate) sangat dibutuhkan untuk melayani generasi milenial.

Revolusi industri keempat (4.0) atau bisa disebut sebagai revolusi digital, memberikan tawaran yang sangat menarik bagi dunia pendidikan. Utamanya berkaitan dengan akses terhadap beragam informasi dan kemudahan untuk membagikan informasi tersebut secara cepat, di mana pun, ke mana pun dan kapan pun.

Kemudahan untuk mengakses dan membagikan beragam informasi tersebut, secara tidak langsung memberikan tawaran segar bagi kemudahan penerapan heutagogi learning (self-determined learning). Cara belajar  yang sebenarnya sudah ditawarkan sejak  lebih dari satu dekade silam.

Heutagogi adalah pendekatan pembelajaran daring yang berpusat kepada peserta didik, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Heutagogi menawarkan kebebasan kepada pembelajar (learner) untuk menentukan (determine) sendiri pola belajarnya.  Peserta didik menjadi penggerak dan penanggung jawab atas apa yang dipelajarinya, dan bagaimana cara mempelajarinya.

Proses belajar mengajar yang terjadi dalam semua pembelajaran yang melibatkan peserta didik dengan tenaga pengajar harus melahirkan tujuan yang jelas karena itu dalam pendekatan pembelajaran ini melahirkan pendekatan Pedagogi, Andragogi dan terakhir Heutagogi. Selama ini pendekatan pedagogi dan andragogi sudah sukses diterapkan dalam kegiatan pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran

Seiring dengan hal tersebut, maka mucullah kemudian metode terbaru dalam pembelajaran yakni metode Heutagogi. Menurut Edi Abdullah “Secara umum Heutagogi bisa dikatakan sebuah pendekatan praktik pembelajaran di mana peserta pelatihan belajar secara mandiri, berbagai konten tentang pembelajaran sudah disiapkan terlebih dahulu baik dalam bentuk video maupun dalam bentuk informasi elektronik dan dokumen elektronik,”.

Dilansir  dari  Hase dan Kenyon (2007),  Heutagogi (berdasarkan bahasa Yunani untuk “diri”) sebagai studi tentang belajar mandiri. Heutagogi menerapkan pendekatan menyeluruh untuk mengembangkan kemampuan pembelajar, dengan belajar sebagai proses aktif dan proaktif.

Peserta didik berfungsi sebagai “agen utama dalam pembelajaran mereka sendiri, yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman pribadi”. Sementara widyaiswara sebagai instruktur, juga memfasilitasi proses pembelajaran dengan memberikan bimbingan dan sumber daya, tetapi sepenuhnya melepaskan kepemilikan jalur dan proses pembelajaran kepada pembelajar, yang merundingkan pembelajaran dan menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana belajarnya.

Pola pembelajaran pada heutagogi adalah: 1) membuat kontrak belajar; menentukan bersama apa yang dibutuhkan peserta didik dan apa saja yang ingin dipelajari, menentukan bersama bagaimana proses pembelajaran berlangsung, menentukan bersama bagaimana proses penilaiannya.

2) mengembangkan aktivitas pembelajaran; mengidentifikasi sumber belajar yang tersedia, mengidentifikasi dan mengembangkan bersama hasil belajar yang diinginkan.

3) memberikan umpan balik; guru memberikan umpan balik pencapaian hasil belajar siswa, dan menganalisa mana yang harus atau perlu dikembangkan, dan 4) refleksi diri; mengukur sejauh mana pencapaian hasil belajar.

Sedangkan penilaian hasil belajar, dilakukan berdasarkan kontrak yang dibuat. Penilaian tidak hanya melalui tes tapi bisa juga non tes, dan yang terpenting, penilaian utama adalah peserta pelatihan itu sendiri.

Elemen yang terpenting dalam heutagogi adalah: Pertama, eksplorasi. Peserta  memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai pola dan sumber pengetahuan.

Kedua, mencipta. Peserta memiliki kebebasan dalam menciptakan sesuatu.

Ketiga, kolaborasi. Peserta  saling bekerja sama menuju tujuan bersama dengan berbagi informasi,  berlatih dan bereksperimen.

Keempat, network. Menghubungkan jejaring adalah hal yang terpenting karena peserta didik terhubung dengan ahli di bidang ilmu yang dipelajari.

Kelima, refleksi. Yaitu kesempatan di mana pembelajaran baru dan sebelumnya, terkonsolidasi dan memberikan kesempatan untuk proses kognitif tingkat tinggi.

Tetapi ada juga kelemahan dari heutagogi dari sisi peserta didik, di mana dituntut kematangan pembelajar dalam belajar. Peserta didik paham apa yang harus dikerjakan tanpa harus menunggu instruksi dari pendidik. Mereka harus memiliki tingkat kemandirian yang tinggi, dan visi belajar yang jelas dan pemahaman yang baik.

Jika ingin memakai pendekatan heutagogi ini, maka perlu diperhatikan antara lain latar belakang antropologi dan sosiologis peserta pelatihan, konflik yang terjadi karena belum terbiasa dengan cara belajarnya dan menemukan pola yang tepat sehingga peserta pelatihan merasa nyaman.

Dalam model heutagogi guru, dosen, widyaiswara bukan lagi bertugas seperti matahari yang menyinari dengan ceramahnya namun sebaliknya peranan tenaga pengajar tersebut hanya sebatas menyediakan sumber pembelajaran baik dalam bentuk dokumen elektronik maupun informasi elektronik yang bisa diakses peserta didik secara online.

Peserta pelatihan bebas untuk memutuskan dan mempelajari media yang sudah disiapkan tenaga pengajar. Praktik seperti ini sudah dimanfaatkan dengan baik sebuah perusahaan aplikasi yakni Ruang Guru.

Kedua, focus of learning/fokus pembelajaran. Dalam model heutagogi proses fokus pembelajaran bagaimana memecahkan sebuah permasalahan di mana peserta menggunakan seluruh potensi yang dia miliki untuk aktif belajar, merefleksikan berbagai pengalaman yang mereka miliki maupun belajar dari alam sekitarnya. Dari hal ini kemudian melahirkan proses interaksi yang menarik antara para peserta pelatihan.

Dan, yang paling penting fokus pembelajaran pada model heutagogi tetap terfokus kepada peserta pelatihan dengan memanfaatkan berbagai kemampuan yang mereka miliki.

Bagi seorang tenaga pengajar seperti guru, dosen maupun widyaiswara pada model heutagogi tenaga pengajar tentunya harus memiliki kemampuan yakni kemampuan memahami betul bagaimana teknik menjadi pengajar yang menyenangkan dan kreatif, serta memiliki kemampuan kerja sama yang baik dengan tenaga pengajar lainnya.

Dan yang paling penting mereka harus menyadari bahwa peserta pelatihan yang mereka hadapi bukan lagi kertas kosong, tetapi peserta  yang memiliki kemampuan dan keunikan yang berbeda-beda. (*)

*) Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya Bpsdm Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah