Headline

Delapan Varian Delta Tersebar di Kaltara

Satgas Covid-19 mengimbau masyarakat lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. (Foto: Rizqy)
  • Warga Diminta Tidak Panik, Dianjurkan Memakai Masker Berlapis

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Salah satu penyebab lonjakan Corona dengan masuknya varian baru, khususnya varian Delta B.1.617.2. Dalam catatan Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dari pekan lalu, jumlah kasus Covid-19 varian Delta 616 kasus, mengalami kenaikan per 16 Juli sebanyak 729 kasus.

Bahkan, penyebaran Covid-19 varian Delta semakin luas. Beberapa daerah seperti Papua, termasuk provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara) terindentifikasi kasus Corona yang pertama kali ditemukan di India itu. Setidaknya, ada delapan kasus dari varian baru yang tersebar di semua kabupaten dan kota di Kaltara.

“Dari 12 spesimen yang telah diperiksa, ditemukan delapan spesimen yang positif Covid-19 dengan varian Delta B.1.617.2. Kedelapan spesimen Delta ini, tersebar di semua kabupaten/kota. Satu di Bulungan, dua di Tarakan, tiga di Tana Tidung, satu di Nunukan, dan satu di Malinau,” ungkap Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kaltara Agust Suwandy, Selasa (20/7/2021).

Dijelaskan, sebelum terdeteksi delapan kasus varian Delta, puluhan spesimen diambil untuk diperiksa. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan lanjutan ke Litbangkes Kemenkes RI. Hal itu merupakan upaya untuk memastikan paparan Virus Corona di Kaltara sudah terdapat varian baru.

“Kami sampaikan bahwa pada tanggal 24 Juni yang lalu kami telah mengirimkan sebanyak 32 spesimen yang diambil dari lima kabupaten dan kota di Kaltara untuk diperiksa varian baru ke Litbangkes Kemenkes RI. Kemarin kami telah menerima hasil pemeriksaan tersebut. Dari 32 spesimen hanya 12 yang baru dilakukan pemeriksaan, sementara 20 lainnya akan dicoba diperiksa lebih lanjut oleh Litbangkes. Hal ini terkait dengan kualitas spesimen yang memungkinkan untuk pemeriksaan WGS,” terangnya.

Terhadap lonjakan kasus yang terjadi, apalagi dengan munculnya varian baru, dimana menurut para ahli lebih kuat penularannya. Masyarakat diminta lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Tentunya dengan penemuan 8 varian baru yang menurut pendapat ahli cenderung lebih kuat penularannya, maka dimungkinkan telah terjadi penyebaran pada kontak erat lainnya. untuk itu atas nama Satgas kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak panik dengan kondisi sekarang ini, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan protokol kesehatan 5 M dengan sebaik baiknya,” ujarnya.

Karena penularan varian Delta lebih mudah menular, penggunaan masker dianjurkan berlapis dua. Ini dinilai supaya mengurangi kemungkinan virus tersebut menular.

“Selalu membiasakan mencuci tangan terutama dengan air mengalir dan sabun, selalu menjaga jarak ketika berinteraksi, menghindari berkumpul dengan banyak orang serta mengurangi mobiltas yang tidak begitu penting. Disamping itu perlu meningkatkan imunitas dengan makan makanan bergizi, suplemen yang diminum harus sesuai kebutuhan dan tetap berolah raga,” imbaunya.

Varian Delta dan Risiko Penularannya

KEMUNCULAN Kasus Covid-19 dengan varian Delta di Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi perhatian pemerintah. Masyarakat diminta lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Bahkan, untuk menghindari penularan, penggunaan masker berlapis dan tidak dilepas saat bertemu siapapun terus disosialisasikan.

Kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara Usman menegaskan, kedisiplinan masyarakat adalah kunci menghindari penularan. Pasalnya, sesuai pendapat para ahli, varian Delta adalah yang paling berbahaya saat ini. Dengan risiko penularan yang lebih cepat dibanding varian dari Wuhan, termasuk varian Alpha dari Inggris dan Beta dari Arfika.

“Tentu masyarakat harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Protokol kesehatan yang 5 M harus benar-benar dilaksanakan. Siapa saja bisa jadi penyintas, apalagi varian Delta ini penularan dan risikonya lebih tinggi,” katanya, kemarin.

Dihimpun Koran Kaltara, sejumlah fakta tentang varian Delta menyebutkan bahwa virus ini memiliki tingkat penularan paling tinggi di dunia saat ini. Dilansir NPR, varian delta 225 persen kali lebih mudah menular daripada strain SARS-CoV-2 asli (Wuhan).

Sebuah studi pracetak baru-baru ini dari China menemukan bahwa orang yang terinfeksi delta memiliki rata-rata sekitar 1.000 kali lebih banyak salinan virus di saluran pernapasan mereka daripada mereka yang terinfeksi dengan jenis aslinya, dan menular lebih awal dalam perjalanan penyakit mereka.

Varian Delta bahkan bisa menularkan orang yang sudah disuntik vaksin. Namun, disebutkan, dengan vaksinasi dapat mengurangi risiko penyakit serius yang menyebabkan rawat inap atau kematian. Sebuah studi dari Inggris menemukan bahwa vaksin Pfizer dua dosis 96 persen efektif mencegah seseorang melakukan rawat inap saat terinfeksi varian Delta.

Seorang ahli virologi bernama Angela Rasmussen yang bekerja di Vaccine and Infectious Disease Organization, Universitas Saskatchewan di Kanada. Dia mengatakan, meski risiko sakit jika sudah divaksinasi sangat rendah, saat mendapatkan kasus yang bergejala, kemungkinan masih mungkin berakhir dengan gejala long Covid.

“Bahkan jika Anda tidak berakhir di rumah sakit, pasti ada kemungkinan Anda bisa mengalami long Covid. Jadi, hal yang paling aman untuk dilakukan adalah menghindari terinfeksi,” katanya dikutip pada media kompas. (*)

Reporter: Fathu Rizqil Mufid
Editor: Nurul Lamunsari