Hukum Kriminal

Cari Ikan Gunakan Bom, Tiga WNA Malaysia Segera Proses Sidang

Penangkapan tiga WNA asal Malaysia di Ambalat. (Foto: Ist/Dok)

TARAKAN, Koran Kaltara – Tim Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan mendapati masih adanya aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom di perairan Ambalat, Kabupaten Nunukan.

Salah satunya kasus yang melibatkan tiga orang warga negara asing (WNA) asal Malaysia. Kasus ini sudah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Nunukan.

Kepala PSDKP Tarakan, Johanis Johniforus Medea mengatakan, pihaknya melakukan penyidikan kegiatan penangkapan ikan yang merusak ekosistem laut. Di antaranya dengan menggunakan alat tangkap bom ikan yang dilakukan warga Malaysia.

“Kami turun lapangan dan menemukan indikasi bom ikan ini. Alat bukti yang ada berupa detonator yang merupakan alat picu peledak. Kami proses, dan pada 9 Juni lalu sudah kami masukkan berkas ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Nunukan. Sudah dinyatakan P21 dan akan kami komunikasikan lagi dengan Kejari Nunukan untuk pelaksanaan tahap 2,” ujarnya, Kamis (16/6/2022).

Pengungkapan nelayan yang masih menggunakan bom ikan ini berkat kerja sama tim di lapangan yang bertugas melakukan pengawasan di wilayah kerja Nunukan.

Ada tiga tersangka dalam kasus ini: JN sebagai nakhoda kapal, kemudian PR dan MZ . Peran ketiganya sama, melakukan penangkapan ikan menggunakan bom ikan.

Ada yang melempar, merakit hingga mengumpulkan hasil ikan yang sudah mati.

Semua tersangka ini, kata dia, terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan, dengan peran masing-masing.

Sehingga, berdasarkan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) yang dilakukan dan fakta di lapangan, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami sangkakan Pasal 84 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana diubah Undang-Undang No. 45 Tahun 2009. Ancaman pidananya 6 tahun penjara,” tegas Johanis.

Ketiganya tertangkap di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Dalam proses hukum, ketiganya tidak ditahan, namun dan dititipkan sementara di satuan pengawas (Satwas).

“Karena kalau kami tangkap, sesuai aturan Undang-Undang tentang Perikanan, dalam kegiatan penangkapan ikan di ZEE itu tidak dapat dilakukan kurungan badan. Jadi, mungkin kita lihat lagi nanti putusan di Pengadilan. Dari tuntutan JPU, putusan di Pengadilan seperti apa,” katanya.

Pihaknya nanti akan melakukan koordinasi dengan otoritas terkait di Malaysia. Termasuk klarifikasi dan menyampaikan notifikasi kepada pihak Malaysia.

“Mereka harus mengetahui hal itu (WNA Malaysia diproses pidana di Indonesia), apalagi terkait WNA tentunya. Kami akan komunikasi langsung dan melalui pemerintah pusat, Kementerian Kelautan dan Perikanan maupun Dirjen PSDKP untuk disampaikan ke Kementerian Luar Negeri dan menyampaikan ke Kedutaan Besar mereka,” tandasnya.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran, Hamzah Kharisma menambahkan, ketiga tersangka berangkat dari salah satu wilayah di Semporna, Malaysia.

Mereka melakukan penangkapan ikan dengan bom di perairan Ambalat. Dekatnya jarak Semporna dengan wilayah Indonesia membuat para nelayan Malaysia melakukan kegiatan penangkapan ikan di ZEE.

“Saat berangkat, para tersangka membawa dua botol berisi bahan bom menggunakan kapal 1 GT. Pagi hari, sudah diledakkan satu bom. Tapi, ternyata ikannya tidak ada. Selanjutnya ketiga tersangka dijemput dibawa ke Semporna dan sisa satunya saat mau diledakkan, kami tangkap,” ungkapnya. (*)

BERITA TERKAIT:

Reporter: Sahida
Editor: Nurul Lamunsari

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment