Ekonomi Bisnis

Covid Melandai, Belanja Sandang Pangan di Tarakan Meningkat

Salah satu pedagang ayam di Tarakan. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Pertumbuhan ekonomi di awal pandemi, tahun lalu mengalami penurunan drastis terutama saat Ramadan dan Idulfitri. Terlebih lagi, tahun lalu sejumlah daerah yang masuk dalam zona merah memberlakukan lockdown, termasuk di Tarakan.

Tahun ini, perekonomian sudah mulai menggeliat naik. Bahkan, di awal Ramadan sudah terlihat kenaikan belanja untuk sandang dan pangan di sejumlah tempat perbelanjaan. Tarakan paling terlihat kenaikan ini, jumlah penduduk paling padat dengan pusat perbelanjaan terbesar di Kaltara.

Salah satu pedagang ayam potong di Pasar Gusher, Alpian menuturkan, jumlah pembelinya jauh meningkat dibandingkan tahun lalu. Meski, ia mengaku jumlahnya masih di bawah sebelum pandemi Covid-19.

“Kemarin (H-2 Idulfitri) kami bahkan sampai menjual 1.050 ekor sehari itu saja. Hari ini (12/5/2021), jumlahnya lebih banyak, omzet meningkat. Tapi kami masih melayani pembeli sampai sore, jadi belum tahu berapa naiknya,” tuturnya.

Alpian mengungkapkan, peningkatan jumlah pembeli sudah dirasakannya sejak sepekan terakhir. Sejalan dengan permintaan ayam yang meningkat, untuk stok juga ready dan diperkirakan cukup.

“Kami jual ayam potong Rp45 ribu sekilo (per kg), sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) dari pemerintah. Kalau normalnya tergantung juga, bisa Rp35 ribu. Tapi, harganya sudah naik sejak pertengahan Ramadan,” ungkapnya.

Sementara itu, Samsul pedagang baju di kompleks pertokoan THM juga mengakui pendapatannya meningkat tahun ini.

“Kalau tahun lalu, pernah berhari-hari tidak ada pembeli, padahal sudah semingguan sebelum Lebaran. Tahun ini, dari awal Ramadan sudah banyak pembeli. Semalam saja kami sampai kewalahan layani pembeli,” imbuhnya.

Di kios miliknya ini, Samsul menjual berbagai pakaian pria dan wanita. Meski banyak pembelinya, ia mengaku tidak mempersiapkan stok pakaian yang banyak seperti di tahun sebelum pandemi. Ia khawatir seperti tahun lalu, modalnya sulit kembali karena pembelinya yang sedikit.

“Kami minta juga pembelinya harus pakai masker, ya sesuai protokol kesehatan lah. Kami bersyukur banyak sekali, pembeli yang datang ke kios meningkat signifikan. Tapi, jangan sampai habis lebaran, Covid malah banyak, usaha kami bisa-bisa rugi, atau sampai gulung tikar,” katanya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Didik