Ruang Publik

Hari Guru?

Dwi Wahyu Alfajar
  • oleh: Dwi Wahyu Alfajar

“Engkau sebagai pelita dalam kegelapan…,

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan…”

Yap, kita mendengar lantunan lagu tersebut dinyanyikan di media-media pembelajaran online. Mulai dari siswa taman kanak-kanak hingga SMA akan serentak dan bersatu padu membuat persembahan terbaik bagi guru-guru terkasihnya.

Grup whatsapp kelas penuh dengan ucapan “Selamat Hari Guru” atau sejenisnya. Bapak dan ibu guru sibuk membalas pesan whatsapp siswa dan orangtua yang ingin memanfaatkan momen ini untuk lebih dekat dengan mereka.

Meskipun agak sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, menyambut tanggal 25 November, masih ditemukan guru-guru yang sibuk berlatih menjadi petugas upacara. Mereka saling menertawai ketika ada rekan guru yang terlihat kaku ketika menjadi petugas upacara.

Pun demikian, muncul sosok guru yang menjadi penyemangat guru-guru lain agar menampilkan performa terbaiknya dalam momen upacara kali ini.

Selepas itu, muncul guru-guru dengan predikat baru. Akan muncul sosok guru terinspiratif, terkreatif, terinovatif, tergokil, ter-stylish, dan ter- ter- yang lainnya. Siswa-siswi pun akan menyiapkan hadiah-hadiah terbaik bagi mereka.

Kartu ucapan, surat cinta, bunga, cokelat, menjadi hadiah-hadiah yang dikirimkan dari rumah ke sekolah. Para orang tua pun akan sibuk membantu anak mereka untuk mengkreasikan hadiah terbaik bagi guru-gurunya.

Sayangnya, budaya tadi lebih banyak terjadi di kota-kota besar dan sekitarnya. Di mana siswa dan orang tua sudah benar-benar memanfaatkan momentum Hari Guru sebagai sarana untuk mengucapkan terima kasih kepada para guru.

Lalu apa kabar di desa? Apa kabar di daerah yang jauh dari kota? Apakah siswa dan orang tua tahu kalau ada peringatan hari guru? Apakah guru-guru di daerah akan mendapatkan hadiah yang sama dengan guru-guru di kota?

Tentu jawabannya, tidak selalu. Sebagian guru di daerah beranggapan bahwa momentum hari guru hanyalah sebuah acara seremonial belaka.

Seharusnya ada hal yang lebih fundamental yang diberikan kepada mereka sebagai pendidik. Ada hadiah yang lebih tepat bagi guru-guru di daerah untuk lebih bisa memaknai hari-harinya sebagai guru.

Lantas, apa hadiah terbaik untuk guru-guru di daerah? Bukan kartu ucapan, bukan surat cinta, bukan bunga ataupun cokelat. Hadiah terbaik yang seharusnya mereka dapatkan adalah perhatian dari stakeholder terkait. Ya, guru-guru di daerah harus lebih diperhatikan.

Dinas Pendidikan

Salah satu Lembaga yang bertanggungjawab memberikan perhatian lebih bagi guru-guru di daerah adalah instansi yang menaungi mereka, yaitu Dinas Pendidikan. Sudah seharusnya Dinas Pendidikan memperhatikan kualitas guru yang mereka miliki.

Dinas Pendidikan bersama pemerintah daerah seharusnya menyiapkan anggaran yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas guru yang ada. Setidaknya sekali dalam setahun Dinas Pendidikan menyelenggarakan pelatihan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan guru-guru di lapangan.

Pelatihan yang ada juga diharapkan benar-benar optimal. Pelatihan-pelatihan tersebut seharusnya juga tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru, kompetensi sosial dan kepribadian guru juga perlu untuk di-upgrade.

Sistem pelatihannya pun harus disesuaikan dengan kondisi geografis yang ada. Misal di daerah kepulauan yang tidak memungkinkan untuk mendatangkan seluruh guru ke pusat kabupaten, pelatihan bisa dilakukan dengan meminta UPT mengirimkan guru-guru terbaiknya.

Kemudian guru-guru tersebut nantinya bisa jadi pemateri di tingkat UPT melalui KKG (Kelompok Kerja Guru) atau MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Dengan demikian, pemerataan kualitas guru akan semakin optimal. Guru-guru akan semakin berkualitas yang kemudian akan melahirkan anak-anak  didik yang berkualitas pula.

Kepala Sekolah

Kepala Sekolah juga harus benar-benar memerhatikan guru-gurunya. Layaknya perhatian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Sudah sewajarnya kepala sekolah menjadi sosok teladan bagi guru-guru di sekolah. Sudah seyogyanya kepala sekolah membersamai guru-gurunya tumbuh di sekolah. Sudah seharusnya kepala sekolah hadir seutuhnya untuk guru-gurunya.

Dengan kompetensi manajerial yang dimiliki kepala sekolah, kepala sekolah dapat mengadakan program-program peningkatan kompetensi guru di sekolah. Kepala sekolah dapat melaksanakan kegiatan briefing mingguan sebagai sarana untuk memantik semangat guru di awal pekan.

Melalui evaluasi dan refleksi bulanan, kepala sekolah juga dapat mengecek target dan capaian yang sudah dilakukan oleh guru selama satu bulan. Ditambah lagi dengan kegiatan refleksi yang dapat dilakukan untuk mencari tahu hal baik apa yang sudah dilakukan dan hal apa saja yang perlu dikembangkan dalam mendukung kompetensinya sebagai seorang guru.

Selain itu, kepala sekolah juga dapat membuat program ruang belajar guru sekali dalam sebulan. Dengan adanya kegiatan ini, guru-guru dapat saling berbagi beragam pengetahuan yang dimiliki untuk mengembangkan kompetensinya sebagai guru.

Dengan pemenuhan asupan pengetahuan bagi guru-gurunya, tentu kepala sekolah sudah menunjukkan perhatiannya sebagai orang tua yang memfasilitasi anak-anaknya untuk terus tumbuh dan berkembang.

OrangTua/Wali Murid

Tak ketinggalan, orangtua/wali murid juga seharusnya ikut serta memberikan perhatian kepada guru di sekolah. Bukan dengan hadiah-hadiah yang diberikan kepada guru. Bukan juga dengan makanan-makanan yang diantarkan ke rumah-rumah guru. Melainkan dengan kesediaan untuk menemani anak belajar di rumah.

Orangtua tidak bisa dengan serta merta menyerahkan tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru di sekolah, karena pendidikan yang pertama dan utama ada di lingkungan keluarga. Orangtua harus ingat bahwa guru hanya membersamai anak-anak sekitar 6 sampai 8 jam di sekolah. Selebihnya adalah tanggung jawab orangtua di rumah.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya orangtua membangun komunikasi yang efektif dengan guru di sekolah. Orangtua bisa berinisiatif membuat grup whatsapp kelas. Melalui grup ini orangtua dapat menanyakan perihal tugas yang diberikan kepada anak, informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan sekolah, atau berbagi tips bagaimana memantau dan mendampingi perkembangan anak di rumah.

Kalaupun tidak memungkinkan untuk membuat grup whatsapp, hal serupa bisa dilakukan melalui kegiatan pertemuan wali murid. Wali murid dalam satu kelas dapat mengadakan pertemuan rutin bersama wali kelas sepekan sekali atau sebulan sekali.

Terlebih jika wali murid dapat benar-benar aktif dalam optimalisasi komite sekolah. Sehingga saran dan kritik yang muncul dari wali murid dapat disampaikan langsung melalui wadah tersebut.

Pada akhirnya jika stakeholder terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan orang tua/wali murid dapat bersama-sama memperhatikan guru, tentunya guru akan sangat bahagia. Guru-guru akan merasa dimanusiakan sebagai selayaknya manusia.

Guru-guru akan menjadi pelita dengan kualitas cahaya yang sangat terang. Guru-guru akan menjadi embun yang benar-benar menyejukkan. Sehingga guru-guru dapat memaknai hari-harinya sebagai guru sepanjang tahun, bahkan sepanjang ia diberi kehidupan. (*)

*) Penulis adalah Pengajar Muda XIX Kab. Nunukan penempatan SDN 007 Lumbis Ogong

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah

About the author

Avatar

Koran Kaltara

2 Comments

Click here to post a comment

  • Semoga pendidikan di Indonesia lebih baik lagi. Hari guru telah berlalu, semoga bisa menjadi evaluasi, motivasi, dan semangat baru lagi untuk ke depannya. Semangat juga buat pak guru Fajar yang tak redup semangatnya untuk mengabdi di Kalimantan.

  • Mantab kali mas penulisnya. Semoga pendidikan di negara ini akan terus berkembang. Mantab mas penulis. Salam dari jeporo 👍😁 salam kenal ya mas.