Ekonomi Bisnis

Ekspor Hasil Pertanian dari Kaltara Belum Bergairah

Pemeriksaan biji kakao sebelum diekspor ke Tawau. (Foto: Istimewa/Balai Karantina Pertanian)

TARAKAN, Koran Kaltara – Beberapa hasil pertanian Kaltara, seperti kakao, pisang, kelapa dan sawit menjadi komoditas unggulan ekspor dengan tujuan Malaysia. Namun, karena adanya pandemi Covid-19 Malaysia menutup pintu perdagangan sejak Maret dan baru dibuka Mei lalu.

Ekspor pertama dengan tujuan negara tetangga ini, baru pisang dan kelapa pada 17 Mei lalu dan kakao 16 Juni lalu.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tarakan, Akhmad Al Faraby menuturkan, kakao bahan dasar pembuatan cokelat ini terakhir diekspor melalui pelabuhan di Sebatik.

Ia pun mengaku masih melakukan koordinasi dengan pelaku usaha di Nunukan untuk memastikan apa yang menjadi kendala ekspor ini terhenti, meski Malaysia sudah membuka jalur perdagangan.

“Supaya bisa bergairah lagi ekspor pertanian di Kaltara ini. Kan, sebelum ada pandemi ini seminggu bisa ekspor kakao beberapa kali. Sedangkan sawit dan pisang bisa setiap hari,” ujarnya.

Sedangkan untuk kakao, ekspor pada 16 Juni lalu 2.600 kg biji kakao kering setelah dilakukan pemeriksaan fisik oleh pejabat karantina untuk memastikan bebas dari OPT.

Setelah dinyatakan bebas, maka eksportir berhak mendapat Phytosanitary Certificate (sertifikat kesehatan tumbuhan).

Berdasarkan data IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automatic System), hingga Juni 2020 ekspor biji kakao kering telah dilakukan sebanyak lima kali, dengan total volume 10,791 ton bernilai Rp253.915.800.

Produk yang diekspor berupa biji kakao kering yang telah dibersihkan dari kulit dan pulpnya serta melewati proses penjemuran selama 3-4 hari untuk mengurangi kadar air biji.

Biji kakao yang dikirimkan untuk ekspor haruslah berkualitas tinggi. Standar kualitas biji kakao kering yang dipersyaratkan Malaysia ada tiga, yaitu biji kakao tidak boleh basah, tidak boleh terdapat kotoran, dan biji kakao harus berukuran besar.

Jika produk yang dikirim tidak memenuhi standar, maka importir di Malaysia akan melakukan pemotongan harga beli kakao.

“Kita dorong kegiatan ekspor dengan melakukan percepatan layanan karantina, sejak pengajuan permohonan hingga penerbitan sertifikat kesehatan di setiap wilayah kerja. Saya berharap akan muncul eksportir-eksportir baru di Sebatik karena melihat meningkatnya ekspor produk pertanian tiga bulan terakhir meskipun sedang pandemi Covid-19,” harapnya.

Ia juga berharap, semua produk yang akan diekspor diupayakan telah diolah untuk menaikkan harga jual agar pendapatan petani meningkat dan sejahtera.

Ia juga menambahkan, untuk pengiriman kelapa melalui jalur Tawau, Malaysia tidak terjadi setiap hari. Namun, pengiriman tetap rutin sesuai permintaan buyer dan terhenti karena Covid-19. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah