Headline

Ekspor di Awal Tahun Masih Lesu

Tampak lokasi pengiriman komoditi ke luar negeri di Pelabuhan Malundung Taraka. (Foto : Dok/Koran Kaltara)
  • Kinerja Kaltara Januari 2021 Negatif 7,24 Persen

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kinerja ekspor Kalimantan Utara melalui pelabuhan di dalam dan luar daerah, tercatat melemah di awal tahun 2021 atau pada bulan Januari 2021. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara awal bulan ini, ekspor Kaltara melalui pelabuhan dalam daerah, tercatat sebesar USD79,32 juta pada Januari 2021. Nilai ini setara dengan Rp1,13 triliun (Mengacu Kurs Tengah BI 5/3 : Rp14.335).

Jika dibandingkan secara year on year, atau dengan Januari tahun 2020, ekspor Kaltara mengalami penurunan 7,24 persen. Sedangkan, jika dibandingkan bulan Desember 2020, terjadi penurunan lebih dalam hingga 10,36 persen.

“Berdasarkan data yang diperoleh dari Bea Cukai, pada Bulan Januari 2021, nilai komoditi ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Utara adalah USD79,32 juta, atau terjadi penurunan 10,36 persen dibandingkan Desember. Adapun, jika dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya, terjadi penurunan 7,24 persen,” kata Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Kaltara, Panca Oktianti.

Secara year on year, dua dari tiga kelompok ekspor mengalami penurunan. Yaitu hasil tambang yang turun 8,97 persen dan hasil pertanian sebesar 5,22 persen. Sementara, pada kelompok hasil industri, mampu tumbuh positif 7,97 persen. Atau dari USD8,05 juta (Rp115,39 miliar) menjadi USD8,69 juta (Rp124,57 miliar).

Namun, jika dibandingkan bulan Desember 2020, hasil industri justru menjadi satu-satunya kelompok ekspor yang mengalami penurunan cukup dalam. Yaitu hingga 67 persen. “Apabila dibandingkan Desember 2020, penurunan di hasil industri utamanya karena ekspor rokok menurun. Kemudian juga kayu atau plywood dan CPO (Crude Palm Oil) trennya juga sama,” paparnya.

Sementara itu, kinerja ekspor Kaltara Januari 2021 yang dikirim melalui pelabuhan luar daerah, diketahui juga turun cukup tajam jika dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan mencapai 24,83 persen. Kondisi serupa juga terjadi jika dibandingkan bulan Desember 2020. Yaitu menurun 8,78 persen.

“Komoditi kita yang diekspor melalui pelabuhan luar daerah didominasi rumput laut dan hasil perikanan. Pada Januari hingga 2021, nilainya tercatat sebesar USD10,07 juta (Rp144,35 miliar). Jika dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, atau dengan bulan sebelumnya (Desember 2020), sama–sama mengalami penurunan,” ungkap Panca.

Lanjut dia, ada tiga daerah yang menjadi lokasi ekspor komoditi asal Kaltara. Yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. “Paling besar di Jawa Timur, Jakarta dan Sulawesi Selatan. Kalau yang melalui pelabuhan di Kaltim, kecil nilainya,” jelas Panca.

Menilik kontributor kinerja ekspor Kaltara. BPS mencatat, masih didominasi hasil tambang, khususnya dari komoditi batu bara. Kelompok ini membentuk 85,48 persen ekspor daerah. Kemudian disusul hasil industri dengan kontribusi 10,96 persen dan hasil pertanian sebesar 3,57 persen.

Lebih detail soal komoditas, selain batu bara, ekspor Kaltara juga berasal dari rokok, kayu dan barang dari kayu, CPO, ikan dan krustasea. “Kalau bicara komoditi apa saja, memang masih didominasi batu bara sebagai komoditi utama,” jelasnya.

Mengenai negara tujuan ekspor Kaltara, BPS menempatkan China di posisi nomor satu dengan nominal USD44,96 juta (Rp644,50 miliar). Kemudian disusul dengan Malaysia sebesar USD10,30 juta (Rp147,65 miliar), Filiphina sebesar USD5,85 juta (Rp83,85 miliar) dan negara lainnya di bawah USD5 juta (Rp71,67 miliar).

“Ekspor Kaltara ke China untuk komoditi batu bara. Kemudian ke Malaysia: batu bara, CPO, hasil kepiting, ikan dan udang. Lalu, ke Filiphina masih dari rokok yang sebenarnya di-reekspor dari Singapura. Dimana terjadi pengemasan di Kaltara sebelum dikirim ke Filiphina,” ulas Panca.

“Sedangkan untuk negara tujuan ekspor lainnya di Januari 2021, terdiri dari India, Jepang, Thailand dan Selandia Baru. Semuanya dari komoditi batu bara,” pungkasnya.

Dari Dampak Pandemi sampai Kampanye Energi Hijau

Sejumlah faktor umum melatarbelakangi penurunan kinerja ekspor Kalimantan Utara, baik sepanjang tahun 2020 lalu hingga memasuki awal tahun 2021. Berdasarkan catatan Koran Kaltara, kinerja ekspor melalui pelabuhan dalam daerah turun sampai 12,80 persen.

Kondisi ini dipengaruhi kontraksi negatif pada kelompok hasil tambang sebesar 16,39 persen. Kemudian ditambah tren serupa di kelompok hasil pertanian sebesar 2,10 persen. Adapun, tren ekspor di kelompok hasil industri yang mampu tumbuh 13,80 persen, menjadi penahan turunnya persentase ekspor Kaltara lebih dalam.

Pada kelompok hasil tambang, setidaknya ada tiga faktor yang melatarbelakangi penurunan ekspor. Pertama, dampak pandemi Covid-19. Selama pandemi berlangsung, diketahui terjadi resesi atau perlambatan ekonomi sebagai imbas penyebaran virus dan pembatasan aktivitas masyarakat.

Kondisi tersebut, berdampak pada penghentian sementara kegiatan industri. Sebagaimana diketahui, sebagian besar industri tersebut, masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi listrik mereka.

Dengan begitu, otomatis terjadi penurunan permintaan komoditi ini di pasar global. Khususnya dari sejumlah mitra dagang utama Kaltara. Seperti China dan India.

Turunnya permintaan berpengaruh terhadap koreksi harga hingga ke Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan pemerintah pusat. Pada akhirnya, sejumlah perusahaan tambang lebih memilih menghentikan sementara aktivitas penjualan mereka.

Faktor kedua, kebijakan pembatasan impor batubara dari negara mitra dagang utama Kaltara. Secara umum, di tengah penurunan konsumsi listrik industri yang bersumber dari batu bara, otoritas Tiongkok dan India juga mengeluarkan kebijakan pembatasan impor dan peningkatan produksi batu bara domestik. Hal tersebut menambah intervensi negatif pengiriman batu bara dari Kaltara.

Faktor ketiga, kampanye global energi hijau yang mendorong negara–negara meninggalkan batu bara sebagai sumber energi listrik mereka. Kendati belum berdampak masif, kampanye tersebut berpotensi membuat kinerja ekspor tambang Kaltara anjlok dalam jangka waktu panjang.

Selanjutnya, pada kelompok hasil industri, Kaltara sebenarnya diuntungkan dengan kegiatan reekspor tembakau dipabrikasi. Yaitu pengemasan ulang rokok yang berasal dari Singapura untuk dikirim ke Filiphina.

Pada tahun 2020, kontribusi komoditi ini bahkan terbesar kedua setelah batu bara. Sehingga mampu mengalahkan komoditi utama lain. Seperti salah satunya Crude Palm Oil (CPO) yang terbentur penurunan harga di pasar global dan kampanye hitam penggunaan produk turunan komoditi ini.

Terakhir, pada kelompok hasil pertanian, pandemi covid-19 berdampak pada penurunan permintaan komoditi di berbagai subsektor. Mulai dari kepiting, udang, hasil hutan berupa kayu dan non kayu hingga lainnya.

Tidak hanya berpengaruh di kinerja ekspor, penurunan permintaan juga berdampak pada anjloknya harga jual di tingkat petani hingga petambak.(*)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Nurul Lamunsari

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah