Bulungan

Gunakan Baju Adat Dayak Kenya Sejak dari Zaman Belanda

Wabup Ingkong Ala bersama istri, saat menggunakan pakaian adat Dayak Kenya. (Foto : Nurjannah)

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Melestarikan budaya daerah harus terus digaungkan. Ini sebagai wadah pengetahuan.

Tidak saja bagi mereka yang sudah tua melakukannya, tetapi juga bagi kaum muda yang masih perlu banyak belajar tentang sejarah. Baik budaya kesenian, maupun juga pakaian adat daerah, seperti halnya yang ada di Bulungan saat ini.

Bulungan memiliki tiga suku asli, yakni suku Bulungan itu sendiri, suku Tidung dan Suku Dayak. Meski memiliki suku asli, Bulungan tak menutup diri bagi budaya suku lain yang masuk di daerah ini.

Contohnya pada saat upacara peringatan hari jadi Bulungan dan Tanjung Selor, Selasa (12/10/2021).

Seluruh peserta membaur menggunakan pakaian adat masing-masing, hampir seluruh pakaian adat di Indonesia turut memeriahkan pucak peringatan hari jadi tersebut.

Tak terkecuali Bupati dan Wakil Bupati Bulungan (Wabup). Di mana kali ini Bupati Bulungan Syarwani menggunakan pakaian adat Bulungan, berwarna kuning keemasan, lengkap dengan singal (penutup kepala), selendang dan ikat pinggang.

Sementara Wabup Bulungan Ingkong Ala, menggunakan pakaian adat Dayak Kenya, lengkap dengan penutup kepala berupa Bluko.

Bluko merupakan penutup kepala yang dilengkapi dengan berbagai aksesoris khas Dayak, bentuknya bulat menutup berwarna kecoklatan dilapisi pernak pernik warna khas Dayak.

Tepat di depan Bluko serupa tengkorak bermata dua, dan dihiasi jambul bulu Burung Enggang dan Tebun menjulang tinggi.

Selain itu pakaian khas Dayak Kenya ini juga dilengkapi rompi bercorak kulit macan.

“Ini dalam sejarahnya, sudah ada sejak zaman Belanda dulu. Jadi dulu ini (bluko) dikasih oleh orang belanda kepada nenek moyang kami yang ada di Apau Kayan,” ujar Ingkong Ala  menjelaskan pakaian adat yang digunakannya.

Bola mata tepat di atas kepala menjadi perhatian banyak orang, namun apa filosofinya, Ingkong juga belum menjelaskan lebih jauh.

Akan tetapi, ia menegaskan itu memang sudah dari turun temurun. Dirinya sendiri sudah merupakan keturunan yang kelima.

“Keturunan pertama yang menggunakan pakaian ini adalah Ingan Surang, kemudian Lencau Ingan, lalu Le Lencau, baru Bit le. Dan kami generasi kelima yang masih menggunakan pakaian ini,” katanya.

Ada syarat khusus penggunaan bluko tersebut, khusus untuk hiasan berupa bulu burung menjulang kelangit itu.

Bagi yang masih dalam keadaan hidup jumlahnya harus genap, sementara bagi orang tua yang sudah meninggal,  maka jumlahnya harus ganjil, mulai dari 5, 7, 9 dan 11.

“Ya jumlah rambutnya itu ditentukan, sementara untuk rompi kalau melihat sejarah dulu itu dari kulit binatang asli seperti macan atau harimau. Tapi saat ini kan sudah tidak boleh membunuh binatang, jadi ini coraknya saja sementara kainnya dari jenis beludru,” bebernya.

Sebagai wujud pelestarian budaya daerah diharapkan seluruh masyarakat di Bulungan turut melestarikannya.

Di hari jadi Bulungan kali ini, Ingkong Berharap pembangunan dan kesejahteraan masayarakat Bulungan bisa meningkat.

“Sementara ini kegiatan sederhana, namun kita bersyukur bisa berbagi semangat untuk Bulungan lebih baik kedepannya,” tutupnya (*)

Reporter: Nurjannah
Editor: Eddy Nugroho

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment