Ekonomi Bisnis

DPKP Kaltara Monitoring Nursery Tanaman Perkebunan di Malinau

Monitoring nursery tanaman perkebunan Malinau. (Foto: Agung)

MALINAU, Koran Kaltara – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Utara, melakukan monitoring pembangunan lanjutan nursery (tempat persemaian) Tanaman Perkebunan di Kabupaten Malinau, Sabtu (19/6/2021).

Kepala DPKP Kaltara, Wahyuni Nuzband menjelaskan, nursery tanaman perkebunan di Kabupaten Malinau dibangun Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan yang memiliki wilayah kerja hingga Kaltara. Luas lahan di sana mencapai 2,1 hektare.

Proses pembangunan dilakukan mulai tahun 2019. Namun sempat terhenti di tahun 2020 karena adanya kebijakan refocussing anggaran untuk penanganan Covid-19. Kemudian pembangunan kembali dilakukan tahun 2021 ini.

“Setelah monitoring hari ini, ke depan kita akan koordinasi dengan pelaksana kegiatan tersebut, yaitu Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan,” kata Wahyuni.

Ia menjelaskan, keberadaan nursery diarahkan untuk mempersiapkan ketersediaan benih tanaman perkebunan di Provinsi Kaltara.

“Jadi komoditi-komoditi lokal dan unggulan nasional yang sudah ditetapkan, nanti mudah-mudahan bisa tersedia di nursery ini,” ujarnya.

Secara teknis, Kepala Seksi Pembenihan dan Perlindungan Perkebunan DPKP Kaltara, Pudji Aswan mengatakan, ia mendapat informasi jika ada bantuan 38.500 benih lada dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan tahun ini.

“Informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, bantuan ini dikhususkan untuk di sini (Malinau). Rencananya akan dibagikan ke tujuh kecamatan,” kata Pudji.

Estimasi bantuan tersebut dapat ditanam di lahan seluas 35 hektare atau dengan penghitungan satu hektare membutuhkan 1.100 benih lada.

“Hitung-hitungannya satu pokok (pohon) bisa menghasilkan 2,1 kilogram lada putih per tahun. Jadi ada perkiraan bisa menghasilkan sekitar 2,1 ton per tahun,” paparnya.

Kepala Seksi Produksi Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Suparjono mengatakan, pihaknya akan mengawal penentuan Calon Petani Calon Lahan (CPCL) lebih cepat sehingga bantuan bisa terserap dengan maksimal.

“Harapan ke depan, animo masyarakat bisa lebih semangat dengan bantuan ini. Sehingga selanjutnya bisa membantu perekonomian mereka,” imbuhnya.

Potensi bisnis tanaman lada sendiri disebut sangat menjanjikan. Saat ini 1 kilogram lada putih dibanderol antara Rp48 ribu sampai Rp50 ribu di Malinau.

“Kalau berbicara potensi pasar, sangat bagus untuk lada karena juga termasuk komoditas ekspor,” jelasnya.

Kendati demikian, ia menggarisbawahi jika petani dihadapkan pada persoalan harga yang cenderung fluktuatif. Sehingga,  diharapkan ada perhatian dari jenjang pemerintahan di atasnya.

“Meski bagus, kita punya masalah dengan harga fluktuatif. Tahun lalu itu bisa naik sampai Rp100 ribu, tapi kemudian tiba-tiba drop sampai Rp30 ribu. Jadi perlu campur tangan pemerintah agar harga stabil,” pungkasnya.(*/bis)

Reporter: Agung Riyanto
Editor: Didik