Headline

Harga Ikan Kering Tipis Naik Drastis

Nelayan Juata Laut menaikkan ikan nomei hasil tangkapan. (Foto: Istimewa)
  • Bahan Baku Pembuatan Berkurang karena Pergeseran Ekosistem

TARAKAN, Koran Kaltara– Kawasan konservasi ikan nomei, atau masyarakat sekitar menyebutnya ikan pepija atau lembek, mulai dirambah nelayan yang mencari ikan bawal maupun udang. Sehingga anakan ikan nomei banyak yang tersangkut jaring. Namun tangkapan ini tidak bisa diolah karena ukurannya terlalu kecil. Kondisi ini membuat stok ikan untuk membuat ikan kering tipis menjadi langka. Kelangkaan ini membuat harga jualnya naik mencapai 50 persen.

Salah satu kelompok nelayan yang mengelola ikan kering tipis di Kelurahan Juata Laut Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Suhartini, mengaku saat ini kelompoknya hanya memproduksi ikan kering tipis saat ada bahan, yaitu ikan nomei. Sebelum ada kelangkan, setiap periode air laut naik atau pasang, menjadi waktu paling ditunggu. Pasalnya, tangkapan ikan nomei akan melimpah.

Berdasarkan pengamatan masyarakat Juata Laut, kelangkaan ikan nomei dikarenakan adanya aktivitas nelayan di kawasan konservasi. Meskipun tidak memburu ikan nomei, tetapi wilayah konservasi tersebut juga banyak ikan bawal dan udang.

“Dulu tidak ada yang narik (menangkap ikan dengan trawl) di lokasi ikan pepija untuk berkembang biak. Tetapi selama ada pandemi Covid-19, banyak orang yang narik bawal dan udang dikasi ikan pepija itu. Sehingga ikannya tidak mau lagi ke sini, di perairan Juata Laut,” ujar Suhartini dihubungi Koran Kaltara, Jumat (5/3/2021).

Anakan ikan lembek yang terjaring nelayan pencari bawal dan udang di kawasan konservasi, membuat keberadaannya di perairan Juata Laut semakin berkurang. Kondisi ini membuat hasil tangkapan minim. Nelayan khusus pencari ikan pepija harus menanggung kerugian karena hasil tangkapan tidak sesuai dengan biaya membeli bahan bakar minyak (BBM).

“Hari ini hanya dapat 40 kilogram saja, tidak cukup memenuhi permintaan pasar. Ikan kering tipis yang sudah jadi selalu dibeli oleh orang yang datang ke sini sehingga tidak sempat diantar ke pasar. Kalau tidak dilarang orang narik bawal dan udang di sana, ikan kering tipis di Kaltara ini akan hilang,” ucapnya.

Suhartini mengaku, bahwa kondisi ini sudah diberitahukan ke Dinas Perikanan Kota Tarakan. Harapannya jangan sampai ada nelayan yang mengganggu kawasan konservasi demi keberlangsungan roda ekonomi. Terutama nelayan yang memang mencari ikan nomei ini.

“Harga jual naik. Awalnya Rp100 ribu per kilogram, sekarang sudah sampai Rp160 ribu per kilogram. Ya karena mencari bahan ikan kering tipis ini susah. Imbasnya bukan hanya ke nelayan, tetapi juga ke kita ini sebagai penampung ikan nomei untuk dioleh menjadi ikan kering tipis. Saya dengar, nelayan sini akan mencari ikan nomei ke Nunukan,” ungkapnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustofa
Editor: Nurul Lamunsari

Cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan