Malinau

Desa Malinau Kota Miliki Potensi Semangka

Bupati Malinau Yansen TP didampingi Kadis Pertanian Kristian Muned saat meninjau lokasi lahan budidaya semangka dan melon. (foto: istimewa)
MALINAU, Koran Kaltara – Desa Malinau Kota, Kecamatan Malinau Kota dinilai memiliki potensi sebagai sentra lokasi pertanian budidaya buah semangka dan melon. Pasalnya, hasil panen petani bisa mencapai 25 ton per dua bulannya. Lahan budidaya semangka dan melon tersebut merupakan hasil dari Kelompok Tani Duyan Purnama beranggotakan 10 orang seluas 4 hektar. Melihat potensi tersebut,…

MALINAU, Koran Kaltara – Desa Malinau Kota, Kecamatan Malinau Kota dinilai memiliki potensi sebagai sentra lokasi pertanian budidaya buah semangka dan melon. Pasalnya, hasil panen petani bisa mencapai 25 ton per dua bulannya.

Lahan budidaya semangka dan melon tersebut merupakan hasil dari Kelompok Tani Duyan Purnama beranggotakan 10 orang seluas 4 hektar.

Melihat potensi tersebut, Bupati Malinau Yansen TP mengapresiasi budidaya semangka masyarakat Desa Malinau Kota yang dikelola secara swakelola oleh Kelompok Tani Duyan Purnama.

Dia menilai bubidaya semangka sebagai satu salat upaya mendongkrak sektor pertanian di Kabupaten Malinau dan menumbuhkan perekonomian di setiap desa.

“Untuk itu, saya meminta peran Camat dan Kepala Desa mendorong terus para petani untuk menggali potensi di wilayahnya. Saya yakin ekonomi kerakyatan akan timbul di tengah masyarakat,” ungkap Yansen, Rabu (5/12/2018).

Dia menilai, hasil budidaya melon dan semangka dari kelompok tani Duyan Purnama tidak kalah jauh dengan luar daerah. Bahkan, memiliki peluang sangat besar untuk diedarkan secara lokal.

“Karena kalau dilihat,  semangka ini menjadi kebutuhan dan konsumsi bagi masyarakat. Kalau dikembangkan tentu pasarnya ada,” katanya.

Sebab itu, Yansen berharap para petani terus mengembangkan dan membudidayakan semangka dan melon tersebut. Walaupun, buah semangka di Kalimantan Utara masih berasal dari luar daerah.

“Semangka-semangka itu kan datang dari luar, terutama dari Berau. Nah kenapa Berau bisa, kok kita tidak bisa,” ujarnya.

Apalagi menurut dia,  buah semangka dan melon ini tidak pernah hilang dan sering disajikan dalam setiap agenda pemerintahan maupun agenda lainnya.

“Tentu memiliki peluang dan bisa diedarkan ke setiap daerah lokal di Kaltara,” imbuhnya.

Soal harga, Yansen mengembalikan ke petani untuk menghitung jumlah biaya produksinya.  “Jika semangka itu di tanam setiap desa, satu hektar saja, tentu bisa menghasilkan 25 ton,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sulaiman

Editor: Sobirin

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 7 Desember 2018