Ruang Publik

Dilema Murid Bekerja

Dini Rosita
  • Oleh: Dini Rosita Sari, S. Pd

MALAM itu pintu rumah kami diketuk. Saya yang kebetulan sedang menemani kedua putra dan putri kami belajar membaca, akhirnya beranjak dari kursi untuk melihat siapa yang datang.

Seraut wajah yang sudah sangat saya kenal seketika muncul saat daun pintu terbuka. Rupanya dia adalah salah satu anak didik saya di sekolah.

Tanpa banyak bicara, kedua tangannya yang tengah menggenggam bungkusan plastik berwarna hitam terulur. “Ini dari Mamak, buat Ibu”, ujarnya.

Setelah menjawab singkat pertanyaan saya terkait persiapannya belajar selama pandemi, dia pun pamit dan naik ke boncengan motor temannya yang telah menunggu di depan pagar.

Beberapa bulan yang lalu, anak yang sama juga mendatangi saya di rumah. Namun kala itu dia ditemani oleh sang ibu. Mereka menyampaikan kendala yang sedang dihadapi si anak terkait pembelajarannya di kelas.

Guru mana pun yang pernah menjadi wali kelas tentu tahu bahwa ini merupakan hal yang wajar. Kita memang mendapat amanah dan tugas mulia untuk menjadi orang tua kedua bagi anak didik di sekolah. Memberikan solusi terhadap permasalahan peserta didik menjadi tanggung jawab kita.

Lantas, saya teringat tentang tulisan si anak saat saya meminta menyampaikan perasaan terdalamnya melalui surat beberapa bulan lalu. Dengan jujur dia menyampaikan bahwa dia tidak memiliki semangat untuk mengikuti pelajaran di sekolah.

Dia lebih tertarik untuk bekerja dan berpikir bagaimana cara agar dapat membuka usaha demi menghasilkan uang yang banyak.

Memang, sejauh pengamatan saya selama di sekolah, anak ini tergolong siswa yang kurang aktif. Enggan terlibat dalam diskusi kelompok, nampak menyendiri, dan sering tertidur saat pembelajaran berlangsung.

Bahkan, saya juga sempat menghakiminya sebagai siswa malas. Satu hal yang saya sesali di kemudian hari. Terlebih ketika saya memahami kesulitan finansial yang dialami oleh keluarganya.

Sebelum pindah dan menetap di Nunukan, belum pernah sekalipun saya menemui anak semacam ini. Mungkin karena ‘main’ saya kurang jauh.

Namun, justru itulah yang membuat pekerjaan sekarang terasa jauh lebih menantang. Saya dihadapkan dengan remaja belasan tahun yang latar belakangnya sangat beragam, baik dari segi agama, sosial, budaya, juga ekonomi.

Siswa tersebut bukanlah satu-satunya. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mengetahui bahwa ada beberapa siswa lain yang juga bersekolah sambil bekerja.

Rupanya, di sini hal tersebut adalah hal yang lumrah. Di pulau kecil ini, kita akan menjumpai beberapa anak bekerja menjadi buruh angkut barang di pelabuhan, menjaga kios kecil di pinggir jalan, menjadi pramusaji di restoran dan kafe atau ikut orangtuanya pergi mabetang (mengikat rumput laut).

Anak-anak ini mungkin merasa kurang terpenuhi keinginannya. Orangtua yang penghasilannya pas-pasan, tentu harus berpikir berulang kali untuk membelikan mereka hal-hal lain di luar kebutuhan pokok.

Maka dari itu, mereka mencoba melihat celah dan peluang. Karena dengan begitu, besar kemungkinan mereka akan mendapatkan hal yang diidamkan, tanpa menunggu lagi bantuan dari orangtua. Dengan kata lain, mereka tak mau sekedar berpangku tangan.

Awalnya saya merasa iba. Anak-anak yang seharusnya fokus mengenyam pendidikan di bangku sekolah itu, ternyata harus membagi waktu dengan membanting tulang.

Wajar saja jika kemudian mereka tidak fokus mengikuti penjelasan guru, lupa mengerjakan tugas, mendapat nilai rendah saat ujian, dan secara umum, tidak tertarik untuk menimba ilmu pengetahuan. Untuk apa repot-repot belajar kalau begini saja sudah dapat menghasilkan uang? Mungkin seperti itu yang ada di benak mereka.

Lalu, saya mencoba melihatnya dari sudut yang berbeda. Alangkah beruntungnya anak-anak tersebut telah memiliki pengalaman lebih awal dari teman sebayanya tentang dunia kerja.

Mereka tengah mengasah keterampilan dan kecakapan hidup di dunia nyata. Berbeda dengan teman-temannya yang masih sibuk menelan teori, anak-anak ini telah menceburkan diri pada proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Mereka berguru langsung pada kehidupan itu sendiri. Pada akhirnya, bukankah sekolah memang hanyalah tempat belajar sementara bagi peserta didik sebelum terjun pada dunia nyata?

Dengan pola pikir yang baru, saya mencoba memahami cerita-cerita di balik pilihan untuk bekerja di usia sekolah itu. Hubungan anak dengan orangtua, kondisi ekonomi keluarga, atau faktor lain seperti gaya hidup.

Cerita siswa yang ada di awal tulisan ini pun tak jauh beda. Mendengarkan cerita yang disampaikan sang ibu tentang bagaimana dia sekuat tenaga mencoba memenuhi kebutuhan hidup, telah menjawab semuanya.

Sayang, ada juga yang melakukannya karena terjebak oleh gaya hidup. Melihat teman-teman lain dapat menghabiskan malam minggu di kafe, memiliki HP dengan tipe terkini, mengenakan busana yang sedang trend dan sebagainya, membuat mereka merasa rendah diri.

Mereka merasa perlu membuktikan ‘sesuatu’ agar dapat diterima dan diakui sebagai bagian dari komunitas. Akhirnya, mereka pun mencari jalan pintas untuk mendapatkan kenikmatan itu dengan cara bekerja.

Selama mereka melakukan pekerjaan halal dan tidak melanggar hukum, sebenarnya bukan menjadi masalah. Yang kita harapkan bersama adalah semoga anak-anak usia remaja tersebut tidak terjerumus pada hal-hal yang justru dapat merusak dan merugikan masa depannya sendiri.

Sebagai seorang guru dan pendidik, saya tidak ingin menghalangi anak-anak itu dalam menjalani kehidupan.

Saya hanya dapat menyampaikan keuntungan dan risiko dari setiap langkah yang mereka ambil. Lantas meninggalkan keputusan itu di tangan mereka masing-masing.

Dengan begitu, semoga mereka dapat lebih bertanggung jawab pada diri sendiri, termasuk saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan kehidupannya kelak.

Anak-anak ini harus belajar menimbang dengan akalnya sendiri segala hal baik dan buruk yang telah disampaikan, agar tumbuh menjadi generasi yang kritis. Bukan robot yang mengekor apa pun kata gurunya karena guru bukanlah Tuhan yang maha tahu segalanya.

Namun, di saat yang sama, siswa yang bekerja itu juga harus dibimbing dalam menyeimbangkan hak dan kewajiban. Bahwa ada tuntutan yang harus mereka tunaikan sebagai siswa itu sudah jelas dan bahwa ada konsekuensi yang akan ditanggung jika melalaikan.

Mereka tidak bisa dengan seenaknya bersembunyi di balik kenyataan bahwa mereka bekerja. Kita sampaikan hal ini dengan penuh keluwesan dan tanpa penghakiman.

Sekali lagi, ada cerita-cerita sedih di balik pilihan tersebut yang dapat kita jadikan bahan pertimbangan.

Menyambut Hari Anak Nasional, mari kita sama-sama belajar menjadi pendidik yang lebih berpihak kepada murid. Bagaimanapun juga, anak-anak itu merupakan individu yang memiliki perasaan dan kemauannya masing-masing.

Mari kita coba lebih banyak mendengar. Persis seperti kata Munif Chatib, “sekolah kita adalah sekolahnya manusia, bukan robot”. Mari bersahabat dengan mereka, jangan sampai kita justru memegang peran antagonis.

Selamat Hari Anak Nasional, siswa-siswiku. Belajarlah dari apapun, termasuk dari kehidupan itu sendiri. (*)

*) Penulis adalah guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah