Ruang Publik

Hari Keluarga Nasional 2022, Momentum Percepatan Penurunan Stunting

dr Asmawati

Oleh: dr. Asmawati

HARI Keluarga Nasional (HARGANAS) diperingati setiap tahunnya pada tanggal 29 Juni. Peringatan Harganas ini sudah dilakukan sejak tahun 1993.

Latar belakangnya sendiri dilandasi peristiwa kembalinya pejuang kemerdekaan yang wajib militer kepada keluarganya pada tanggal 29 Juni 1949, setelah Belanda mengembalikan kedaulatan negara Republik Indonesia.

Harganas merupakan perwujudan pentingnya arti keluarga terhadap upaya memperkuat ketahanan nasional.

Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat, yang menjadi pondasi penting dan awal pembangunan karakter bangsa.

Baiknya suatu bangsa, ditentukan baiknya keluarga-keluarga yang ada dalam bangsa tersebut. Sehingga, sangat penting dan perlunya optimalisasi delapan fungsi keluarga yaitu agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan untuk mewujudkan keluarga yang berketahanan.

Peringatan Harganas tahun ini diharapkan sebagai sebagai momentum untuk membantu percepatan penurunan stunting, sehingga tema yang diusung adalah “ Ayo cegah stunting agar keluarga bebas stunting”. Untuk tagar yang digunakan adalah #KeluargaKerenCegahStunting.

STUNTING

Masalah gizi di Negara Indonesia memang masih cukup beragam, mulai dari gizi kurang sampai gizi buruk, stunting (perawakan pendek), bahkan obesitas (berat badan berlebih) turut memberikan kontribusi.

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2 persen lebih tinggi dari masalah gizi yang lain. Hal ini berarti pertumbuhan tidak maksimal dialami sekitar 8,9 juta anak Indonesia atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting.

Lebih dari 1/3 anak berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata. Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Dengan nilai PDB tahun 2015 sebesar Rp11.000 triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai 300 triliun rupiah sampai 1.200 triliun rupiah per tahun.

Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak lain yang seusia atau tinggi badan terhadap umur (TB/U) di bawah -2 SD (standar deviasi) yang menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis.

Penyebabnya antara lain kurangnya asupan gizi bagi janin/bayi karena kemiskinan dan ketidaktahuan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena hygiene dan sanitasi yang kurang baik.

Beberapa faktor risiko yang memicu terjadinya stunting antara lain bayi lahir prematur, bayi berat lahir rendah, ibu hamil yang kurang energi kronis KEK dan menderita anemia, bayi yang tidak mendapat air susu ibu, makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak tepat, pertumbuhan yang tidak dipantau, penyediaan air bersih dan sanitasi yang tidak layak.

Dampak yang ditimbulkan stunting berupa jangka pendek dan jangka panjang. Dampak ini tidak hanya lingkup kesehatan tapi lebih luas.

Dampak jangka pendek antara lain peningkatan angka mortalitas dan morbiditas, penurunan perkembangan kognitif, motoric dan bahasa, juga pengeluaran kesehatan/ anak sakit meningkat.

Sedang dampak jangka panjangnya adalah penurunan tinggi badan saat dewasa (tidak maksimal) dan kesehatan reproduksi, peningkatan obesitas dan komorbidnya, penurunan performans sekolah, kapasitas belajar, potensi yang tidak dapat dicapai, serta berdampak pada penurunan produktivitas dan kapasitas kerja.

Dengan demikian stunting yang disebabkan oleh faktor multidimensi, maka intervensi paling menentukan adalah 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Mengapa di 100 HPK ? Karena pada masa ini yaitu dari konsepsi dan menjadi janin sampai berumur 2 tahun yang merupakan periode krusial tumbuh kembang anak, ditandai oleh proliferasi neuron (pertambahan dalam jumlah sel), pertumbuhan dan diferensiasi (kompleksitas), myelinisasi dan synaptogenesis (connectivity) dan juga periode otak paling rentan terhadap kekurangan nutrisi.

Intervensi yang dapat dilakukan dengan 10 cara berikut; 1) Ibu hamil mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan; 2) Pemberian makanan tambahan ibu hamil; 3) Pemenuhan gizi; 4) Persalinan dengan dokter atau bidan yang ahli; 5) IMD (Inisiasi Menyusui Dini); 6) Berikan ASI ekslusif pada bayi sampai umur 6 bulan; 7) Berikan makanan pendamping ASI untuk bayi di atas 6 bulan sampai 2 tahun; 8) Berikan imunisasi dasar lengkap dan vitamin A; 9) Pantau pertumbuhan balita di posyandu terdekat; dan 10) Lakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

Selain sasaran utama intervensi ini ke ibu hamil, ibu menyusui dan anak, yang banyak berperan dari kesehatan, juga tak kalah pentingnya di luar sektor kesehatan untuk pembangunan lingkungan yang sehat yang bahkan 70 persen berkontribusi untuk penanganan stunting ini.

Kegiatannya antara lain penyediaan air bersih, menyediakan akses layanan Keluarga Berencana (KB), menyediakan akses Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal), memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.

Lalu, memberikan pendidikan anak usia dini universal, memberikan pendidikan gizi masyarakat, memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi kepada remaja, meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

Prevalensi stunting di Indonesia masih cukuk tinggi, pada tahun 2021 sebesar 24,4 persen, masih di atas standar WHO yaitu 20 persen.

Indonesia sendiri menentukan target nasional sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Untuk di kabupaten Bulungan sendiri sejak dari tahun 2019 mengalami penurunan dari 19,5 persen di tahun 2019; 18,2 persen di tahun 2020 dan 17,8 persen di tahun 2021.

Tentunya ini masih membutuhkan kerja keras dari semua stake holder atau lintas sektor terkait untuk berkomitmen dan bersinergi dalam mempercepat penurunan stunting di Bulungan.

Dengan terbentuknya Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dengan berbagai program kegiatan akan berkontribusi dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Bulungan khususnya dan Kalimantan Utara umumnya.

Dengan momentum Hari Keluarga Nasional, mari wujudkan keluarga yang sehat dengan anak-anak yang sehat, generasi yang cerdas tentunya bebas stunting menjadi penerus pembangunan bangsa bahkan menjadi calon pemimpin masa depan bangsa.

Mari peduli terhadap lingkungan, dengan ikut andil dalam program pencegahan dan penurunan angka prevalensi stunting yang harus terus dilaksanakan untuk menyiapkan generasi unggul, serta memiliki kompetensi dan keterampilan yang tinggi, termasuk kepribadian yang menjunjung jati diri bangsa. (*)

*) Penulis adalah dokter umum di Puskesmas Tanjung Selor, Bulungan

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment